Malang – Banyak orang tua anak dengan spektrum autis merasa cemas saat anak mereka hanya mau makan satu hingga tiga jenis makanan saja. Kondisi ini kerap menjadi tantangan serius, terutama dalam pemenuhan gizi harian dan menjaga tumbuh kembang yang optimal.
Fenomena ini bukanlah hal langka. Penawar Special Learning Centre (PSLC), lembaga edukasi dan terapi yang fokus pada anak berkebutuhan khusus, menyebutkan bahwa selektivitas makanan merupakan salah satu permasalahan paling umum yang mereka tangani.
“Banyak anak dengan spektrum autisme hanya mau makan satu-dua jenis makanan karena faktor sensorik yang sulit dijelaskan. Tapi siapa yang mengajarkan kita cara menghadapi ini? Di banyak daerah, solusi ini masih asing,” ujar Dr. Ruwinah Abdul Karim, Clinical Director PSLC.
Baca juga: Anak Autis Tak Suka Dipeluk? PSLC Ungkap Penyebab Sensoriknya
Penyebab Anak Autisme Hanya Mau Makanan Tertentu
PSLC menjelaskan bahwa faktor utama di balik perilaku pilih-pilih makanan pada anak autis adalah sensitivitas sensorik. Anak dengan autisme cenderung memiliki kepekaan tinggi terhadap berbagai stimulus indrawi, seperti rasa, bau, tekstur, warna, bahkan suara makanan.
Akibatnya, banyak makanan terasa “asing” atau tidak nyaman bagi mereka, sehingga mereka hanya merasa aman dan tenang dengan jenis makanan tertentu yang sudah dikenalnya sejak lama.
“Cara tubuh dan otak mereka memproses rangsangan berbeda dari anak pada umumnya, sehingga pilihan makan mereka pun jadi sangat terbatas,” tambah Wina, sapaan akrab Dr. Ruwinah.
Baca juga: PSLC Ungkap Fakta Anak Autis Sering Menyakiti Diri
Dampak Selektivitas Makanan pada Anak Autis
Tak hanya berdampak pada gizi, kebiasaan makan terbatas ini juga memengaruhi emosi keluarga. Orang tua sering kali mengalami stres karena upaya mengenalkan makanan baru justru berujung pada penolakan, tantrum, bahkan mogok makan.
Hal ini menunjukkan bahwa penanganan selektivitas makanan pada anak autisme tak bisa disamakan dengan anak biasa yang disebut ‘susah makan’. Diperlukan pendekatan khusus yang memahami kondisi sensorik dan psikologis anak.
Peran PSLC dan PSLCNet dalam Menangani Masalah Makan Anak Autis
Menjawab tantangan ini, PSLC menghadirkan PSLCNet, sebuah jaringan pusat edukasi dan terapi yang telah hadir di berbagai daerah di Indonesia. PSLCNet mengembangkan beragam program seperti terapi integrasi sensorik, pelatihan perilaku makan, serta edukasi untuk keluarga.
Melalui pendekatan terstruktur dan dukungan konsisten dari keluarga, anak autis bisa perlahan menerima makanan baru tanpa memicu stres berlebihan.
“PSLCNet membuka ruang bagi siapa pun yang ingin menghadirkan tempat edukasi dan terapi yang benar-benar memahami bahwa masalah makan bukan sekadar soal anak susah diatur,” jelas Wina.
Dengan pemahaman dan intervensi yang tepat, seperti pendekatan sensorik yang diterapkan PSLC, orang tua dapat membantu anak belajar menerima lebih banyak ragam makanan untuk mendukung tumbuh kembang optimal mereka.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
redaktur: jatmiko
























