Malang, Tugumalang.id – Kampus 2 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) selama dua pekan penuh, mulai 19-31 Januari 2026, bertransformasi menjadi area kerja nyata bagi 68 siswa kelas XII Teknik Geomatika SMKN 1 Singosari. Lahan seluas 10 hektar dari total 65 hektar aset kampus dimanfaatkan sebagai lokasi Program Project Based Learning (PBL) untuk pembuatan peta skala besar, sekaligus menjadi ruang belajar kontekstual berbasis praktik lapangan.
Kegiatan ini menjadikan Kampus 2 ITN Malang sebagai “laboratorium raksasa” pemetaan, di mana siswa tidak hanya belajar teori, tetapi langsung terlibat dalam proses pemetaan profesional, mulai dari pengambilan data hingga pengolahan dan penyajian informasi geospasial secara komprehensif.
Baca juga: 57 Tahun ITN Malang, “Eling dan Waspodo” Jadi Energi Baru Menuju Kejayaan
Sinergi Keilmuan Geodesi dan Geomatika
Kaprodi Teknik Geodesi S-1 ITN Malang, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., menyambut positif dipilihnya ITN sebagai lokasi proyek PBL. Menurutnya, Geodesi dan Geomatika berada dalam satu akar keilmuan yang sama, sehingga kolaborasi ini dinilai sangat relevan dan strategis.
DK Sunaryo, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa Teknik Geodesi ITN Malang sebagai salah satu program studi tertua di Jawa Timur terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman. Ia mengingatkan para siswa agar mulai mempersiapkan diri menghadapi pergeseran industri ke arah Artificial Intelligence (AI).
“Sekarang kalian belajar pakai Total Station dan drone, tapi ke depan semuanya akan berbasis AI. Data drone akan langsung diolah otomatis. Kita tidak boleh menghindari teknologi, tapi harus menguasainya,” tegasnya.
Bersama jajaran pimpinan, DK Sunaryo turut menyambut kedatangan para siswa pada hari pertama kegiatan. Ia juga menambahkan bahwa riset di Teknik Geodesi ITN Malang tidak hanya terbatas pada pemetaan darat, tetapi mencakup tiga matra, termasuk pemetaan laut melalui laboratorium lapangan di kawasan Sendang Biru.
PBL sebagai Simulasi Dunia Industri
Kepala Konsentrasi Keahlian Teknik Geomatika SMKN 1 Singosari, Widya Prajna, ST., menjelaskan bahwa PBL kali ini dirancang bukan sekadar praktik biasa, melainkan sebagai simulasi perusahaan profesional. Para siswa dibagi dalam struktur organisasi kerja, mulai dari manajer proyek hingga surveyor lapangan.
“Kami memilih ITN karena sudah ada kerja sama, jadi secara administrasi mudah, dan juga jaraknya dekat. Harapannya, para dosen Geodesi ITN bisa menguji langsung anak-anak kami nanti setelah laporannya selesai, sehingga mereka punya pengalaman presentasi di depan ahli yang belum mereka kenal,” ujar Widya.
Baca juga: Sambut Era Digital Baru, ITN Malang Gelar Trial “New Siakad”: Sistem Terintegrasi Buatan Mandiri
Ia menilai Kampus 2 ITN Malang sangat representatif sebagai lokasi pembelajaran karena memiliki variasi objek pemetaan, mulai dari gedung, jalan, lapangan, tanah kosong, hingga area dengan naungan pohon yang memberi tantangan teknis tersendiri. Proyek ini nantinya menghasilkan produk akhir berupa foto udara, peta topografi, hingga peta 3D modeling Kampus 2 ITN Malang secara detail dan terstruktur.
Tantangan Lapangan dan Pembentukan Mental Profesional
Bagi para siswa, praktik di Kampus 2 ITN Malang menjadi pengalaman yang jauh melampaui aktivitas pembelajaran di sekolah. Jika sebelumnya mereka hanya terbiasa dengan lahan sempit, kini harus menaklukkan area kerja seluas 10 hektar dengan kompleksitas medan yang beragam.
Amelia Susanti, siswa yang bertugas mengoperasikan Total Station, mengungkapkan tingginya tingkat ketelitian yang dibutuhkan dalam setiap proses pengukuran. “Tantangannya kalau koreksi datanya nggak masuk, ya terpaksa harus mengulang lagi pengukurannya dari awal,” katanya. Faktor cuaca juga menjadi kendala, karena hujan membuat pengambilan data harus dihentikan sementara.
Sementara itu, Salma Awanis yang berperan sebagai Project Manager menyebut tantangan terbesar justru datang dari dinamika tim. “Mengatur ego teman-teman itu yang paling susah. Tiap hari kami harus ada evaluasi untuk cari solusi kalau ada progres yang macet agar tim tetap jalan,” ungkapnya.
Meski harus berpanas-panasan dan kerap terkendala hujan, para siswa tetap menikmati proses pembelajaran lapangan. Tim KKN (Kerangka Kontrol Horizontal) seperti Maya, Azril, dan Silvi mengaku suasana Kampus 2 ITN Malang yang sejuk membuat aktivitas pengambilan data terasa lebih nyaman dan tidak membosankan.
Lebih dari sekadar praktik lapangan, kolaborasi ini menjadi “pemanasan” nyata bagi para siswa sebelum terjun ke dunia kerja sesungguhnya. Dengan fasilitas laboratorium yang mumpuni dan kurikulum yang terus mengikuti perkembangan teknologi, Teknik Geodesi ITN Malang memposisikan diri sebagai ruang tumbuh bagi lulusan SMK yang ingin serius berkarier sebagai profesional di industri pemetaan global.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Artikel ini disusun melalui kerja sama publikasi Tugumalang.id dengan ITN Malang
redaktur: jatmiko
























