Kota Batu, Tugumalang.id – Pemerintah Kota Batu di era kepemimpinan Wali Kota Batu Nurochman dan Wakil Wali Kota Heli Suyanto terus mencari langkah strategis untuk mengembalikan kejayaan apel sebagai identitas Kota Batu. Salah satu upaya yang mulai dirancang adalah pengembangan konsep integrated farming sebagai solusi pertanian berkelanjutan.
Sejauh ini, Pemkot Batu telah menyiapkan lahan hutan di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, sebagai kawasan pengembangan Integrated Farming Apel. Program ini dirancang tidak hanya untuk menghidupkan kembali komoditas apel, tetapi juga menjaga kelestarian kawasan hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Dengan pengembangan kawasan tersebut, pemerintah ingin memastikan fungsi ekologis hutan tetap terjaga, namun di saat yang sama memberikan ruang bagi petani untuk meningkatkan pendapatan melalui sistem pertanian terpadu.
Kawasan Integrated Farming untuk Hidupkan Kembali Apel Batu
Wali Kota Batu Nurochman menjelaskan, kawasan Integrated Farming Apel dirancang untuk mengembalikan kejayaan apel Batu sekaligus membangun ekosistem pertanian yang lebih kuat dan berkelanjutan. Dalam program ini, pemerintah menyiapkan dukungan berupa penyediaan bibit apel unggul, perbaikan sarana prasarana pertanian, hingga penguatan sistem budidaya yang lebih ramah lingkungan.
“Kami ingin petani tidak hanya menanam, tetapi memiliki ekosistem yang mandiri dari hulu sampai hilir. Hutan tetap terjaga sebagai daerah tangkapan air, sementara petani juga mendapatkan manfaat ekonomis dari sana,” ujar Cak Nur, sapaan akrabnya, Senin (13/4/2026).

Baca juga: Liburan Seru di Kota Batu, Nikmati Petik Apel Langsung di Green Garden
Menurut Cak Nur, konsep integrated farming merupakan sistem pertanian yang menggabungkan berbagai kegiatan usaha dalam satu ekosistem yang saling mendukung. Dengan konsep tersebut, masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar hutan diharapkan tetap memiliki sumber penghasilan yang layak tanpa mengganggu fungsi lingkungan.
“Kita tidak bisa bicara menjaga alam saja kalau urusan perut masyarakat tidak terpikirkan. Karena itu program ini dirancang agar kesejahteraan petani dan fungsi ekologi berjalan beriringan,” ujarnya.
Skema 60 Persen Ekonomi dan 40 Persen Konservasi
Ia menjelaskan, skema yang disiapkan mengusung pendekatan keseimbangan antara ekonomi dan konservasi. Sekitar 60 persen fokus program diarahkan untuk penguatan ekonomi masyarakat, sementara 40 persen lainnya difokuskan untuk menjaga fungsi ekologis hutan secara murni.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap kawasan hutan tetap terjaga sekaligus mampu mengurangi risiko bencana lingkungan.
Baca juga: Optimisme Kejayaan Petani Apel Kota Batu Mulai Kembali Terlihat
“Kalau ekosistemnya sehat, saat hujan tidak banjir dan saat kemarau tidak terjadi kebakaran,” tambahnya.
Melalui pengembangan integrated farming ini, Pemkot Batu berharap ekosistem apel kembali bangkit, kawasan hutan tetap terjaga, serta ketahanan pangan daerah semakin kuat.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko
























