Tugumalang.id – Persepsi umum tentang kesehatan mental seringkali keliru. Ini bukan hanya isu perempuan. Faktanya, data di tingkat global membuktikan pria memiliki risiko yang sama besarnya untuk mengalami gangguan mental, bahkan terkadang lebih tinggi.
Namun sayangnya, masalah ini seringkali terabaikan begitu saja. Sejumlah penelitian dan laporan internasional mengungkap bahwa masalah ini bukan hanya soal individu, melainkan juga menyentuh persoalan sosial, ekonomi, hingga budaya.
Pria Lebih Rentan Bunuh Diri
Salah satu data paling mencolok datang dari laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mencatat bahwa angka bunuh diri pria secara global 2 hingga 4 kali lebih tinggi daripada wanita.
Baca Juga: Cek Kesehatan Mental Gratis, Begini Caranya!
Faktanya bahwa sebanyak tujuh puluh sembilan persen dari semua kasus bunuh diri adalah pria. Meski jumlah pria dan wanita hampir seimbang dalam populasi, disparitas ini menyoroti dampak serius dari kesehatan mental yang tidak tertangani.
Salah satu penyebabnya adalah cara pria mengekspresikan tekanan mental yang berbeda dari wanita. Banyak pria mengalami gejala depresi melalui kelelahan ekstrem, mudah marah, atau gangguan fisik seperti nyeri, dibandingkan menangis atau merasa sedih. Hal ini bisa menyebabkan kesulitan dalam diagnosis dan pengobatan yang tepat waktu.
Enggan Mencari Bantuan: Antara Stigma dan Maskulinitas
Salah satu masalah utama adalah minimnya pria yang mencari pertolongan. Data menunjukkan bahwa sekitar 60% pria dewasa yang mengalami depresi atau kecemasan tidak pernah mencari bantuan profesional.
Baca Juga: In House Business Mentality Training, Komitmen Kampus Desa Indonesia Cetak Pengusaha Muda Malang Raya
Banyak yang merasa malu, takut dianggap lemah, atau percaya bahwa membicarakan masalah pribadi bukanlah sifat “laki-laki sejati”.
Hasil penelitian Priory Group di Inggris menunjukkan bahwa banyak pria kesulitan untuk terbuka soal kesehatan mental mereka. Hampir 40 persen pria mengaku tidak pernah curhat ke siapapun tentang apa yang mereka rasakan.
Bahkan, lebih dari 20 persen pria merasa sungkan ngobrol dengan dokter umum soal masalah mental karena takut dikira cuma buang-buang waktu dokter.
Depresi, Kecemasan, dan Gangguan Mental Lain yang Menyerang Pria
Laporan dari WHO menunjukkan bahwa diperkirakan sekitar seperlima dari seluruh pria akan mengalami depresi berat dalam perjalanan hidup mereka.
Di Amerika Serikat, lebih dari enam juta pria didiagnosa depresi setiap tahun, dan sekitar 14 persen berjuang dengan gangguan kecemasan.
Walaupun perempuan secara statistik lebih banyak teridentifikasi, gangguan-gangguan ini tetap memberikan pengaruh besar pada kesehatan mental pria.
Selain itu, pria memiliki risiko lebih tinggi terkena skizofrenia di usia muda dan gangguan bipolar. Meskipun gangguan makan seperti bulimia dan anoreksia lebih sering dihubungkan dengan wanita, sekitar sepuluh persen penderitanya adalah laki-laki.
Ketika Kesehatan Mental Menjadi Masalah Ekonomi
Masalah kesehatan mental yang terabaikan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan.
Di Amerika Serikat, diperkirakan penyakit mental serius menyebabkan hilangnya produktivitas senilai 193,2 miliar dolar AS setiap tahunnya.
Lebih jauh lagi, secara global, depresi dan kecemasan mengakibatkan kerugian ekonomi yang mencapai angka fantastis, yaitu 1 triliun dolar per tahun.
Angka ini bahkan belum memperhitungkan dampak ekonomi dari tingginya angka pengangguran di antara mereka yang berjuang dengan gangguan mental.
Jalan Keluar: Solusi Ada, Tapi Butuh Dukungan
Meski angka-angka ini mengkhawatirkan, ada harapan. Terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), olahraga rutin seperti ikut gym, layanan kesehatan digital (e-health), dan kelompok pendukung sebaya terbukti efektif dalam membantu pria pulih dari gangguan mental.
Namun, keberhasilan ini sangat tergantung pada seberapa banyak pria yang mau dan berani mencari bantuan.
Kesehatan mental pria adalah isu penting yang selama ini kurang mendapat sorotan. Tingginya angka bunuh diri, rendahnya tingkat pencarian bantuan, serta stigma sosial yang kuat menjadi hambatan utama.
Mengubah narasi tentang maskulinitas, membuka ruang diskusi yang sehat, serta menyediakan layanan yang mudah diakses menjadi langkah awal yang mendesak.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Muhammad Veri Adrianto Ivansa (Magang)
Editor: Herlianto. A
























