Oleh: Rahmatullah, mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
Tugumalang.id – Demokrasi dipandang sebagai suatu sistem pemerintahan yang paling ideal dan dinilai paling adil. Anggapan ini yang membuat negar-negara di dunia berlomba menjadi yang paling demokratis.
Amerika Serikat menjadi protipe atau “teladan” demokrasi bagi negara-negara lain, terutama negara berkembang (developing country) untuk belajar demokrasi. Abraham Lincoln disebut sebagai tokoh utama demokrasi negeri Paman Sam itu.
Tetapi belakangan ini sepertinya demokrasi Amerika Serikat mulai diuji. Apakah demokrasi di Amerika benar-benar mewujudkan harapan dunia tentang keadilan dan kesejahteraan?
Baca Juga: PDI Perjuangan Jadi Partai Paling Diminati di Pilkada Kota Malang 2024
Sering kali, jalan yang mereka tempuh berlumpur. Mereka menghidupkan jalan dan harapan tetapi membuat aturan pihak lain yang tidak sesuai dengan kepentingannya akan dihasut dengan cara liciknya.
Itulah yang ditunjukkan oleh fakta-fakta telanjang di negara-negara timur tenga mulai dari Irak hingga Palestina, termasuk di negara-negara Afrika.
Intervensi
Amerika Serikat sering kali memposisikan dirinya sebagai pembela demokrasi di seluruh dunia dan menyebarkan nilai-nilai demokratis. Artinya, negara ini memperjuangkan kebebasan, tetapi pada praktiknya ia menjadi negara yang paling interventif di dunia.
Salah satu wilayah yang kerap menjadi sasaran intervensi Amerika adalah Amerika Latin dan Timur Tengah. Kita mafhum betapa tidak berdayanya Arab Saudi dan negara-negara teluk lainnya yang terhadap kekuatan Israel yang didukung Amerika.
Baca Juga: Satu Suara, PKS Jagokan Ludi Tanarto Maju jadi Wali Kota Batu di Pilkada 2024
Dalam di Amerika Latin, intervensi AS di kawasan ini dilakukan dengan berbagai alasan, termasuk mendorong perubahan rezim seperti yang terjadi pada saat itu El Savador dan Guetamala, mendukung oposisi terhadap pemerintahan otoriter seperti yang terjadi di Honduras.
Juga, melindungi kepentingan strategis dan ekonominya sendiri seperti yang terjadi pada Venezuela. Intervensi ini menimbulkan kontroversi dan pertanyaan mendasar: apakah intervensi Amerika benar-benar mendukung demokrasi, atau justru mencerminkan ambisi hegemoni?
Paradoks Demokrasi Semu
Meskipun tujuan lahirnya demokrasi untuk memberikan ruang dan kerangka kerja yang memungkinkan partisipasi publik dalam proses pengambilan Keputusan ataupun perdamaian yang lebih nyata, tetapi kenyataannya sering kali jauh dari harapan yang ada.
Berbagai tantangan seperti korupsi, money politik, polarisasi politik, dan ketidaksetaraan sosial-ekonomi terus menghambat upaya untuk mencapai pemerintahan yang efektif dan adil.
Suatu contoh dapat dikatakan adalah dengan adanya intervensi “Sang Amerika” pada kawasan-kawasan Amerika Lainnya yang hanya memperburuk suatu keadaan meskipun mereka berjalan untuk perdamaian dan berdasarkan cara demokrasi yang menurut mereka lebih baik dari aliran lainnya.
Fenomena-fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah demokrasi Amerika mampu membawa pemerintahan yang lebih baik, atau hanya menjadi idealisme yang sulit diwujudkan?
Apa yang mereka katakan dan menganggungkan “Demokrasi” untuk pemerintahan yang lebih baik jika cara mereka untuk menerapkan aliran tersebut harus membantai 75.000 warga sipil dengan adanya intervensi sang bapak Amerika?
Apa yang mereka katakan sebagai bapak Demokrasi modern tetapi mereka mengesampingkan kemanusiaan dan menjunjung keegoisan seperti halnya yang terjadi pada Palestina? Intervensi amerika yang mendasari dari otak demokrasi hanya sebagai label untuk kepentingan pribadinya jika terus semaki diamati.
Asa Tetap Ada
Demokrasi dengan segala kekurangannya, tetap dapat dinilai suatu sistem yang dapat memberikan harapan untuk pemerintahan yang lebih baik. Namun, harapan tersebut hanya bisa terjadi jika ada suatu niat yang kuat dari semua pihak untuk terus memperbaiki dan memperkuat prinsip- prinsip demokrasi.
Amerika, secara harfiah perjalanan demokrasinya penuh dengan nestapa, tetapi jika dapat dijalankan dengan baik tanpa menindas hak negara bagian tentu harapan akan pemerintahan yang baik bukanlah sekadar mimpi indah, melainkan dapat mewujudkan kenyataan yang dapat dicapai.
Demokrasi bukan sistem yang terbilang sempurna, tetapi jika suatu ruang dapat dimaksimalkan tentu menghasilkan perbaikan dan penyesuaian. Pemerintahan yang benar-benar memberikan suatu responsif dan akuntabel dapat mewujudkan mimpi indah menjadi kenyataan dan dapat dirasakan oleh semua lapisan Masyarakat itu sendiri.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Jatmiko























