Malang, Tugumalang.id – Universitas Ma Chung memadukan orientasi mahasiswa baru dengan pengenalan budaya melalui Ma Chung Festival (MCF) dan Chinese Indonesian Festival (ChiFest) 2026.
Rangkaian MCF mencapai puncaknya pada 12 September 2026 melalui malam pentas Inaugurasi. Mahasiswa baru tampil membawakan drama musikal setelah mengikuti berbagai kegiatan orientasi sejak awal masuk Universitas Ma Chung.
MCF merupakan rangkaian orientasi mahasiswa baru Universitas Ma Chung yang telah berlangsung sejak kampus tersebut berdiri pada 2007. Kegiatannya mencakup Ma Chung Race, Krida, Study Skills, OBOR (Orientation Based on Reflection), LK Days, hingga Semarak 17 Agustus.
Ma Chung Race mengajak mahasiswa mengenal berbagai unit kerja kampus. Krida membekali mahasiswa dengan sikap antikekerasan seksual dan cinta tanah air. Sementara Study Skills mengasah keterampilan presentasi, digital, dan keterampilan lainnya.
OBOR digunakan untuk pembentukan karakter mahasiswa. LK Days memperkenalkan organisasi kemahasiswaan. Sedangkan Semarak 17 Agustus menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang menumbuhkan semangat kebangsaan dan kekompakan antarkelompok.
Baca juga: CHIFEST 2026 Universitas Ma Chung Perkuat Akulturasi Budaya Indonesia-Tionghoa
Orang tua atau wali mahasiswa juga diundang hadir dalam rangkaian MCF. Mereka dapat mengenal lebih dekat lingkungan akademik putra-putrinya di Universitas Ma Chung.
Setelah MCF berakhir, mahasiswa baru mengikuti ChiFest 2026 pada 19–20 September 2026. Festival tersebut mengusung tema “Fostering Transformative Convergence: Chinese Indonesian Cultural Harmony”.
Rektor Universitas Ma Chung Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra Menahen Taneo, M.S., M.Sc. mengatakan ChiFest menjadi ruang perjumpaan budaya Tionghoa dan Indonesia.
“Melalui CHIFEST, kami ingin menunjukkan bahwa ketika budaya yang berbeda bertemu dengan keterbukaan dan saling menghargai, perjumpaan tersebut dapat menghasilkan transformasi yang positif. Harmoni budaya bukan hanya tentang hidup berdampingan, tetapi tentang bagaimana kita belajar dari satu sama lain dan bersama-sama menciptakan nilai baru bagi masyarakat,” ujar Stefanus.
Dalam ChiFest, mahasiswa baru mendapat mission card untuk menjelajahi berbagai bagian festival. Di Chinese Corner, mereka dapat mengikuti pengalaman interaktif seperti Mahjong, Shufa atau kaligrafi Tionghoa, Paper Cutting, Chinese Knot, dan menghias lampion.
Baca juga: CHIFEST 2026 Universitas Ma Chung Hadirkan Perjumpaan Budaya Tionghoa dan Indonesia di Malang
Festival tersebut juga menghadirkan atraksi Barongsai, Liang-liong, dan Wayang Potehi. Mahasiswa dapat mengunjungi Mini Museum Ma Chung yang menelusuri kontribusi komunitas Tionghoa dalam perjalanan pendidikan Kota Malang.
Selain itu, terdapat Bazaar Kuliner dengan sajian Indonesia, Tionghoa, dan Peranakan. Mission card membuat mahasiswa baru berkeliling dan mengikuti berbagai aktivitas di setiap booth.
Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Wawan Eko Yulianto, Ph.D. mengatakan perjumpaan budaya menjadi bagian penting dalam ChiFest.
“Convergence menjadi penting karena budaya berkembang melalui perjumpaan. CHIFEST memberikan ruang bagi generasi muda untuk melihat bahwa budaya Tionghoa dan Indonesia bukan dua dunia yang berdiri sendiri. Keduanya telah berinteraksi dan saling memperkaya selama bertahun-tahun. Kami ingin generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut mengalami, memahami, dan meneruskan harmoni tersebut,” ujar Wawan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis Humas Universitas Ma Chung
editor: jatmiko































