Malang, Tugumalang.id – Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) menggelar diskusi nasional bertema isu strategis dan tantangan kebangsaan pada Senin (22/9/2025). Acara ini menghadirkan narasumber utama Asisten Deputi Bina Keagamaan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Prof. Dr. Asep Sunandar, M.A.P.
Dalam paparannya, Prof. Asep menekankan empat isu besar yang menjadi tantangan bangsa Indonesia ke depan. Pertama, eskalasi perubahan global yang berlangsung cepat dan tidak terduga. Kedua, perkembangan teknologi digital yang mengubah pola peradaban masyarakat. Ketiga, arus globalisasi yang membawa interaksi lintas nilai, ideologi, dan budaya. Keempat, potensi kerawanan sosial berupa konflik horizontal maupun vertikal.
Baca juga: Tutup Retreat Pimpinan Baru UIN Malang Periode 2025-2029, Rektor Ingatkan Soal Integritas dan Komitmen

“Kerawanan sosial ini dipicu oleh perbedaan latar belakang budaya, kepentingan, hingga perbedaan sosial yang berkembang pesat,” jelas Prof. Asep.
Moderasi Beragama sebagai Arah Pembangunan Nasional
Prof. Asep juga menyinggung pentingnya moderasi beragama dalam arah pembangunan bangsa. Hal ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 sebagaimana tertuang dalam UU No. 58 Tahun 2024 dan Perpres No. 12 Tahun 2025.
Ia menekankan lima indikator utama dalam implementasi moderasi beragama, yaitu:
-
Internalisasi dan aktualisasi nilai-nilai agama.
-
Pembangunan kehidupan beragama yang inklusif, rukun, dan toleran.
-
Pengembangan dana sosial keagamaan dan filantropi.
-
Peningkatan kualitas layanan kehidupan beragama secara merata.
-
Pemenuhan hak kebebasan beragama dan berkeyakinan.
“Pembangunan nasional harus memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, budaya, dan peningkatan toleransi antarumat beragama,” ungkapnya.
Baca juga: Kolaborasi Internasional, Fakultas Syariah UIN Malang Gelar Short Term Inbound Bersama Universiti Kebangsaan Malaysia
Peran Perguruan Tinggi Keagamaan
Lebih lanjut, Prof. Asep menegaskan bahwa perguruan tinggi keagamaan memiliki peran penting dalam memperkuat praktik moderasi beragama. Ada dua strategi utama yang bisa dilakukan, yaitu:
-
Adaptasi kampus keagamaan terhadap nilai moderasi beragama.
-
Rebranding moderasi beragama secara global.
“Indonesia menuju era Indonesia Emas 2045. Perguruan tinggi keagamaan harus beradaptasi dengan perkembangan zaman sekaligus menjaga moralitas, spiritualitas, dan kebangsaan yang berlandaskan pluralisme,” ujar Prof. Asep.
Dalam paparan selanjutnya, ia menjelaskan tantangan perguruan tinggi keagamaan di tengah era digital, di mana penggunaan teknologi begitu masif. Oleh karena itu, perguruan tinggi harus mampu adaptif untuk memfilter disinformasi di dunia digital yang mengancam kehidupan beragama.
Prof. Asep pun menjelaskan ada empat poin dalam arah kebijakan pendidikan tinggi keagamaan. Keempat poin penting tersebut adalah penguatan kurikulum berbasis kontekstual, penguatan literasi digital dan teknologi, peningkatan kolaborasi dan kemitraan, serta revitalisasi nilai kebangsaan dan moderasi beragama.
Di akhir penyampaian materi, Prof. Asep menyebut ada dua tantangan besar dalam penguatan peran UIN Malang menuju Indonesia Emas 2045. Terbagi dalam dua perspektif yakni lokal dan juga global melalui pengembangan keilmuan, peningkatan kapasitas dosen, kompetensi mahasiswa, serta menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang inklusif dan berwawasan multikultural.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
redaktur: jatmiko
























