Tugumalang.id – Abdurrahman Wahid atau yang akrab dikenal Gus Dur, tak hanya dikenal sebagai pemimpin tetapi juga seorang intelektual dengan sejumlah karya pentingnya.
Pria kelahiran Jombang, Jawa Timur, pada 4 Agustus 1940 itu tumbuh di lingkungan pesantren besar yang sangat mempengaruhi pandangannya tentang agama, kemanusiaan, dan kebudayaan.
Selain dikenal sebagai Presiden Republik Indonesia ke-4, Gus Dur dihormati sebagai ulama, intelektual, pembela pluralisme, dan simbol demokrasi Indonesia.
Baca Juga: Selamat! 15 Peserta Lolos Babak Semifinal Stand Up Malang Jeh dalam Rangka Haul Gus Dur ke-15
Pemikirannya menyentuh berbagai aspek kehidupan bangsa dan diwariskan melalui banyak tulisan serta buku yang hingga kini terus dibaca lintas generasi.
Berikut enam karya penting Gus Dur yang memberikan gambaran komprehensif tentang gagasan dan pemikirannya.
1. Tuhan Tidak Perlu Dibela
Diterbitkan pertama kali pada 1999 oleh LKiS Yogyakarta, buku ini memuat 73 kolom Gus Dur yang sebelumnya terbit di majalah Tempo sejak tahun 1970-an. Melalui tulisan-tulisan tersebut, Gus Dur menegaskan bahwa Tuhan dalam kemahakuasaan-Nya tidak memerlukan pembelaan manusia.
Sebaliknya, manusialah yang harus dilindungi dari ketidakadilan, diskriminasi, dan kekerasan yang sering kali dilakukan atas nama agama.
Buku ini memuat kritik terhadap pemikiran keagamaan, isu kebangsaan, hingga dinamika demokrasi, menjadikannya bukti kuat bahwa Gus Dur selalu menempatkan agama dalam kerangka kemanusiaan.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Buku Filsafat Ringan untuk Pemula, Bikin Paham Tanpa Pusing!
2. Islamku, Islam Anda, Islam Kita
Buku yang diterbitkan pada 2006 oleh The Wahid Institute ini berisi 94 esai yang ditulis Gus Dur setelah masa kepemimpinannya sebagai presiden.
Di dalamnya, ia menawarkan konsep bahwa Islam tidak bersifat tunggal, melainkan beragam sesuai pengalaman dan konteks sosial.
Islamku adalah Islam yang lahir dari pengalaman pribadi, Islam Anda dari pengalaman orang lain, dan Islam Kita dari ruang perjumpaan dalam kehidupan sosial. Gus Dur menolak formalisasi agama sebagai alat politik dan menekankan pentingnya Islam yang menghargai keragaman, demokrasi, serta keadilan sosial.
3. Islam Kosmopolitan: Nilai-Nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan
Terbit pada 2007 melalui The Wahid Institute, buku ini menghadirkan pemikiran Gus Dur tentang Islam yang bersifat kosmopolit, yakni Islam yang dapat hidup berdampingan dengan keberagaman etnis dan budaya di Indonesia.
Gus Dur melihat Islam sebagai agama yang terbuka terhadap perubahan dan interaksi budaya, bukan sesuatu yang tertutup atau terikat oleh batas etnis tertentu.
Melalui perspektif ini, ia menegaskan bahwa pluralitas Indonesia merupakan kekayaan yang harus dijaga dan dirawat oleh seluruh warga bangsa.
4. Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan
Diterbitkan pada 2001 oleh Desantara, buku ini mengulas hubungan antara negara, agama, dan kebudayaan. Gus Dur menolak pandangan bahwa negara berhak mengatur kebudayaan secara seragam.
Menurutnya, kebudayaan merupakan ekspresi kehidupan manusia yang lahir secara alami dari interaksi sosial dan tidak boleh dibakukan oleh kekuasaan politik.
Buku ini mendorong pembaca memahami bahwa meskipun negara harus menjaga tata hukum, perkembangan kebudayaan harus tetap mengikuti dinamika masyarakat yang majemuk.
5. Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren
Diterbitkan oleh LKiS Yogyakarta pada awal 2000-an, buku ini menghimpun esai-esai Gus Dur mengenai dunia pesantren.
Ia menempatkan pesantren sebagai institusi yang tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai pusat tradisi, budaya, serta gerakan sosial. Gus Dur menunjukkan bahwa pesantren memiliki kekuatan moral yang mampu menggerakkan perubahan sosial.
Melalui buku ini, ia menggambarkan bagaimana tradisi Islam Nusantara bisa bersinergi dengan modernitas tanpa kehilangan akar budaya.
6. Prisma Pemikiran Gus Dur
Buku ini berisi kumpulan tulisan Gus Dur yang pernah dimuat di majalah Prisma. Diterbitkan oleh LKiS pada 1999 dan dicetak ulang pada 2010, karya ini menampilkan pemikiran Gus Dur tentang hak asasi manusia, politik, pembangunan, hingga ideologi negara.
Tulisan-tulisan dari tahun 1970-an dan 1980-an menunjukkan konsistensi pandangannya dalam membela kebebasan, menentang ideologi tunggal, serta memperjuangkan hak-hak warga negara.
Buku ini menjadi salah satu referensi utama untuk memahami fondasi intelektual Gus Dur.
Enam buku di atas menunjukkan bahwa Gus Dur bukan sekadar tokoh politik atau ulama, melainkan seorang pemikir besar yang melihat Indonesia sebagai rumah bersama yang kaya akan warna dan perbedaan.
Karya-karyanya tidak hanya mengulas persoalan keagamaan, tetapi juga memotret pergulatan bangsa menghadapi modernitas, pluralitas, dan demokrasi.
Melalui tulisan yang humanis dan terbuka, Gus Dur meninggalkan warisan pemikiran yang tetap relevan dan menginspirasi hingga hari ini.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Muhammad Jazuli (magang)
Editor: Herlianto. A





























