Sabtu, Oktober 17, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Pesantren Hijau, Jalan Baru Peradaban Santri

Redaksi by Redaksi
Oktober 22, 2025 6:59 pm
in Ruang Cendekia
Hari santri

Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., CRMP., CAHRM

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., CRMP., CAHRM*

Selamat Hari Santri 2025.

READ ALSO

Pentingnya Pemberitaan yang Objektif dan Empatik bagi Kesehatan Mental

Jebakan Penerbitan Nakal dan Mengapa Penulis Butuh Ekosistem, Bukan Sekadar Mesin Cetak

Santri dan Pesantren tidak bisa kita pisahkan perannya dari republik ini. Namun, akhir-akhir ini entitas yang berperan penting bagi peradaban ummat manusia ini sedang mendapatkan ujian yang tak ringan.

Tragedi robohnya bangunan di Sidoarjo beberapa waktu lalu menjadi pintu masuk banyak tudingan yang kadang tidak masuk akal: pesantren dianggap lalai, memperkerjakan anak-anak, bahkan menjadi tempat terjadinya kekerasan fisik dan seksual.

Sebagian media menggiring narasi seolah pesantren adalah lembaga tertinggal—padahal dari sinilah fondasi karakter bangsa telah ditempa selama berabad-abad.

Sebagai seorang santri, saya miris menyaksikan pembusukan citra pesantren. Kritik memang perlu, tapi bukan untuk menghapus jati diri lembaga yang telah membangun peradaban Islam Nusantara ini. Pesantren justru harus menjawab tantangan zaman—tidak dengan bertahan dalam romantisme masa lalu, tetapi dengan bertransformasi.

Melebarkan Makna Pesantren

Pesantren hari ini hidup di tengah disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, dan krisis lingkungan. Di sisi lain, pesantren tetap dituntut menanamkan akhlakul karimah dan menjaga keteduhan batin generasi muda.

Maka, pesantren tidak bisa hanya menjadi tempat mengaji kitab dan hafalan, tetapi juga menjadi laboratorium peradaban baru—yang inklusif, digital, dan berkeadilan ekologis.
Transformasi itu bisa dimulai dari banyak pintu: penguatan kelembagaan, digitalisasi layanan, pemberdayaan ekonomi, hingga filantropi. Namun ada satu gerakan yang terasa paling mendesak sekaligus paling “islami”: eco-pesantren—pesantren yang ramah lingkungan.

Ketika Santri Menjadi Penjaga Bumi

Istilah eco-pesantren mengandung makna yang sederhana tapi revolusioner: pesantren yang peduli pada lingkungan hidup. Di sini, para santri bukan hanya menghafal ayat tentang larangan berbuat kerusakan di bumi, tapi juga mempraktikkannya.

Al-Qur’an telah memberi peringatan jelas: “Telah tampak kerusakan di darat dan laut akibat ulah tangan manusia” (QS. Ar-Rum: 41). Maka, menjaga alam sejatinya bukan sekadar kegiatan sosial, tapi bagian dari ibadah dan tafsir nyata atas ayat-ayat kauniyah.

Baca juga: Pemprov Jatim Gandeng 138 Kampus Penyelenggara Beasiswa Santri, Fokus ke Program STEM

Peran pesantren dalam isu lingkungan bukan hal kecil. Tahun 2024, Kementerian Agama mencatat ada lebih dari 42 ribu pesantren dengan lebih dari 4,6 juta santri di seluruh Indonesia. Bayangkan, jutaan orang tinggal 24 jam dalam satu ekosistem tertutup: butuh air, listrik, makanan, dan menghasilkan tumpukan sampah setiap hari.

Hampir semua pesantren menghadapi persoalan klasik: limbah organik dan non-organik. Plastik menjadi ancaman utama. Mikroplastik kini bahkan ditemukan dalam paru-paru, darah, dan air susu ibu.
Jika pesantren mampu mengubah cara berpikir dan bertindak terhadap lingkungan, maka jutaan santri bisa menjadi agen perubahan ekologis paling masif di negeri ini.

Dari Sampah ke Spiritualitas
Gerakan eco-pesantren bukan sekadar ajakan menanam pohon atau memilah sampah, tapi mengubah kesadaran hidup. Spiritnya sederhana: manusia bukan penguasa bumi, tapi khalifah yang bertugas merawatnya.

Langkah kecil yang bisa dimulai di lingkungan pesantren antara lain:

  • Pemilahan sampah organik dan anorganik di asrama santri.

  • Penerapan gaya hidup 5R: Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Restore.

  • Penghematan energi dan air melalui panel surya atau biogas.

  • Pembuatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk tempat tafakur dan relaksasi alam.

Di banyak pesantren, praktik seperti ini sudah mulai berjalan. Ada pesantren yang mengolah sisa makanan menjadi kompos, mengganti plastik dengan daun, dan mengajarkan santri membuat eco-brick dari limbah plastik. Aktivitas yang dulu dianggap remeh kini menjadi bagian dari pelajaran akhlak: bagaimana mencintai bumi sebagaimana mencintai Sang Pencipta.

Santri, Akademisi, dan Kolaborasi Pentahelix

Untuk membangun ekosistem eco-pesantren yang berkelanjutan, dibutuhkan kolaborasi luas: santri sebagai penggerak, kiai sebagai inisiator nilai, akademisi sebagai pendamping, pemerintah sebagai fasilitator, dan media sebagai penguat narasi. Inilah konsep pentahelix—sinergi antara lima unsur untuk perubahan sosial yang nyata.

Perguruan tinggi, misalnya, bisa menempatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di pesantren untuk mendampingi manajemen sampah, konservasi air, atau pelatihan energi terbarukan. Pemerintah daerah bisa mendukung dengan program sanitasi dan insentif lingkungan. Dunia industri bisa menjadi mitra dengan CSR berorientasi hijau.

Baca juga: Peringati Hari Santri 2025, Wali Kota Malang Ajak Santri Jadi Motor Pembangunan Perdaban Dunia

Gerakan ini hanya akan hidup jika dimotori oleh tim inti di tiap pesantren: inisiator, aktivator, dan mobilisator.

Inisiator memikirkan ide dan perencanaan.
Aktivator mengatur kampanye dan promosi nilai-nilai hijau.

Mobilisator menggerakkan praktik nyata: dari memilah sampah hingga menanam pohon.
Ketiganya membentuk jantung perubahan: santri yang sadar bahwa menjaga lingkungan sama pentingnya dengan menjaga iman.

Pesantren sebagai Oase Baru

Dalam banyak hal, pesantren telah menjadi tempat “penyembuhan sosial” — dari dekadensi moral, kesenjangan ekonomi, hingga krisis spiritual. Kini, pesantren juga bisa menjadi penyembuh bumi.

Model eco-pesantren bukan sekadar tren hijau, tapi bagian dari maqashid syariah: menjaga jiwa (hifdzun nafs), harta (hifdzul mal), keturunan (hifdzun nasl), agama (hifdzud din), dan akal (hifdzul aql). Semua tujuan itu hanya bisa dicapai dalam lingkungan yang sehat dan lestari.

Maka, menjaga alam bukan hanya tanggung jawab ekologis, tapi juga spiritual. Alam yang lestari adalah bagian dari ibadah. Setiap daun yang tumbuh, setiap air yang jernih, adalah zikir dalam bentuk lain.

Pesantren harus menjadi teladan dalam hal ini—bukan hanya tempat mengaji, tetapi tempat belajar mencintai bumi. Karena pada akhirnya, bumi inilah pesantren terbesar yang Allah ciptakan untuk kita belajar menjadi manusia seutuhnya.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

*Penulis adalah Guru Besar dan Rektor UIN Maliki Malang.

redaktur: jatmiko

Related Posts

Dosen Fakultas Psikologi UIN Malang, Fuji Astutik, M.Psi, Psikolog. /Foto: Dok.
Ruang Cendekia

Pentingnya Pemberitaan yang Objektif dan Empatik bagi Kesehatan Mental

Jumat, 16 Okt 2026
Achmad Sufyan Wahyudi, M.Pd/ Foto: Dok.
Ruang Cendekia

Jebakan Penerbitan Nakal dan Mengapa Penulis Butuh Ekosistem, Bukan Sekadar Mesin Cetak

Kamis, 15 Okt 2026
Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor
Ruang Cendekia

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Jumat, 9 Okt 2026
Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren
Ruang Cendekia

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Minggu, 4 Okt 2026
Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang
Ruang Cendekia

Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang

Minggu, 4 Okt 2026
Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam
Ruang Cendekia

Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam

Rabu, 30 Sep 2026
Next Post
Implementasi Program Light Up The Dream

Implementasi Program Light Up The Dream, PLN Pasang Listrik Gratis untuk Warga Malang

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10162026 1
Iklantm 10162026 2
Iklantm 10162026 3
Iklantm 10162026 4
Iklantm 10162026 11
Iklantm 10162026 5
Iklantm 10162026 6
Iklantm 10162026 7
Iklantm 10162026 8
Iklantm 10162026 9
Iklantm 10162026 10
Iklantm 10162026 12
Iklantm 10162026 13
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.