Malang, Tugumalang.id – Universitas Islam Malang atau Unisma menorehkan momen prestisius di awal tahun 2026. Setelah dinobatkan sebagai Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) Terbaik 1 Nasional, kampus ini meluluskan 581 wisudawan dalam Rapat Terbuka Senat Wisuda Periode ke-78 yang digelar Sabtu (14/2/2026).
Momentum ini menjadi simbol transisi besar Unisma dari fase melompat menuju fase terbang melesat. Wisuda ke-78 sekaligus menjadi wisuda perdana setelah capaian prestasi nasional tersebut diraih.
Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kerja Sama Unisma periode 2024-2028, dr. Hj. Erna Sulistyowati, M.Kes., Ph.D., membenarkan bahwa para wisudawan periode ini merupakan lulusan pertama yang dikukuhkan pasca penghargaan nasional tersebut.
“Menilik data dari Webometrics Januari 2026, Unisma dinobatkan sebagai Peringkat 1 PTNU se-Indonesia. Sementara peringkat 12 Perguruan Tinggi Swasta nasional,” ungkap Erna, Jumat (13/2/2026).
Baca juga: Bangga! Mahasiswa Unisma Sukses Menyabet Silver Medal di AISEEF 2026
Transisi Besar dan Spirit Satu Abad NU
Erna menambahkan, prosesi wisuda kali ini juga berdekatan dengan Haul Akbar ke-44 Pendiri Unisma dan semangat satu abad Nahdlatul Ulama. Momentum tersebut menjadi refleksi atas perjalanan panjang kampus yang terus berkembang berkat doa dan keberkahan para muassis.
Selain itu, wisuda ke-78 turut dihadiri Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Kehadiran orang nomor satu di Jawa Timur itu sekaligus menjadi saksi penandatanganan kerja sama strategis antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Unisma dalam mendukung pembangunan daerah.
Karakter Aswaja dan Empati di Era AI
Dalam pesannya, Erna menegaskan bahwa lulusan Unisma tidak hanya dibekali ketajaman intelektual berstandar internasional, tetapi juga mesin spiritual yang kuat. Karakter Aswaja An-Nahdliyah menjadi pembeda utama.
“Mesin atau AI tidak punya empati, kebijaksanaan. Namun kami percaya bahwa lulusan kami adalah intelektual yang ulama dan ulama yang intelektual. Mereka memiliki kompas moral ketika menghadapi krisis etika global,” tegasnya.
Baca juga: PPG FKIP UNISMA Selenggarakan Orientasi Akademik Calon Guru Angkatan 1 Tahun 2026
Unisma, lanjutnya, tidak sekadar mencetak pencari kerja (job seeker), tetapi juga pencipta lapangan kerja (job creator). Komitmen tersebut ditopang oleh empat pilar unggulan, yakni:
Program Student Exchange dan Joint Degree ke Asia, Eropa, dan Timur Tengah.
Program Halaqah Diniyah dan kajian kitab kuning.
Kerja sama dengan LSP P-1 berlisensi BNSP.
Pengembangan Bio-Medicine, Smart Farming berupa pupuk hayati Unisma, serta teknologi energi terbarukan.
“Kami ingin riset mahasiswa tidak berhenti di perpustakaan. Hasil riset pakan ternak dan pupuk hayati kami sudah diadopsi di Laboratorium Jengglong dan segera diproduksi massal untuk membantu petani NU di Jawa Timur,” bebernya.
Deretan Lulusan Terbaik dengan IPK Sempurna
Wisuda periode ke-78 juga melahirkan sejumlah lulusan terbaik dari berbagai jenjang.
Lulusan terbaik pertama jenjang sarjana diraih oleh Sanggita Restria Rivana dari Fakultas Hukum dengan IPK 4,00. Ia mengangkat isu Restitusi bagi Korban Kekerasan Seksual di Pengadilan Negeri Kota Malang dalam skripsinya.
“Temuan saya menunjukkan pengajuan restitusi masih minim karena stigma terhadap korban dan kurangnya sosialisasi dari aparat penegak hukum. Saya berharap hukum lebih proaktif membela hak korban,” ungkap Sanggita yang kini magang di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Lulusan terbaik kedua diraih Sri Handayani Hermawan dari Fakultas Administrasi Publik dengan IPK 4,00 melalui penelitian efektivitas program Centing Pamer Kaos dalam penanganan stunting di Probolinggo.
“Kisah skripsi saya cukup berat karena harus menulis dua kali setelah kehilangan laptop. Motto saya hanya satu, selalu libatkan Tuhan di setiap langkah, dan hasilnya saya sendiri juga kaget,” kisahnya.
Lulusan terbaik ketiga diraih Zahiroh Nafiisah dari Pendidikan Agama Islam dengan IPK 3,98. Ia mengembangkan media pembelajaran interaktif berbasis Mentimeter untuk mata pelajaran Fiqih yang terbukti meningkatkan keaktifan siswa.
Sementara itu, lulusan terbaik jenjang magister diraih Nuke Isya Ramadhani, M.H., dari Magister Hukum dengan IPK 4,00. Ia menuntaskan studi S2 dalam 3,17 semester di tengah kesibukannya bekerja di konsultan kontraktor.
Ia menuturkan tesisnya membahas pertanggungjawaban pidana pelaku tambang terhadap kerugian negara akibat kerusakan lingkungan.
“Saya meneliti kasus yang sedang ramai seperti kasus Harvey Moeis. Harapan saya, ada regulasi khusus yang mengatur batasan nominal kerugian lingkungan agar ada kepastian hukum bagi pelaku usaha,” kata Nuke.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko





























