Selasa, September 1, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Tugu Sehat

Toxic Positivity: Ketika “Stay Positive” Justru Membuat Tertekan

Redaksi by Redaksi
Agustus 12, 2025 6:15 am
in Tugu Sehat
Toxic Positivity

ilustrasi/pinterest

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Kalimat seperti “Ayo semangat, jangan sedih terus!” atau “Pikir positif aja, pasti bisa kok” sering kali terdengar menenangkan. Namun, bagi sebagian orang, kata-kata tersebut justru bisa memicu rasa bersalah karena tidak mampu merasa bahagia. Fenomena ini dikenal sebagai toxic positivity, yaitu dorongan untuk selalu bersikap positif meski sedang berada dalam situasi sulit.

Padahal, emosi seperti sedih, marah, atau kecewa adalah bagian normal dari kehidupan. Jika dipaksakan untuk diabaikan, justru dapat merugikan kesehatan mental seseorang.

READ ALSO

Bahaya Asap Karhutla bagi Paru-Paru, Akademisi UMM Ungkap Risikonya

Ahli Gizi Ungkap Manfaat Jalan Kaki dan Pola Makan Sehat

Baca juga: Emotional Agility: Kunci Ketangkasan Emosional di Tengah Dinamika Kehidupan

Apa Itu Toxic Positivity?

Ilustrasi
Ilustrasi/freepik

Istilah toxic positivity mulai populer pada 2019 setelah dijelaskan oleh psikolog klinis Dr. Jaime Zuckerman. Ia mendefinisikannya sebagai obsesi berlebihan terhadap sikap positif di semua situasi yang justru memicu penyangkalan, minimnya empati, dan penekanan emosi.

Berbeda dengan berpikir positif yang sehat, toxic positivity menghapus ruang bagi pengalaman emosional yang nyata. Alih-alih membantu, sikap ini membuat seseorang merasa bersalah karena tidak selalu bahagia.

Penelitian Shipp & Hall (2024) menemukan beberapa dampak toxic positivity, di antaranya:

  • Emotional suppression – menekan emosi negatif tanpa mengolahnya, yang bisa memicu stres kronis.

  • Optimisme tidak realistis – berharap semua akan berakhir baik tanpa bukti pendukung.

  • Forced gratitude – memaksakan rasa syukur dalam situasi buruk, yang justru memperburuk perasaan.

Mengapa Toxic Positivity Semakin Marak?

Salah satu pemicu utamanya adalah media sosial. Platform seperti Instagram dan TikTok dipenuhi konten kehidupan yang tampak bahagia, estetik, dan sempurna. Jarang sekali momen kesedihan atau kegagalan dibagikan, sehingga menciptakan ilusi bahwa emosi negatif harus disembunyikan.

Penelitian Zoe Wyatt menyebut budaya #PositiveVibesOnly menimbulkan tekanan sosial untuk selalu terlihat bahagia. Akibatnya, banyak orang memendam emosi demi citra digital, yang berujung pada kesehatan mental yang rentan.

Alternatif Sehat Menghadapi Emosi Negatif

Para psikolog menyarankan dua pendekatan yang lebih sehat dibanding toxic positivity:

  1. Emotional Realism

    Menurut Susan David, psikolog Harvard Medical School, emosi bukan untuk dikendalikan atau disangkal, tetapi dipahami.

    Emotional realism berarti menerima semua emosi—baik maupun buruk—sebagaimana adanya, sehingga kita tetap terhubung dengan realitas dan dapat membuat keputusan yang sehat.

  2. Tragic Optimism

    Diperkenalkan oleh Viktor Frankl, penyintas Holocaust, konsep ini menekankan harapan meski di tengah penderitaan.

    Bedanya dengan toxic positivity, tragic optimism mengakui kesulitan namun tetap percaya diri bisa melewatinya.

    Contohnya:

    • Mengatakan, “Aku tahu ini berat, tapi aku percaya kamu bisa melewatinya” ketimbang “Semua akan baik-baik saja”.

    • Bertanya, “Apa yang bisa aku bantu?” alih-alih langsung berkata, “Semangat ya”.

Kesimpulan

Toxic positivity pada dasarnya adalah bentuk emotional invalidation—menolak validitas emosi negatif. Untuk menciptakan kesehatan mental yang lebih baik, kita perlu memberi ruang bagi kesedihan, kemarahan, atau kekecewaan, lalu mengelolanya secara sadar.

Dengan mengadopsi emotional realism dan tragic optimism, kita bisa membangun hubungan yang lebih tulus, memahami diri sendiri lebih baik, dan menghadapi kehidupan dengan cara yang lebih seimbang—tanpa terjebak dalam tuntutan untuk selalu bahagia.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Penulis : Risma Elina (Magang)
redaktur: jatmiko

Tags: dampak toxic positivityDr Jaime Zuckermanemotional realismemotional suppressionforced gratitudeKesehatan MentalMedia Sosialoptimisme tidak realistispositive vibes onlySusan DavidToxic Positivitytragic optimismviktor frankl

Related Posts

Akademisi UMM Ungkap Bahaya Asap Karhutla bagi Paru-Paru
Tugu Sehat

Bahaya Asap Karhutla bagi Paru-Paru, Akademisi UMM Ungkap Risikonya

Senin, 31 Agu 2026
Jalan Kaki dan Pola Makan Sehat Jadi Kunci Hidup Sehat
Advertorial

Ahli Gizi Ungkap Manfaat Jalan Kaki dan Pola Makan Sehat

Jumat, 14 Agu 2026
Nikotin dalam Tembakau, Zat Adiktif yang Membuat Tubuh Sulit Lepas
Tugu Sehat

Nikotin dalam Tembakau, Zat Adiktif yang Membuat Tubuh Sulit Lepas

Jumat, 14 Agu 2026
7 Manfaat Singkong untuk Kesehatan, Ada Serat dan Vitamin C
Tugu Sehat

7 Manfaat Singkong untuk Kesehatan, Ada Serat dan Vitamin C

Senin, 10 Agu 2026
Terlalu Sering Rebahan Tingkatkan Risiko Diabetes hingga Hipertensi
Tugu Sehat

Terlalu Sering Rebahan Tingkatkan Risiko Diabetes hingga Hipertensi

Rabu, 5 Agu 2026
Teh Hijau Banyak Dipilih, Ini Kandungan dan Manfaatnya bagi Kesehatan
Tugu Sehat

Teh Hijau Banyak Dipilih, Ini Kandungan dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Jumat, 31 Jul 2026
Next Post
Film Indonesia

5 Film Indonesia Terlaris 2025, dari Jumbo hingga Jalan Pulang

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.