Sabtu, Agustus 8, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Menggali Makna Sosial di Balik Lagu ‘Hari Lebaran’ Karya Ismail Marzuki

Redaksi by Redaksi
April 1, 2025 6:15 am
in Catatan
Selamat Lebaran karya Ismail Marzuki

foto/dok.rri.co.id

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

HARI LEBARAN
Setelah berpuasa satu bulan lamanya. Berzakat fitrah menurut perintah agama.Kini kita beridul fitri berbahagia. Mari kita berlebaran bersuka gembira.
Berjabatan tangan sambil bermaaf-maafan. Hilang dendam habis marah di hari lebaran

Minal aidin wal faidzin. Maafkan lahir dan batin. Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin.
Dari segala penjuru mengalir ke kota, rakyat desa berpakaian baru serba indah.
Setahun sekali naik terem listrik perey. Hilir mudik jalan kaki pincang sampai sore.
Akibatnya tengteng selop sepatu terompe, kakinya pada lecet babak belur berabe

READ ALSO

Kyai Fuad Mun’im Ploso, Bau Rokok yang Khas, dan Hati yang Menghadirkan

Ketika Biaya Hidup Membuka Pintu Eksploitasi Seksual

Maafkan lahir dan batin,’lang tahun hidup prihatin. Cari wang jangan bingungin,’lan Syawal kita ngawinin

Cara orang kota berlebaran lain lagi, kesempatan ini dipakai buat berjudi.
Sehari semalam main ceki mabuk brandi. Pulang sempoyongan kalah main pukul istri.
Akibatnya sang ketupat melayang ke mate. Si penjudi mateng biru dirangsang si istri

Maafkan lahir dan batin,’lang taon hidup prihatin. Kondangan boleh kurangin. Korupsi jangan kerjain

Lagu ‘Hari Lebaran’ diciptakan Ismail Marzuki di tahun 1950-an, tak lama setelah Belanda hengkang dari Indonesia pada akhir 1949. Dikutip dari laman rri.co.id, Lagu ini diyakini pertama kali dinyayikan Didi, nama samaran dari Suyoso Karsono, diiringi group vokal Lima Seirama, kala itu perekaman dilakukan di Studio RRI Jakarta.

Lagu ini bukan sekadar lagu perayaan Idul Fitri, tetapi juga cerminan sosial yang menggambarkan berbagai fenomena di masyarakat saat hari raya tiba. Dengan lirik yang bernuansa ceria namun kritis, lagu ini berhasil mengabadikan tradisi, kegembiraan, dan juga ironi yang kerap terjadi saat momen lebaran.

Baca juga: Ini 8 Titik Rawan Macet di Kota Batu Selama Lebaran 2025

Salah satu kekuatan utama dari lagu ini adalah bagaimana Ismail Marzuki merangkum esensi Idul Fitri sebagai hari kemenangan setelah berpuasa selama satu bulan. Lirik seperti “Setelah berpuasa satu bulan lamanya, Berzakat fitrah menurut perintah agama” menggambarkan kewajiban yang dijalankan umat Islam sebelum menyambut hari kemenangan. Selain itu, aspek kebersamaan dan kebahagiaan juga ditonjolkan dalam bait “Kini kita beridul fitri berbahagia, Mari kita berlebaran bersuka gembira” yang mencerminkan semangat Idul Fitri sebagai hari untuk saling memaafkan dan merayakan.

Namun, di balik nuansa kebahagiaan tersebut, Ismail Marzuki dengan cerdas menyisipkan kritik sosial terhadap fenomena yang terjadi saat lebaran. Salah satunya adalah bagaimana masyarakat desa berbondong-bondong ke kota dengan mengenakan pakaian baru, tetapi di sisi lain, banyak yang menghadapi kesulitan akibat perjalanan panjang dan melelahkan. Lirik “Hilir mudik jalan kaki pincang sampai sore, Akibatnya tengteng selop sepatu terompe” menunjukkan realitas bahwa tradisi mudik tidak selalu berjalan dengan nyaman bagi semua orang.

Kritik yang lebih tajam muncul pada bagian akhir lagu, di mana Ismail Marzuki menyoroti perilaku negatif sebagian masyarakat kota yang menyalahgunakan momen lebaran untuk berjudi dan mabuk-mabukan. Padahal itu tidak hanya terjadi di kota, tetapi di desa pun juga terjadi fenomena itu. Lirik seperti “Kesempatan ini dipakai buat berjudi, Sehari semalam main ceki mabuk brandi” mencerminkan bagaimana sebagian orang mengabaikan esensi Idul Fitri dan malah terjerumus dalam kebiasaan yang merugikan.

Baca juga: Kota Malang Diprediksi Banjir Wisatawan saat Libur Lebaran

Bahkan, lirik terakhir lagu ini menyentil praktik korupsi yang marak terjadi, dengan kalimat “Kondangan boleh kurangin, Korupsi jangan kerjain”, yang mengajak masyarakat untuk menjauhi perilaku yang merusak moral.

Kritik Ismail Marzuki terhadap korupsi dalam lagu ini tetap relevan hingga sekarang. Di berbagai sektor, praktik korupsi masih menjadi tantangan besar, merugikan masyarakat luas, dan mencederai nilai-nilai keadilan.

Korupsi di Indonesia kerap terjadi dalam berbagai bentuk, termasuk dalam distribusi bantuan sosial yang seharusnya membantu masyarakat kecil. Kasus-kasus penyelewengan dana bansos yang mencuat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa tidak semua pemimpin benar-benar menjamin kemakmuran rakyat.

Secara ideal, pemimpin memang seharusnya menjamin kesejahteraan rakyat. Namun, di Indonesia, korupsi yang merajalela justru sering menjadi penyebab utama kemiskinan dan ketimpangan sosial. Banyak pejabat yang memperkaya diri sendiri dengan dana yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat.

Alih-alih makmur, banyak rakyat masih hidup dalam kesulitan, terutama menjelang Lebaran, ketika harga kebutuhan pokok melonjak dan biaya mudik semakin mahal. Lirik ini, jika diinterpretasikan secara kritis, terasa seperti ironi—sebuah harapan yang hingga kini masih jauh dari kenyataan.

Selain itu, fenomena pejabat pamer kemewahan saat Lebaran, mulai dari rumah mewah, pakaian mahal, hingga open house besar-besaran, sering kontras dengan kondisi rakyat yang masih kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa spirit Lebaran sebagai momen kesederhanaan dan kejujuran sering kali dikaburkan oleh praktik korupsi dan gaya hidup hedonis para elite.

Baca juga: Daftar SPBU 24 Jam di Malang Sebagai Referensi Pemudik Agar Tidak Kehabisan Bahan Bakar saat Mudik Lebaran

Sebagai komponis yang dikenal kritis terhadap kondisi sosial-politik, mungkin jika Ismail Marzuki masih hidup di era sekarang, ia akan menulis lagu Hari Lebaran dengan nuansa kritik yang lebih tajam. Bisa saja liriknya tidak sekadar berbicara tentang kemenangan dan kegembiraan, tetapi juga menjadi sindiran terhadap pejabat yang menikmati hari raya dari hasil korupsi, sementara rakyat kecil masih berjuang untuk sekadar membeli baju baru atau pulang kampung.

Lagu ini mengandung pesan moral yang kuat, mulai dari pentingnya silaturahmi, realitas sosial yang penuh tantangan, hingga kritik terhadap perilaku menyimpang seperti perjudian dan korupsi. Melalui lagu ini, Ismail Marzuki mengingatkan bahwa esensi Idul Fitri bukan hanya soal perayaan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memperbaiki diri dan menjauhi perbuatan tercela, termasuk korupsi yang merusak nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Minal aidin Wal Faidzin.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Penulis: jatmiko, redaktur tugumalang.id

Tags: hari lebaranidul fitriIsmail MarzukiKorupsiKritik sosial

Related Posts

Kyai Fuad Mun'im Ploso, Bau Rokok yang Khas, dan Hati Yang Menghadirkan
Catatan

Kyai Fuad Mun’im Ploso, Bau Rokok yang Khas, dan Hati yang Menghadirkan

Jumat, 7 Agu 2026
Ketika Biaya Hidup Membuka Pintu Eksploitasi Seksual
Catatan

Ketika Biaya Hidup Membuka Pintu Eksploitasi Seksual

Senin, 3 Agu 2026
Guru yang Menggenggam Tangan Muridnya: Mengenang 24 Tahun Kepergian Ustadz Abdullah Bin Awad Abdun
Catatan

Guru yang Menggenggam Tangan Muridnya: Mengenang 24 Tahun Kepergian Ustadz Abdullah Bin Awad Abdun

Sabtu, 1 Agu 2026
Muktamar dan Reposisi Peran Sarjana NU Abad Kedua
Catatan

Muktamar dan Reposisi Peran Sarjana NU Abad Kedua

Jumat, 31 Jul 2026
Ketika Seks Dijadikan Bukti Cinta
Catatan

Ketika Seks Dijadikan Bukti Cinta

Senin, 27 Jul 2026
kepemimpinan nu,PBNU,NU - Menjaga Keseimbangan Kepemimpinan NU
Catatan

Menjaga Keseimbangan Kepemimpinan NU

Selasa, 21 Jul 2026
Next Post
Ilustrasi mahasiswa ITN Malang. (Foto/dok. ITN Malang)

6 Alasan Mahasiswa Memilih Kampus ITN Malang

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Saweran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 07222026 2
Advtm 07222026 1
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.