MALANG, Tugumalang.id – Berawal dari kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), Batik Seng yang berlokasi di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang berkembang menjadi unit usaha yang bisa menjangkau pasar nasional.
Penanggung jawab Batik Seng, Evi Wahyu Astutik, menceritakan bahwa usaha ini dirintis sejak 2014 melalui program CSR dari PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Brantas yang saat itu bernama PJB Brantas.
“Kegiatan CSR itu memberdayakan ibu-ibu PKK dan wali santri sekitar sini,” ujar Evi.
Dirintis oleh Ibu-ibu Hebat
Pelatihan membatik yang digelar PJB Brantas menyasar ibu-ibu PKK yang tinggal di sekitar Bendungan Sengguruh. Selain ibu-ibu PKK, peserta juga diisi oleh ibu-ibu wali santri yang anaknya bersekolah di madrasah.
Baca Juga: Selamat! Wartawan Tugujatim.id Dwi Lindawati Terpilih Sebagai Journalism Fellowship on CSR 2025 Batch II
Menurut Evi, pemilihan batik sebagai fokus pemberdayaan bukan tanpa alasan. Di Desa Sengguruh sendiri sudah ada embrio keterampilan membatik yang dimiliki oleh ibu-ibu PKK.

“Sebenarnya sudah ada dasar membatik dari ibu-ibu PKK di sini. Dari situ kemudian kami lanjutkan dengan mengajukan program CSR dan mengajak ibu-ibu wali santri untuk ikut,” jelasnya.
Sebanyak 50 peserta mengikuti pelatihan ini secara bersama-sama. Namun, hanya lima orang yang bertahan dan gigih merintis Batik Seng hingga sebelum pandemi COVID-19. Kini, jumlah tim Batik Seng telah berkembang hingga 23 orang.
“Tim kami sekarang tidak hanya terdiri dari perajin batik, tapi juga admin media sosial, marketing, dan sebagainya,” ujar Evi.
Berlatih hingga ke Jogja dan Pekalongan
Program CSR yang menjadi fondasi awal berdirinya Batik Seng tak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga bantuan bahan baku. Evi menyebut, perkembangan usaha ini berjalan seperti “efek bola salju” yang terus membesar.
Baca Juga: Jelang Lebaran, Perajin Batik di Kepanjen Banjir Pesanan
“Kami juga diberikan bantuan untuk beli bahan kain. Produk yang kami hasilkan bisa kami jual dan dari penjualan itu kami putar lagi untuk beli bahan dan peralatan,” jelasnya.
Untuk meningkatkan kualitas, para perajin Batik Seng tidak hanya belajar di Malang. Mereka juga sempat menjalani pelatihan dan magang di sentra batik ternama seperti Pekalongan, Yogyakarta, dan Bantul.
“Awalnya kami belajar di perajin batik senior di Malang, tapi kemudian merasa butuh pengalaman baru, akhirnya kami dikirim magang ke Pekalongan, Jogja, dan Bantul,” tambah Evi.
Motif Khas Eceng Gondok
Layaknya perajin batik lainnya, Batik Seng juga memiliki motif khas, yaitu eceng gondok yang disingkat egon. Menurut Evi, motif ini dipilih karena eceng gondok mudah ditemukan di Desa Sengguruh.
“Motif eceng gondok ini sudah kami daftrakan hak patennya,” ujar Evi.
Eceng gondok ini dikreasikan menjadi beragam motif, seperti egon menari, egon komet, egon sinaran, dan lain-lain. Tentunya Batik Seng juga bisa mengerjakan motif-motif lain sesuai pesanan pelanggan.
“Misalnya pesanan dari Kota Malang biasanya minta motif topeng, ada yang minta motif Garudeya. Macam-macam permintaanya, tergantung kebutuhan,” kata Evi.
Manfaatkan Platform Digital
Meski berbasis di desa, pemasaran Batik Seng telah merambah platform digital. Konsumen datang tidak hanya dari wilayah Kabupaten Malang, tetapi juga dari berbagai kota di seluruh Indonesia melalui media sosial dan e-commerce.
“Sekarang orang-orang dari Kota Malang juga pesan di kami. Mereka lihat dari Instagram, website, atau e-commerce,” ujarnya.
Dalam proses produksi, Batik Seng mampu menghasilkan 30 hingga 50 lembar kain per hari untuk pewarnaan dasar dalam kondisi normal. Namun, di saat hujan, produksi menurun menjadi 20 lembar per hari.
Dari sisi harga, setiap lembar kain yang diproduksi Batik Seng dibanderol mulai Rp150.000 dengan ukuran standar 2,25 x 1,52 meter. Pembeli dapat melakukan pemesanan khusus hingga panjang maksimal tiga meter.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Herlianto. A


















