Tugumalang.id – Nama Dr. Mohammad Iqbal, S.Sos., MIB., DBA., CPM (Asia) menjadi kandidat kuat yang akan menjabat posisi strategis sebagai dekan di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) saat ini.
Mari mengenal lebih dekat sosok Dr Iqbal dengan segudang prestasi dan kontribusi akademik kelas dunia ini.
Dr Iqbal ialah akademisi dan birokrat kampus yang saat ini menjabat sebagai Direktur Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains & Teknologi (DIKST) UB.
Sebelum menjabat sebagai Direktur DIKST, beliau juga menjabat sebagai Associate Professor dan Ketua Jurusan Administrasi Bisnis di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (2021–2023).
Baca Juga: Universitas Brawijaya Temukan Mikroalga Baru: 2 Genus dan 7 Spesies Perairan Nusantara
Ia memiliki latar belakang pendidikan berjenjang meliputi gelar sarjana dari UB, Magister International Business dari University of Wollongong, Australia hingga gelar doktor dari Victoria University, Melbourne.
Tak heran jika ia memiliki keahlian di berbagai bidang mulai Kewirausahaan, Ekonomi dan Bisnis Internasional, Manajemen Strategis, Pemasaran Strategis hingga Manajemen Inovasi Google Scholar+4fia.ub.ac.id+4Google Books+4.
Sebelum memimpin DIKST UB, Dr. Iqbal aktif dalam pengembangan kurikulum dan riset di lingkungan FIA UB, khususnya dalam bidang kewirausahaan, manajemen strategis, dan pemasaran internasional.
Sebagai Direktur DIKST, ia menjadi motor penggerak sinergi antara universitas, industri, dan pemerintah dalam ekosistem inovasi.
1. Capaian dan Program Inovatif
Di bawah kepemimpinannya, berbagai capaian dan program inovatifnya mengantar Departemen Administrasi Bisnis mengalami peningkatan dalam kualitas akademik, akreditasi, serta kolaborasi internasional.
Dr Iqbal menjadi sosok pendorong hilirisasi hasil riset melalui inkubasi produk dan perlindungan kekayaan intelektual di platform UB.
Baca Juga: Calon Mahasiswa Baru Wajib Tahu! Universitas Brawijaya Rilis Jadwal Seleksi Mandiri 2025
Ia juga tercatat memfasilitasi kerja sama strategis dengan Asosiasi Konsultan HKI, Telkomsel (IndonesiaNEXT), dan pelaku industri seperti PT Ghania Berkah Ashiya untuk mendukung komersialisasi inovasi kampus.
Program Kedai Kopi Digital juga menjadi salah satu inovasi terbaiknya baru-baru ini. Program ini menjadi bentuk pengabdian masyarakat berbasis inovasi, yang mendorong desa wisata naik kelas secara digital.
Program ini adalah contoh nyata integrasi riset, pembelajaran, dan pemberdayaan masyarakat, yang memperkuat posisi UB sebagai universitas yang berdaya guna secara sosial dan ekonomi.
Dr Iqbal juga tercatat aktif dalam penelitian dan publikasi ilmiah, dengan lebih dari 49 publikasi yang mencakup beragam topik mulai inovasi, kewirausahaan, dan manajemen strategis.
Keaktifan ini dibuktikan dari hasil SINTA Score keseluruhan sebesar 2.018 dan Scopus H-Index 9, menunjukkan kontribusi signifikan dalam bidang akademik di Indonesia.
Ia juga tercatat beberapa kali diundang menjadi narasumber. Salah satunya menjadi pembicara tamu dalam konferensi internasional, seperti International Hospitality & Tourism Conference (IHTC) 2022 di Malaysia, membahas tantangan dan tren dalam pariwisata Asia Tenggara.
2. Sosok Pemimpin Visioner dan Kolaboratif
Secara kepemimpinan, Dr. Iqbal dikenal memiliki gaya kepemimpinan transformasional, mendorong perubahan struktural yang menyentuh aspek riset, inovasi, dan jejaring industri.
Kepemimpinannya tak hanya administratif, tapi juga berkarakter kolaboratif dan inspiratif, membuka ruang interaksi lintas fakultas dan lintas sektor.
Selama ini, ia dikenal konsisten memperkuat budaya akademik yang adaptif, terbuka terhadap teknologi, dan berorientasi pada solusi nyata bagi masyarakat.
3. Kontribusi terhadap Perkembangan Akademik UB
Dr. Iqbal juga memainkan peran penting dalam meningkatkan relevansi akademik UB di tingkat nasional dan internasional, melalui perluasan jaringan kolaborasi, baik dalam riset maupun pengabdian.
Ia terbukti mampu meningkatkan daya saing institusi dengan mendorong dosen dan mahasiswa untuk terlibat dalam inovasi digital dan kewirausahaan sosial.
Buktinya, DIKST kini dikenal sebagai pusat unggulan pengembangan teknologi dan inovasi berbasis riset, memperkuat posisi UB sebagai universitas kelas dunia berbasis riset.
Sebagai contoh, program hilirisasi inovasi dan pelatihan kewirausahaan berbasis teknologi, Dr. Iqbal telah menjadikan DIKST sebagai learning laboratory yang memperkuat pendekatan experiential learning.
Pembelajaran di Fakultas Ilmu Administrasi tidak lagi hanya berbasis teori, tetapi dikaitkan dengan praktik riil melalui inkubasi bisnis, proyek inovasi, dan digitalisasi desa.
Dalam bidang penelitian, Dr. Iqbal mendorong skema pendanaan dan perlindungan HKI untuk riset dosen dan mahasiswa, sehingga meningkatkan kuantitas dan kualitas publikasi serta output riset yang aplikatif.
DIKST menjadi perantara antara kampus dan industri, menjadikan penelitian tidak hanya sebagai jurnal, tetapi juga untuk solusi konkret dan produk yang berguna.
Selain pendidikan, ia juga terlibat aktif dalam hal pengembangan kapasitas SDM dan daya saing institusi. Contohnya, Dr. Iqbal adalah sosok yang membuka ruang partisipasi aktif dosen dan mahasiswa dalam berbagai program pelatihan, workshop inovasi, hingga pendampingan HKI dan start-up.
Hal ini mendorong peningkatan kompetensi SDM akademik dan tenaga kependidikan dalam bidang manajemen inovasi, digitalisasi administrasi, dan komunikasi lintas sektor.
DIKST juga aktif mempertemukan aktor dari berbagai fakultas dan sektor, membentuk budaya kerja lintas disiplin yang memperkuat keterampilan kolaboratif dan kepemimpinan.
Penguatan kapasitas internal itu masih didukung dengan skill manajerial dan keilmuan administrasi yang ia terapkan selama ini. Kepemimpinan Dr. Iqbal menunjukkan kemampuan manajerial tingkat tinggi: perencanaan strategis, mobilisasi sumber daya, komunikasi kelembagaan, dan pengelolaan stakeholder.
Ia merepresentasikan penerapan nyata ilmu administrasi publik dan bisnis khususnya dalam aspek governance, innovation management dan policy entrepreneurship.
Melalui peranannya, beliau menunjukkan bahwa ilmu administrasi tidak berhenti pada teori birokrasi, melainkan hidup dalam inovasi, perubahan sosial, dan tata kelola yang adaptif.
4. Sosok Representatif Antar UB Jadi Universitas Kelas Dunia
Hingga kemudian, kepemimpinannya berbuah positif bagi perkembangan universitas di skala nasional maupun internasional. Contoh konkritnya yakni skema kerja sama dengan asosiasi seperti Asia Council for Small Business (ACSB) menunjukkan orientasi internasional dari kepemimpinannya.
DIKST menjadi platform UB untuk hadir dalam diskursus inovasi global, sekaligus memperkenalkan model tata kelola inovasi khas Indonesia kepada dunia.
Dengan rekam jejak akademik yang kuat dan pengalaman internasional, Dr. Iqbal memperkuat citra UB sebagai bagian dari komunitas akademik internasional yang kompetitif dan berpengaruh.
Melihat segudang capaian prestasi itu, tidak ada kata tak layak yang menjadikannya sosok kandidat yang kuat dijadikan sebagai Dekan.
Dr Iqbal dikenal sebagai akademisi dan pemimpin yang berdedikasi dalam mengembangkan pendidikan administrasi bisnis di Indonesia.
Dengan latar belakang pendidikan internasional dan pengalaman kepemimpinan yang luas, beliau terus berkontribusi dalam memajukan kualitas pendidikan dan penelitian di Universitas Brawijaya serta di tingkat nasional maupun dunia. Serta tetap relevan dan adaptif di era ekonomi digital dan tata kelola berbasis inovasi.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A
























