MALANG, Tugumalang.id – Dalam satu tahun terakhir, omzet pedagang tanaman hias di Batu dan Surabaya terus mengalami penurunan. Di tengah kondisi sulit ini, banyak pedagang mengandalkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank BRI untuk tetap bertahan.
Tono, salah satu pedagang di Pasar Bunga Sekar Mulyo, Batu, menyebutkan bahwa lesunya penjualan saat ini bahkan lebih parah dibandingkan masa pandemi COVID-19 maupun krisis moneter tahun 1998.
“Ada masa di mana selama seminggu, saya tidak menjual satu pun tanaman. Bahkan ada pedagang yang hampir satu bulan dagangannya tidak laku,” ujar Tono, Minggu (27/4/2025).

Meski tidak sepenuhnya nihil penjualan, Tono mengatakan pola belanja konsumen kini semakin tidak terprediksi, sehingga omzet bulanan menjadi tidak menentu.
Baca juga: KUR BRI, Solusi Pedagang Pasar Bunga Bratang Tambah Modal Usaha
Menghadapi situasi tersebut, para pedagang memanfaatkan fasilitas KUR BRI melalui program Klasterku Hidupku yang telah berjalan sejak 2021. Program ini memberikan kemudahan akses permodalan bagi pelaku usaha, termasuk pedagang tanaman hias di Pasar Bunga Sekar Mulyo.
“Pengajuan pinjaman cukup mudah, bahkan kami tidak perlu ke kantor BRI. Setiap hari Selasa, ada mantri BRI yang datang langsung ke pasar,” jelas Tono.
Ia sendiri sudah tiga kali mengajukan pinjaman KUR. Pertama sebesar Rp25 juta, lalu setelah lunas ia mengajukan Rp50 juta, dan kini pinjaman ketiga sebesar Rp100 juta.
“Saya juga sempat meminta BRI untuk membantu teman-teman pedagang melalui kemitraan KUR. Puji Tuhan, bisa,” tutur mantan Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Bunga Sekar Mulyo tersebut.

Tono menambahkan, mantri BRI yang bertugas rutin mendatangi pasar setiap Selasa untuk menerima setoran tabungan dan mengingatkan pedagang terkait jadwal angsuran. Ia pun mendorong rekan-rekan pedagang untuk rajin menabung setiap minggu agar saldo rekening mencukupi saat jatuh tempo pembayaran.
Menurut Tono, kedisiplinan pedagang dalam membayar angsuran membuat pihak BRI semakin percaya dan memberikan kemudahan dalam proses pengajuan KUR. Bahkan, untuk mempercepat pencairan, pedagang cukup datang ke kantor untuk tanda tangan dokumen, dan dana bisa cair dalam 2–3 hari.
“BRI sudah kenal karakter pedagang di sini, jadi proses KUR lebih cepat,” katanya.
Kondisi serupa juga dirasakan pedagang tanaman hias di Pasar Bunga Bratang, Surabaya. Edi Urbayanto, salah satu pedagang, mengaku omzetnya menurun drastis dalam 3–4 tahun terakhir.
Baca juga: BRI Permudah Pedagang Pasar Bunga Sekar Mulyo Batu Menabung dan Bertransaksi
Namun, Edi tidak menyerah. Ia mengajukan KUR BRI untuk menambah modal usaha setelah bergabung dalam Klaster Tanaman Hias program Klasterku Hidupku BRI di Pasar Bunga Bratang.
“Tahun 2024, saya pinjam Rp25 juta. Uangnya saya pakai untuk kulakan, ada juga teman pedagang yang menggunakannya untuk bayar sewa kios,” ujar Edi.
Sementara itu, Mantri BRI Unit Pujon, Hari Purnomo, menjelaskan bahwa Klasterku Hidupku merupakan program yang mengelompokkan pelaku usaha sejenis dalam satu komunitas. Salah satunya adalah klaster tanaman hias.

Meski demikian, Hari menegaskan bahwa pengajuan KUR tetap mengikuti prosedur dan pemeriksaan administrasi. Jika tidak memenuhi syarat, permohonan akan ditolak.
“Ada beberapa persyaratan wajib untuk KUR. Tetapi kami tetap dampingi mereka, termasuk dalam edukasi keuangan dan transaksi digital,” jelas Hari.
Dengan dukungan KUR BRI, para pedagang tanaman hias di Batu dan Surabaya berharap bisa terus bertahan dan bangkit di tengah tantangan ekonomi.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
redaktur: jatmiko
























