Malang, Tugumalang.id – Pernah merasa tertinggal saat melihat unggahan teman yang sedang berlibur, makan di restoran populer, atau merayakan pencapaian besar di media sosial? Jika iya, bisa jadi kita sedang mengalami fenomena FOMO atau Fear of Missing Out.
Melalui unggahan video di kanal YouTube Greatmind bertajuk “On Marissa’s Mind: FOMO”, Marissa menjelaskan bahwa FOMO merupakan bentuk kecemasan yang muncul ketika seseorang mengetahui orang lain tengah mengalami hal menyenangkan tanpa melibatkan dirinya.
“FOMO membuat kita lebih fokus pada apa yang terjadi di luar sana, daripada sepenuhnya hadir dalam pengalaman yang ada di depan mata,” ungkap Marissa dalam video tersebut.
Fenomena ini kian masif seiring kehadiran media sosial yang terus menyajikan kehidupan orang lain selama 24 jam tanpa henti. Tanpa disadari, intensitas paparan ini mendorong seseorang untuk terus membandingkan realitas diri dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna.
Menariknya, Marissa juga mengutip pandangan dari The School of Life yang membagi cara pandang seseorang terhadap FOMO ke dalam dua perspektif utama.
Baca juga: Fenomena FOMO: Takut Ketinggalan Tren di Kalangan Generasi Z
Romantik vs Klasik
1. Perspektif Romantik
Orang dengan kecenderungan perspektif romantik biasanya percaya bahwa kehidupan yang menarik selalu berada di tempat lain. Kelompok ini merasa perlu berada di lingkungan yang dianggap sukses, glamor, dan penuh pencapaian agar merasa bernilai. Akibatnya, mereka mudah merasa tertinggal ketika tidak menjadi bagian dari lingkungan tersebut.
2. Perspektif Klasik
Sebaliknya, individu dengan perspektif klasik memiliki standar kebahagiaan yang lebih sederhana. Mereka cenderung menghargai momen kecil, seperti menikmati alam atau berbincang bersama keluarga. Meski demikian, tipe klasik tetap berpotensi mengalami FOMO ketika merasa melewatkan momen bermakna yang bersifat personal.
Dampak dan Pemicu Utama FOMO
Marissa menekankan bahwa penggunaan ponsel yang terlalu intens menjadi salah satu pemicu utama munculnya FOMO. Selain faktor teknologi, penelitian juga menunjukkan bahwa individu yang merasa kesepian, memiliki kepercayaan diri rendah, atau cenderung berpikiran negatif terhadap diri sendiri lebih rentan mengalami fenomena ini.
Jika dibiarkan, FOMO tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga berisiko memicu stres kronis, gangguan kecemasan, hingga masalah tidur yang serius. Oleh karena itu, diperlukan langkah konkret untuk memutus rantai kecemasan tersebut.
Beralih dari FOMO ke JOMO
Batasi Screen Time
Kurangi durasi penggunaan media sosial secara bertahap agar tidak terus membandingkan diri dengan orang lain. Dengan begitu, kita dapat lebih fokus pada diri sendiri, termasuk hobi dan hal-hal yang benar-benar disukai.
Self-Compassion
Bangun sikap welas asih terhadap diri sendiri. Sadari bahwa apa yang terlihat di media sosial hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh yang sebenarnya.
Koneksi Nyata
Perbanyak interaksi langsung dengan keluarga, teman, atau orang-orang baru di lingkungan sekitar untuk mengurangi rasa kesepian.
Marissa juga memperkenalkan konsep JOMO atau Joy of Missing Out. JOMO merupakan kebalikan dari FOMO, di mana seseorang justru merasa bahagia dan tenang ketika tidak terlibat dalam hiruk-pikuk tren atau aktivitas orang lain.
“Waktu kita terbatas. Ketika kita menyadarinya, kita bisa mulai menemukan kebahagiaan dari apa dan siapa yang ada di sekitar kita saat ini,” pungkas Marissa.
Memahami FOMO menjadi langkah awal untuk bersikap lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Sebab, kebahagiaan sejati kerap hadir ketika kita berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan mulai mensyukuri perjalanan hidup sendiri.





























