Tugumalang.id – “Kita itu semua akting, kecuali saat tidur,” kutipan yang paling diingat dari sosok Sindu Dohir Herlianto saat berbincang di sebuah warung kopi belakang kantor DPRD Kota Malang, Selasa (6/5/2025).
Penampilannya sederhana, mengenakan baju kain dan celana bahan. Berbicara dengan nada pelan sesekali berisi humor. Rambutnya panjang dengan diikat ke belakang. Satu lagi yang khas dari sosok kelahiran Probolinggo itu membawa kotak berisi tembakau dan kerta rokok.
Sesekali aktor yang pernah main di film Yowis Ben 3 itu menggulung tembakau, membakar dan menghisapnya dengan dalam lalu perlahan melepaskan asapnya. Diapun mulai menceritakan sejarah perjalanan hidupnya di dunia keaktoran.
Baca Juga: Cerita Husen Membuat Usaha Gelas yang Bisa Dimakan
Sosok dosen di Universitas Gajayana Malang (Uniga Malang) itu pernah bermain di sejumlah film baik film pendek maupun layar lebar. Di antaranya, Memorial, Yowis Ben 3, Kelangan, Thole Golek Susuh Angin, A Pain Thing, Mimpi Tak Bertepi, Aroma Rindu, dan banyak lagi lainnya. Pengalaman keaktoran itu yang membuat mendirikan Studi Akting Malang (SAM) pada tahun 2020 lalu.
Dari Panggung Rakyat ke Aktor Film
Dalam kesempatan itu, pria yang akrab disapa Cak Sindu itu memulai cerita hidup dari soal nama. Memang William Shakespeare penah bilang, apalah arti sebuah nama. Tetapi, bagi Cak Sindu nama itu adalah sejarah.

Menurutnya, namanya bukan berasal dari silsilah, melainkan ia dapatkan pada masa kuliah di Universitas Gajayana Malang. Teman-temannya waktu itu memanggilnya “Do”, lalu “Siendo”, hingga akhirnya berubah menjadi “Sindu”. Panggilan iseng itu pun melekat begitu kuat, bahkan sampai banyak yang tak mengetahui nama aslinya.
Nama aslinya Dohir Herliato. Pada kata terakhir salah ketik di ijazahnya saat sekolah, karena sebenarnya “Herlianto” bukan “Herliato”. Dari beberapa peristiwa nama ini, kalau disambung nama Cak Sindu adalah Sindu Dohir Herlianto.
Cak Sindu lahir dari keluarga yang sarat dengan seni tradisi. Darah kesenian sudah melekat dalam dirinya sejak belia. Kakeknya memiliki kelompok ludruk dan sering mengadakan pagelaran seni.
Baca Juga: Cerita Bagus Sadewa Sukses Meraih Juara 1 STMJ 2025 sebagai Ajang Pembuktian Diri di Dunia Stand Up Comedy
Sementara ayahnya membangun kelompok pertunjukan Glipang, kesenian khas Probolinggo. Sejak kecil, ia telah terbiasa berada di lingkungan pertunjukan, menyaksikan kesenian sebagai bagian dari kehidupannya sehari-hari.
Namun kecintaannya pada seni tidak hanya berhenti pada panggung tradisional. Saat duduk di bangku SMP, ia mulai menyukai bahasa Inggris, lalu menaruh perhatian besar pada puisi, karya tulis, dan seni pertunjukan.
Pilihan kuliah di Jurusan Sastra Inggris Universitas Gajayana Malang pun menjadi tekadnya, perpaduan antara seni dan bahasa yang ia sukai.
Lucunya, keputusan untuk kuliah di Malang berawal dari kejadian sepele namun sangat menentukan masa depannya. Saat kecil, ia secara kebetulan diajak ayahnya menjual mangga ke Kota Pendidikan ini.
Pengalaman singkat itu membuat ia tertarik untuk berkuliah di Kota Malang. Ia rasa, iklim di Malang sangat cocok dengannya, tidak seperti di Probolinggo dengan cuaca panasnya.
Semasa kuliah, Cak Sindu aktif di UKM teater, rajin mengikuti lomba, dan menggeluti dunia seni pertunjukan dengan serius. Setelah lulus, sosok yang berperan sebagai Pak Indra di film A Pain Thing itu menjadi sutradara, pelatih, dan juga pemain.
Dari proses panjang itulah dia bisa bermain di banyak film dan gagasan untuk mendirikan sekolah akting mulai tumbuh. Bersama rekan dan murid-muridnya, pada tahun 2020 secara resmi ia mendirikan Studi Akting Malang (SAM).
Makna Akting bagi Cak Sindu
Bagi Cak Sindu, akting bukan semata soal menjadi tokoh di atas panggung. Akting, katanya, adalah bagian dari hidup itu sendiri.
“Setiap profesi membutuhkan akting. Akting bukan hanya untuk pertunjukan, tapi juga untuk menjalani hidup. Kita hidup itu selalu berakting kecuali pada saat tidur,” jelasnya.
Akting, kata dia, adalah ilmu yang dapat memaksimalkan intelektualitas, sensitivitas, emosi, dan bahasa tubuh yang kodratnya sudah dimiliki oleh manusia. Bahkan lebih dalam lagi, akting bisa menjadi sarana untuk mengenali keaslian seseorang.
“Kalau pengin tahu keaslian seseorang, jangan dilihat yang tampak, jangan dilihat dari yang dibicarakan. Yang asli adalah yang tidak tampak dan tidak dibicarakan,” imbuhnya lagi bijak.
Melalui SAM, Cak Sindu ingin menghadirkan ruang belajar yang bukan hanya tentang teknik akting sebagai pertunjukan, tapi juga tentang pembangunan karakter dan kepercayaan diri.
Ia percaya, kepercayaan diri tumbuh ketika seseorang mampu mengenali sisi dirinya yang layak untuk dipercayai. Dan, ketika kepercayaan diri itu tumbuh, seseorang akan mampu menempatkan dirinya di berbagai situasi dan kondisi.
“Setiap dari kita adalah bacaan bagi orang lain. Tinggal pilih, kamu mau jadi bacaan yang berkualitas atau tidak,” papar alumni pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo itu.
Kini, setelah sekian tahun, Cak Sindu nyaris tak pernah benar-benar keluar dari dunia akting sejak pertama kali menyentuhnya di UKM kampus. Baginya, seni bukan hanya soal panggung tetapi soal hidup yang dijalani dengan penuh kesadaran.
Sebelum mengakhiri perbincangan kami, Cak Sindu berpesan kepada generai muda. “Cerdaslah. Jadilah subjek dalam hidupmu, jangan jadi objek. Dan lebih penting lagi, maafkan dirimu sendiri,” pesannya.
Pesan itu bukan sebagai nasihat tapi sebagai kesimpulan hidup. Dari panggung rakyat masa kecil, ke ruang kelas sastra, ke pentas-pentas kecil yang ia garap sendiri, Cak Sindu tak hanya memerankan hidup, ia memaknainya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Hailatun Nada Salsabila/Magang
Editor: Herlianto. A
























