Tugumalang.id – Deru sibuknya lalu lalang kendaraan pribadi, transportasi online hingga Bus Trans Jatim mendominasi gemerlap Kota Malang. Di tengah hiruk pikuk itu, ada kisah Bambang (57), tukang becak yang bertarung dengan getirnya hidup hingga memaksanya bermalam di sudut jalanan Kota Malang.
Pria asal Dampit itu menjadi saksi bagaimana roda kehidupan bisa berputar begitu saja, tak selalu manis, malah akhir akhir ini hanya bisa mengela nafas. Becak listrik pemberian Presiden Prabowo beberapa bulan lalu juga tak kunjung mampu memikat penumpang.
Ketika dingin angin malam tiba dan lalu lintas di Kota Malang mulai lengang, Bambang tak selalu pulang ke rumahnya di Dampit. Becak yang setiap hari menjadi tambang nafkahnya juga ia jadikan rumah berteduh. Di sudut jalanan Kota Malang, ia bermalam di atas becak sembari menanti esok dengan harapan yang tak pernah pasti.
Baca Juga: Nasib Malang Becak Motor di Kota Malang, Terpaksa Bertahan dari Serbuan Ojek Online
“Mau pulang bagaimana, gak ada uang. Dapat 1 penumpang saja sudah bagus, kadang 3 hari baru dapat 1 penumpang,” kata Bambang lirih, Rabu (4/3/2026).
Kalimat itu menghujam tanpa nada keluh, lebih seperti pengakuan atas kenyataan yang tak bisa ia lawan. Bambang mengayuh becak sudah puluhan tahun, sejak 1983. Sebelumnya ia seorang petani.
“Dulu waktu (tubuh) kuat, kalau musim tanam ya masih nyangkul, kalau ada waktu ya narik becak,” kenangnya.

Dikatakan, becak pernah menjadi sandaran hidup yang layak. Di era kejayaan becak pada 1994-1995 lalu, ia masih bisa membawa pulang Rp 50 ribu sehari. Angka yang saat itu baginya cukup untuk menghidupi keluarga dan bahkan untuk menyekolahkan anaknya hingga jenjang pendidikan SMA.
Kini, penghasilannya tak menentu. Kadang berhari hari tanpa satu pun penumpang. Jika beruntung, ia kadang sehari mendapat Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu.
Baca Juga: Nasib Malang Becak Motor di Kota Malang, Terpaksa Bertahan dari Serbuan Ojek Online
Namun ongkos untuk pulang ke Dampit tak sebanding dengan pemasukannya hingga mengharuskannya tidur di jalanan. “Saya biasanya di depan DPRD itu, tidur di becak,” ungkapnya.
Kala becak listrik pemberian Presiden Prabiwo diperkenalkan dengan harapan meringankan beban kayuhan, realitasnya juga tak ada pemasukan yang berubah. Bahkan ia harus membayar jasa menumpang ke warung warung untuk charger daya baterai becaknya.
“Katanya becak listrik enak, ternyata sama saja. Penumpang juga tetap nggak ada,” ucapnya.
Ramadan yang biasanya membawa berkah pun kali ini terasa lebih sunyi. Mangkal di stasiun juga tak lagi menjanjikan. Banyak calon penumpang memilih ojek online yang dianggap lebih praktis dan cepat.
Mirisnya, Bambang menyebut kehidupan tukang becak saat ini layaknya pengemis. Di tengah getir hidup lantaran sepinya penumpang, kadang ada orang yang memberikan bantuan, entah uang pecahan, kadang makanan dan lainnya.
“Dibilang ngemis memang ngemis. Kadang makan dikasih orang lewat. Kalau Jumat berkah kadang ada yang berbagi,” tuturnya.
Ia tak menampik bahwa kini yang lebih sering diandalkan adalah pemberian orang lain. Jika tak ada uang, ia kadang berutang di warung sekadar untuk makan. Namun satu hal yang patut jadi pelajaran yakni soal integritas Bambang. Ia tak mau uang panas meski hidupnya getir.
“Saya bertahan karena memang gak ada kerjaan lain, masak mencuri,” katanya tegas.
Becak adalah satu satunya mata pencaharian yang ia miliki. Anak anaknya sudah berkeluarga dan hidup masing masing. Ia memilih bertahan sendiri.
Kondisi ini menjadi potret buram nasib transportasi tradisional di tengah modernisasi kota. Becak yang dulu menjadi ikon dan denyut ekonomi rakyat kecil, kini seperti tersisih tanpa arah kebijakan yang jelas.
Lantas apakah mereka hanya akan menjadi bagian dari nostalgia, tanpa solusi nyata untuk keberlangsungan hidup para pengayuhnya.
Pemerintah daerah ditantang untuk tak sekadar berbicara soal penataan kota, tetapi juga memikirkan keberlanjutan hidup warganya rentan seperti Bambang. Pelatihan kerja alternatif, subsidi operasional hingga integrasi becak dalam kawasan wisata bisa menjadi opsi yang patut dipertimbangkan.
Di tengah kerasnya persaingan dan perubahan zaman, mungkin yang tersisa bagi para tukang becak bukan lagi harapan besar. Tetapi keteguhan untuk bertahan dan mensyukuri setiap rupiah yang datang.
Roda becak milik Bambang mungkin kian jarang berputar membawa penumpang. Namun perjuangannya terus berjalan. Mengingatkan bahwa di balik gemerlap kota, ada profesi yang menggantungkan hidup pada belas kasih dan pendapatan yang tak pernah pasti.
“Dapat sedikit banyak harus bersyukur. Dapat dikit ya disyukuri, gak dapat ya harus bersyukur karena masih sehat, yang penting gak nyuri,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
Editor: Herlianto. A





























