Tuesday, July 7, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Tugu Sehat

Social Approval: Mengapa Kita Terlalu Peduli Pendapat Orang Lain?

Redaksi by Redaksi
August 2, 2025 9:42 am
in Tugu Sehat
social approval

ilustrasi/pinterest

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Malang, Tugumalang.id – Pernahkah kamu menahan pendapat hanya karena takut dinilai aneh? Atau memilih pakaian bukan karena suka, tapi demi terlihat “cocok” di mata orang lain? Jika iya, kamu tidak sendirian. Fenomena ini dikenal sebagai social approval seeking—kecenderungan manusia untuk mencari penerimaan dan validasi dari orang lain.

Menurut kajian psikologi sosial, perilaku ini berkaitan erat dengan kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial: ingin diterima, dihargai, dan menjadi bagian dari kelompok. Namun, ketika kebutuhan itu mulai mengorbankan otonomi diri, konflik internal pun muncul dan dapat berdampak serius pada kesehatan mental.

READ ALSO

5 Perbedaan Fresh Milk dan Susu UHT: Kenali Proses, Kandungan Gizi dan Cara Penyimpanannya

Info Loker! PSLC Membutuhkan Terapis dan Asisten Terapis untuk Wilayah Banjarnegara

Mengapa Kita Butuh Persetujuan Sosial atau Social Approval?

Dalam dunia psikologi, ini dikenal sebagai need for approval—kebutuhan untuk merasa diterima dan dihargai. Biasanya, pola ini terbentuk sejak masa kanak-kanak saat kita mulai belajar bahwa penghargaan dan hukuman dari lingkungan (seperti orang tua dan guru) menentukan nilai diri.

Baca juga: Introvert Bukan Antisosial: Fakta, Mitos, dan Penjelasan Psikologi

Psikolog klinis Harriet Braiker dalam bukunya The Disease to Please menyebut bahwa mereka yang terjebak dalam people-pleasing syndrome sering kali hidup dengan rasa cemas karena takut mengecewakan orang lain. Mereka menggantungkan harga diri pada pujian dan validasi eksternal, bukan pada penilaian diri sendiri.

Eksperimen Konformitas Solomon Asch: Ketika Mayoritas Salah, Kita Ikut Juga

Penelitian klasik oleh psikolog Solomon Asch menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kelompok terhadap keputusan individu. Dalam eksperimennya, peserta dengan sadar mengubah jawaban yang benar demi menyesuaikan diri dengan mayoritas, meski tahu bahwa mayoritas salah.

Ini adalah bentuk konformitas sosial yang muncul karena dua pengaruh utama:

  • Normative influence: dorongan untuk diterima dan tidak dikucilkan.

  • Informational influence: keyakinan bahwa mayoritas pasti tahu yang benar.

Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya bisa berupa mengikuti tren meski tidak sesuai kepribadian, atau menyembunyikan opini agar tak berbeda sendiri.

Baca juga: Mengapa Kita Sering Membandingkan Diri di Media Sosial? Ini Penjelasan Psikologinya

Social Identity Theory: Saat “Kita” Lebih Penting dari “Aku”

Henri Tajfel, pelopor teori identitas sosial, menjelaskan bahwa kita mendefinisikan diri bukan hanya sebagai individu, tapi juga sebagai bagian dari kelompok. Ketika identitas kita melekat pada kelompok, kita cenderung mengejar validasi dari sesama anggota.

Itulah sebabnya kita sering merasa harus menyesuaikan gaya hidup, opini, hingga selera agar tidak dianggap asing dalam lingkungan sosial. Penolakan dari kelompok bisa memicu rasa malu, keterasingan, bahkan krisis identitas.

Self-Monitoring dan Impression Management: Hidup Seperti Aktor Sosial

Profesor psikologi Mark Snyder mengenalkan konsep self-monitoring, yaitu seberapa jauh seseorang mengatur perilakunya berdasarkan situasi sosial. Individu dengan self-monitoring tinggi sering kali tampil fleksibel dan pandai beradaptasi, namun bisa kehilangan keaslian diri.

Psikologi sosial
ilustrasi/pinterest

Sementara itu, Erving Goffman, sosiolog ternama, memperkenalkan konsep impression management, di mana seseorang “memainkan peran” agar mendapat kesan positif dari orang lain. Ini mencakup cara bicara, ekspresi wajah, hingga tindakan yang disengaja.

Meski adaptif dalam banyak situasi, kecenderungan ini jika berlebihan bisa membuat seseorang merasa tertekan, lelah secara emosional, dan mengalami kecemasan sosial.

Jadi, Haruskah Kita Peduli dengan Apa Kata Orang?

Mencari penerimaan sosial adalah hal wajar. Namun, penting untuk menjaga keseimbangan antara menjadi bagian dari kelompok dan tetap setia pada nilai serta identitas diri sendiri.

Kunci utamanya adalah kesadaran diri (self-awareness) dan self-worth yang tidak ditentukan oleh opini orang lain. Jangan biarkan validasi eksternal menjadi satu-satunya ukuran nilai diri.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Penulis: Maysa Ayu Raddina (Magang)
redaktur: jatmiko

Tags: KonformitasPeople PleasingPsikologi SosialSelf IdentitySocial Approval

Related Posts

5 Perbedaan Fresh Milk dan Susu UHT: Kenali Proses, Kandungan Gizi dan Cara Penyimpanannya
Tugu Sehat

5 Perbedaan Fresh Milk dan Susu UHT: Kenali Proses, Kandungan Gizi dan Cara Penyimpanannya

Monday, 6 Jul 2026
Info Loker! PSLC Membutuhkan Terapis dan Asisten Terapis untuk Wilayah Banjarnegara
Tugu Sehat

Info Loker! PSLC Membutuhkan Terapis dan Asisten Terapis untuk Wilayah Banjarnegara

Sunday, 5 Jul 2026
Hospital Penawar
Tugu Sehat

Investasi Kesehatan Terbaik! Hospital Penawar Hadirkan Paket Medical Check Up Wanita, Mulai RP 990 Ribu

Sunday, 28 Jun 2026
Hospital Penawar
Tugu Sehat

Hospital Penawar Hadirkan Paket Medical Check Up Pria Mulai Rp 900 Ribu!

Saturday, 27 Jun 2026
PSLCNet Al Qowiy Tanjungpinang gelar webinar session sebagai bentuk dukungan terhadap tumbuh kembang anak, khususnya anak dengan gangguan autisme. /Foto: Dok. PSLC.
Tugu Sehat

Gratis! Ikuti Event Webinar Session PSLCNet Al Qowiy Tanjungpinang

Thursday, 25 Jun 2026
inas26
Tugu Sehat

Pasca INAS26, PSLC Terus Berkomitmen Bergerak Mendukung Lingkungan yang Lebih Ramah bagi Anak

Wednesday, 24 Jun 2026
Next Post
Arema FC

Profil Betinho, Gelandang Asal Brasil yang Jadi Amunisi Baru Arema FC

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sepeda Motor Tabrak Pejalan Kaki di Lawang, 3 Orang Luka-luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Saweran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Kota Malang Siapkan Perda Penyakit Menular untuk Tangani HIV/AIDS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.