Malang, Tugumalang.id – Universitas Islam Malang (Unisma) angkat suara terkait dampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Melalui peran akademisi dan cendekiawan, Unisma menggaungkan pentingnya perdamaian dunia dengan mendorong lahirnya resolusi konflik berbasis kajian ilmiah dan dialog global.
Direktur Pascasarjana Unisma, Prof. M. Mas’ud Said, menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh tinggal diam di tengah situasi global yang semakin tidak menentu. Menurutnya, konflik Timur Tengah saat ini tidak hanya berdampak pada kawasan tersebut, tetapi juga merembet ke berbagai sektor kehidupan global.
Baca juga: Unisma Perkuat Kerja Sama Internasional dengan UiTM Malaysia, Targetkan Kampus Level Global 2027
Konflik Timur Tengah Berdampak pada Energi hingga Ekonomi Global
Prof. Mas’ud menjelaskan bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah membawa dampak luas terhadap berbagai sektor strategis dunia, mulai dari energi, pangan, ekonomi, hingga kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Dampaknya itu ke energi, pangan, ekonomi, keuangan, bahkan ke kehidupan masyarakat sehari hari. Perang tidak hanya terjadi di darat, laut, atau udara, tapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat luas,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Ia menilai kondisi ini menjadi panggilan bagi kalangan akademisi untuk turut berkontribusi melalui kajian ilmiah yang berorientasi pada solusi damai. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan perspektif ilmiah dalam meredam konflik global.
Unisma sendiri, lanjut dia, telah menyusun berbagai kajian akademik, termasuk menghasilkan buku mengenai resolusi konflik yang diharapkan dapat menjadi referensi dalam meredam ketegangan global.
“Tidak ada manusia yang ingin perang, tidak ada negara yang tidak ingin damai. Tapi cara yang ditempuh sebagian pemimpin dunia saat ini keliru. Ingin damai tapi membunuh, ingin damai tapi menguasai kekuasaan orang lain,” tegasnya.
Ancaman Krisis Global Jika Konflik Meluas
Prof. Mas’ud juga menyoroti eskalasi konflik yang berpotensi menimbulkan krisis global yang lebih luas jika tidak segera diatasi. Dampak tersebut dapat dirasakan langsung oleh masyarakat melalui lonjakan harga kebutuhan pokok hingga perlambatan ekonomi global.
“Kalau perang meluas, dampaknya luar biasa. Ekonomi seret, daya beli turun, kehidupan masyarakat akan terganggu. Ini yang harus diantisipasi bersama,” katanya.
Ia menilai, stabilitas global menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan ekonomi dunia. Ketidakpastian geopolitik berpotensi memicu gejolak pasar dan mengganggu distribusi energi serta pangan dunia.
Baca juga: Keunggulan FKIP Unisma: Pilihan Terbaik Calon Guru Profesional
ASEAN Dinilai Jadi Contoh Stabilitas Kawasan
Lebih lanjut, Prof. Mas’ud menekankan pentingnya peran kawasan Asia, khususnya negara-negara ASEAN sebagai contoh dalam menjaga stabilitas dan perdamaian. Menurutnya, kekuatan kerja sama regional dapat menjadi inspirasi bagi dunia di tengah konflik yang terus berulang di Timur Tengah.
“ASEAN sampai sekarang relatif solid. Ini bisa menjadi contoh bahwa negara bertetangga seharusnya saling menguatkan, bukan saling menyerang,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa konflik antarnegara sejatinya tidak dapat dihindari, namun dapat dikelola melalui kesepakatan dan pendekatan damai.
“Tidak ada negara yang tidak pernah berkonflik. Tapi dengan resolusi konflik dan komitmen perdamaian para pemimpin, konflik itu bisa direduksi,” imbuhnya.
Melalui berbagai forum akademik dan kerja sama internasional, Unisma berkomitmen untuk terus menyuarakan pentingnya perdamaian dunia. Prof. Mas’ut berharap kontribusi pemikiran dari kalangan akademisi dapat menjadi bagian dari solusi untuk meredakan ketegangan global, khususnya di kawasan Timur Tengah.
“Kalau perang besar sampai terjadi, perang dunia ketiga, semua akan runtuh. Ini yang harus kita hindari bersama,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
redaktur: jatmiko
























