Malang, Tugumalang.id – Akademisi Universitas Brawijaya (UB), Prof Mangku Purnomo memberikan pandangan soal rencana pembangunan jalur alternati di wilayah Candi Panggung, Kota Malang. Pembangunan jalur alternatif itu dinilai berpotensi bisa mengurai masalah kemacetan di sejumlah titik di Kota Malang.
Diketahui, Pemkot Malang melalui DPUPR-PKP Kota Malang berencana membangun 14 jalan tembus untuk memecah kemacetan di Kota Malang. Salah satunya yakni di wilayah Candi Panggung, Lowokwaru.
Prof Mangku Purnomo memandang bahwa pembangunan jalan tembus memang merupakan kebutuhan mendesak di Kota Malang. Mengingat, kemacetan di Kota Malang telah menjadi persoalan klasik yang tak kunjung terselesaikan.
Baca juga: Satpol PP Kota Malang Kembali Terbitkan Peringatan atas Penolakan Jalur Alternatif Candi Panggung
Baginya, pembangunan jalan tembus bisa menjadi pendukung konektivitas antar kawasan di Kota Malang. Hal ini juga bisa mendorong roda perekonomian masyarakat.
“Kalau Malang mau jadi kota maju, maka konektivitasnya harus dibuka. Sehingga mobilitas orang jadi lebih mudah, ekonomi juga bisa tumbuh. Jalan tembus bukan sekadar proyek, tapi kebutuhan kota besar,” ungkapnya, Senin (27/10/2025).
Ia memproyeksikan, pembangunan jalan tembus di satu titik bisa memberikan dampak pada berkurangnya beban kepadatan arus lalu lintas di sekitarnya.
Dia mencontohkan, jalan tembus Candi Panggung proyeksinya akan berdampak terurainya kemacetan di wilayah Jalan Soekarno Hatta (Suhat) hingga wilayah Jalan MT Haryono, Dinoyo.
“Kalau akses itu dibuka, bisa mengurangi beban lalu lintas di jalur utama seperti Suhat dan Dinoyo. Bahkan idealnya nanti bisa terkoneksi sampai ke Polinema. Ini bentuk perencanaan kota yang visioner,” ujarnya.
Baca juga: Jalur Alternatif Candi Panggung Kota Malang Berpotensi Naikkan Harga Properti
Selain itu, ia juga melihat adanya potensi dampak positif bagi warga setempat. Nilai properti di sekitar lokasi jalan tembus bisa terdongkrak naik.
“Adabya jalan umum baru, bisa menaikkan harga tanah, usaha lebih hidup dan peluang ekonomi terbuka,” bebernya.
Dalam kasus rencana pembangunan jalur alternatif kemacetan Jalan Candi Panggung yang sempat menimbulkan polemik di Kota Malang itu, ia menyarankan Pemkot Malang untuk memperkuat dialog dengan masyarakat setempat.
Diketahui, jalan tembus Candi Panggung rencananya akan dibangun di Jalan Simpang Candi Panggung dan melintasi jalan di Perumahan Griya Shanta. Namun warga setempat melakukan penolakan.
“Jadi masalahnya, kadang warga perumahan tak ingin jalannya dilintasi orang luar. Tetapi kalau ditarik secara umum, kalau semua (akses perumahan) ditutup, ya gak mungkin. Jadi perlu ada kesepemahaman,” tuturnya.
“Pembangunan jalan tembus itu kebutuhan kota. Tapi tetap harus dibarengi dialog dengan masyarakat aspirasinya tertampung dan tak ada yang dirugikan,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
redaktur: jatmiko
























