Tugumalang.id – Di era digital seperti sekarang ini, doomscrolling menjadi kebiasaan yang sulit dihindari. Banyak orang tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk scrolling sosial media tanpa tujuan yang jelas. Aktivitas ini memang terasa menghibur, tetapi tidak memberikan manfaat yang berarti bagi pikiran.
Dalam salah satu videonya di kanal YouTube, Sabrina Anggraini menjelaskan bahwa perkembangan teknologi seperti AI membuat banyak orang terbiasa mendapatkan jawaban secara instan.
Akibatnya, kemampuan berpikir kritis perlahan menurun karena jarang dilatih. Hal ini sering disebut sebagai brain rot, yaitu kondisi ketika pikiran terasa penuh tetapi dangkal.
Baca Juga: Kuasai Pasar Digital, Rengginang Kencana di Sumberpucung Terima Ratusan Pesanan Sehari
Berikut 7 kebiasaan simpel yang bisa dilakukan untuk mengurangi doomscrolling dan mencegah brain rot ala Sabrina Anggraini:
1. Menulis Panjang sebagai Thinking Workout
Menulis dapat membantu seseorang untuk menyusun pikiran secara runtut dan memahami apa yang sebenarnya dipikirkan. Aktivitas ini tidak perlu ditujukan untuk publikasi, melainkan untuk konsumsi pribadi.
Seseorang bisa menulis tentang pengalaman sehari-hari, opini, atau refleksi terhadap suatu kejadian. Dengan menulis, kita dipaksa untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengolahnya.
Proses ini membantu apakah kita benar-benar memahami suatu hal atau hanya merasa paham. Selain itu, menulis juga melatih kemampuan menyusun argumen dan alur berpikir.
2. Mengganti Platform Scrolling
Kebiasaan kedua adalah mengganti platform konsumsi konten dengan yang lebih berkualitas. Daripada menghabiskan waktu di media sosial seperti Instagram atau video-video pendek, kamu bisa beralih ke platform yang lebih menyajikan tulisan panjang seperti Subtack, Medium, dll.
Dengan membaca tulisan panjang, otak dilatih untuk memahami konteks dan alur secara menyeluruh.
Proses ini membantu meningkatkan daya fokus yang sering menurun akibat doomscrolling. Selain itu, kualitas informasi yang diperoleh juga biasanya lebih mendalam.
3. Menulis dengan Tangan
Di era sekarang, hampir semua aktivitas dilakukan secara digital sehingga menulis tangan mulai ditinggalkan. Padahal, aktivitas ini memiliki dampak positif bagi cara kerja otak.
Baca Juga: 5 Tren Digital Marketing Terbaru yang Wajib Dicoba Pelaku Usaha
Sabrina menjelaskan bahwa menulis secara manual membuat proses berpikir menjadi lebih lambat dan reflektif. Hal ini memberi waktu bagi otak untuk benar-benar memahami apa yang sedang dipikirkan.
Selain itu, menulis tangan juga membantu meningkatkan daya ingat terhadap informasi. Kebiasaan sederhana ini bisa membantu melatih fokus dan kesadaran dalam berpikir.
4. Melakukan Hobi Fisik
Kebiasaan keempat adalah melakukan hobi fisik yang melibatkan tangan atau sering disebut sebagai “grandma hobbies”. Aktivitas seperti menggambar, melukis, merajut, atau membuat kerajinan dapat membantu seseorang lebih fokus.
Hal ini membuat pikiran menjadi lebih tenang dan tidak mudah terdistraksi. Selain itu, hasil dari aktivitas tersebut dapat dilihat dan dirasakan secara langsung.
Pengalaman ini memberikan kepuasan yang berbeda dibandingkan sekadar melihat layar. Hobi fisik juga membantu mengurangi ketergantungan pada gadget.
5. Membaca Buku Fiksi dan Nonfiksi Secara Bersamaan
Banyak orang biasanya lebih memilih untuk membaca buku nonfiksi karena dianggap lebih bermanfaat. Padahal, buku fiksi juga dapat membantu melatih otak karena dapat membantu meningkatkan imajinasi dan memahami emosi karakter di dalam buku.
Dengan mengombinasikan keduanya, seseorang mendapatkan keseimbangan antara logika dan kreativitas. Selain itu, membaca dua jenis buku juga membuat aktivitas membaca tidak mudah membosankan.
6. Membaca dengan Tujuan
Banyak orang merasa bosan membaca karena tidak memiliki arah yang spesifik. Membaca tanpa tujuan membuat informasi mudah dilupakan.
Sabrina menjelaskan bahwa dengan menentukan pertanyaan sebelum membaca, proses membaca menjadi lebih terarah. Seseorang dapat fokus pada bagian yang benar-benar relevan.
Selain itu, penting juga untuk merangkum atau menuliskan kembali isi bacaan dengan kata-kata sendiri. Proses ini dapat membantu memperkuat pemahaman.
7. Mengolah dan Menyusun Ulang Informasi
Kebiasaan ketujuh adalah mengolah informasi yang sudah dikumpulkan, bukan hanya menyimpannya. Banyak orang sering menyimpan konten menarik melalui fitur bookmark, tetapi jarang membukanya kembali. Akibatnya, informasi tersebut tidak benar-benar dimanfaatkan.
Mengolah informasi berarti mencoba memahami, mengelompokkan, dan memberi konteks pada apa yang disimpan. Proses ini membantu memperkuat pemahaman terhadap informasi tersebut.
Doomscrolling memang menjadi tantangan besar di era digital. Kebiasaan ini tidak hanya menghabiskan waktu, tetapi juga memengaruhi kualitas berpikir seseorang. Karena itu, penting untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengolahnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Intan Adelia/ Magang
Editor: Herlianto. A


















