Malang, Tugumalang.id-Konseling sebaya menjadi salah satu pendekatan penting dalam menjaga kesehatan mental remaja yang semakin mendapat perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah berbagai tekanan sosial, akademik, dan lingkungan, tidak sedikit remaja yang kesulitan menemukan ruang aman untuk bercerita. Akibatnya, banyak dari mereka memilih memendam masalah yang dihadapi daripada mencari bantuan.
Pendekatan konseling sebaya atau peer counselling kemudian hadir sebagai alternatif yang lebih dekat dengan kehidupan remaja. Melalui pendekatan ini, remaja didorong untuk saling mendukung dan menjadi ruang berbagi satu sama lain. Kedekatan usia dan pengalaman membuat remaja cenderung lebih terbuka saat bercerita kepada teman sebaya dibandingkan kepada orang dewasa.
Hal tersebut disampaikan Direktur RUMPUN Indonesia, Nila Wardani, saat memaparkan laporan kegiatan dalam acara pembekalan dan wisuda Peer Buddy yang digelar di MCC Malang, Sabtu (4/4/2026). Ia menjelaskan, program pelatihan konseling sebaya telah melibatkan puluhan remaja perempuan dari tiga sekolah dan satu desa dampingan.
“Sekitar 60 remaja telah dilatih sebagai konselor sebaya dan kini sudah menjangkau lebih dari 80 remaja lainnya melalui dukungan emosional,” ungkapnya.
Baca juga: Tim Dosen Prodi Profesi Bidan FK Unair Dampingi Kader Sebaya, Edukasikan Pencegahan Anemia di Kota Malang
Konseling Sebaya Bantu Deteksi Dini Permasalahan Remaja
Program ini berfokus pada penguatan kesehatan mental remaja di lingkungan sekolah, khususnya terkait kasus kekerasan berbasis gender. Remaja tingkat SMP dilatih untuk memahami kesehatan mental sekaligus dibekali kemampuan dasar untuk menjadi tempat curhat bagi teman sebaya. Pendekatan ini diharapkan mampu membantu mendeteksi permasalahan sejak dini sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih kompleks.
“Rumpun dalam satu sekolah melatih sekitar 15 sampai 20 remaja untuk membantu peran guru bimbingan dan konseling,” ujar Nila Wardani.
Ia menjelaskan, para konselor sebaya dilatih untuk memiliki empati dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Mereka dibekali pemahaman tentang cara mendengarkan secara aktif, menjaga kerahasiaan, serta menggunakan bahasa yang tepat saat berinteraksi dengan teman sebaya. Dalam praktiknya, konseling tidak harus dilakukan di ruang formal seperti sekolah, tetapi dapat berlangsung di tempat yang lebih nyaman bagi konseli.
Kedekatan Usia Membuat Remaja Lebih Terbuka
Menurut Nila Wardani, pendekatan konseling sebaya dinilai efektif karena remaja cenderung lebih nyaman berbicara dengan teman seusianya. Hubungan yang setara membuat mereka tidak merasa dihakimi dan lebih terbuka dalam menyampaikan kondisi emosional maupun permasalahan pribadi.
Dalam banyak kasus, teman sebaya justru menjadi orang pertama yang mengetahui kondisi emosional seseorang sebelum akhirnya mencari bantuan lebih lanjut. Dibandingkan dengan pendekatan konseling formal oleh guru atau tenaga profesional, konseling sebaya dinilai lebih mudah diterima karena komunikasi berlangsung lebih santai dan tidak mengintimidasi.
Selain itu, konselor sebaya juga diajarkan untuk mencatat kronologi permasalahan dengan tetap menjaga privasi, seperti menggunakan inisial serta meminta persetujuan dari pihak yang bercerita. Hal ini menjadi bagian dari pembelajaran etika dalam menjalankan peran sebagai konselor sebaya.
Baca juga: 5 Serial Netflix tentang Pembullyan dengan Cerita Emosional dan Konflik Remaja
Remaja Mulai Aktif Terlibat dalam Pencegahan Kasus
Peran konselor sebaya kini mulai diterapkan secara lebih luas di lingkungan sekolah. Remaja yang terlibat dalam program ini bekerja sama dengan guru bimbingan dan konseling untuk membantu mengenali masalah sejak dini. Mereka juga berperan dalam menyusun langkah pencegahan dan penanganan kasus yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.
“Di tingkat sekolah, remaja mulai terlibat dalam diskusi dengan guru bimbingan dan konseling untuk deteksi dini ragam kasus,” ujar Nila Wardani.
Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa remaja tidak hanya menjadi penerima program, tetapi juga mulai aktif berperan dalam mengenali dan merespons berbagai permasalahan di lingkungan sekolah sejak awal.
Konseling sebaya menjadi salah satu pendekatan yang dinilai efektif dalam menjangkau kesehatan mental remaja. Dengan kedekatan antar teman, remaja memiliki ruang yang lebih nyaman untuk berbagi sekaligus saling mendukung.
Ke depan, upaya seperti ini perlu terus mendapat dukungan dari berbagai pihak. Dengan dukungan yang berkelanjutan, remaja tidak hanya memiliki tempat untuk bercerita, tetapi juga dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih peduli terhadap kesehatan mental dirinya dan lingkungan sekitar.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Intan Adelia/ Magang
redaktur: jatmiko


















