Malang, Tugumalang.id – Suasana Aula Kampus 1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), Senin (26/01/2026), terasa berbeda. Meski hari ulang tahun ITN Malang secara resmi jatuh pada 4 Januari, tasyakuran Dies Natalis ke-57 yang digelar pagi ini justru berlangsung penuh emosi, kehangatan, dan nuansa kebersamaan yang kuat.

Perayaan ini tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, tetapi menjelma sebagai ruang “ajang sambung rasa” lintas generasi. Selain dihadiri sivitas akademika aktif, hadir pula deretan wajah para purna tugas dosen dan staf yang pernah mendedikasikan perjalanan hidupnya untuk membesarkan kampus teknik tertua di Jawa Timur tersebut.
Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan rasa haru atas antusiasme para purna tugas yang hadir. Bagi dirinya, kehadiran para senior merupakan bukti bahwa ikatan emosional dengan ITN Malang tidak pernah luntur oleh waktu.
“57 tahun itu bukan usia yang muda. Lebih dari lima dekade, ITN sudah mencetak generasi yang berkontribusi untuk negara, dan itu semua berkat jasa Bapak dan Ibu sekalian,” ungkap rektor.
Baca juga: Sambut Era Digital Baru, ITN Malang Gelar Trial “New Siakad”: Sistem Terintegrasi Buatan Mandiri
Filosofi “Eling lan Waspodo” sebagai Penjaga Arah Perjalanan ITN
Di balik rasa syukur, Rektor ITN Malang juga menyampaikan refleksi melalui filosofi Jawa “Eling lan Waspodo” sebagai pengingat agar seluruh sivitas tidak terlena dalam perjalanan institusi. Ia menegaskan bahwa kerja promosi yang telah menjangkau ratusan titik di Indonesia harus diimbangi dengan penguatan kualitas pelayanan internal kampus.
“Kita harus sadar, mahasiswalah yang memberi kita kehidupan. Mari lupakan hal-hal yang tidak nyaman di masa lalu. Kita satukan hati, berikan pelayanan terbaik agar kepercayaan masyarakat semakin meningkat. ITN harus tetap hadir dan berdampak nyata bagi bangsa,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi refleksi strategis bahwa kejayaan kampus tidak hanya ditentukan oleh ekspansi promosi, tetapi juga oleh kualitas layanan, sinergi internal, dan budaya kerja yang sehat.
Jejak Sejarah ITN: Dari Diskusi Rumah Kecil hingga Kampus Besar
Sambutan Ketua Perkumpulan Pengelola Pendidikan Umum dan Teknologi Nasional Malang (P2PUTN), Ir. Kartiko Ardi Widodo, MT, membawa hadirin menelusuri perjalanan panjang ITN Malang. Ia mengisahkan bagaimana kampus ini bermula dari diskusi sederhana di sebuah rumah kecil pada tahun 1969, hingga berkembang menjadi institusi pendidikan teknik besar di kawasan Sigura-gura dan Karanglo.
“ITN berdiri karena kerja keras kolektif dari generasi ke generasi. Masa depan kita ditentukan oleh keberanian dan komitmen kita hari ini. Riset dari kampus ini jangan hanya berhenti di kelas, tapi harus turun ke masyarakat sebagai solusi teknologi terapan,” ujar Kartiko.
Baca juga: Inovasi Mahasiswa Teknik Industri ITN Malang Hadirkan Solusi Nyata bagi UKM
Narasi sejarah tersebut menegaskan bahwa kekuatan ITN Malang terletak pada kesinambungan nilai, perjuangan kolektif, serta keberlanjutan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Suara Para Purna Tugas: Ikatan Emosional yang Tak Pernah Putus
Momen paling menyentuh hadir saat para purna tugas berbagi cerita pengabdian. Ir. Drs. Sudjad, MT, mewakili paguyuban pensiunan, menyatakan kesiapan para senior untuk tetap “ngrasani” ITN dalam makna positif, serta terus membantu almamater bangkit dan berkembang.
Cerita penuh nostalgia juga disampaikan purna staf L. Hermin Dwi Yuniarti, yang mengenang 38 tahun masa pengabdian sejak kampus masih berada di Raya Langsep.
“Dulu saya masuk zamannya masih pakai kursi seng sampai sering masuk angin, lalu ganti kursi rotan. Belum ada komputer, masih memakai mesin ketik, sampai akhirnya saya merasakan kursi putar, dan komputer. Perjalanan ini yang membuat saya kuat,” kenangnya, disambut tepuk tangan hadirin.
Pesan yang ia sampaikan menekankan pentingnya semangat juang generasi muda ITN Malang, meski kini fasilitas kampus telah jauh lebih modern dan nyaman.
Senada dengan itu, Drs. Edi Sukarjo, MM, turut mengisahkan perjalanan pengabdiannya dari Laboratorium Bahasa hingga perpustakaan sebagai bentuk loyalitas dan kepatuhan terhadap nilai-nilai institusi.
Acara tasyakuran ditutup dengan prosesi potong tumpeng oleh Rektor ITN Malang yang diserahkan kepada Ketua P2PUTN. Potongan tumpeng tersebut menjadi simbol kebersamaan yang merekatkan yayasan, pimpinan, sivitas akademika aktif, hingga para purna tugas.
Memasuki usia ke-57, ITN Malang seolah sedang merajut kembali serpihan semangat para perintisnya, membangun energi kolektif baru, dan meneguhkan arah untuk melangkah lebih kencang menghadapi tantangan zaman.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Artikel ini disusun melalui kerja sama publikasi Tugumalang.id dengan ITN Malang
redaktur: jatmiko
























