Sensasi Ngopi Pagi di Kedai Klodjen Djaja 1956 Malang

  • Whatsapp
Kedai Kopi Klojen Djaja 1956. Tampak dari kejauhan seperti bangunan gedung bioskop. (foto: Dicky)

MALANG – Pagi itu sinar matahari mulai menyingsing di sudut perempatan Pasar Klojen yang ramai.  Tampak bangunan tua di atas gedungnya terpampang tiga baliho film lawas. Dari jauh terlihat seperti sebuah bioskop tua, yang sedang mempromosikan tayangan film.

Didik Sapari, owner dari Kedai kopi Klojen Djaja 1956.(foto: Dicky)

Namun ketika mendekat, di bawahnya terdapat papan nama ukuran sedang, dengan tipografi gaya 60’an, “Kedai Kopi Djaja Klodjen 1956.” bertulis tagline Diasah, Sedoeh, Sangrai. Ya, ternyata tempat ini merupakan kedai kopi berkonsep unik jadul yang belakangan ramai di kalangan warganet.

Reporter Tugumalang mencoba menikmati pengalaman ngopi di bangunan cagar budaya ini. Memasuki pintu kedai aroma kopi otentik mulai semerbak tercium, tampak mesin roasting (penyangrai) kopi, hingga suasana lawas terasa, karena didukung hiasan dinding bertemakan poster lawas.

Beberapa toples berisi biji kopi berjejer rapi diatas meja barista yang berhadapan langsung dengan meja pengunjung. Selain menu kopi, nampak kedai ini menjual rokok legendaris berbagai merek, jajanan gorengan di meja turut melengkapi suasana pagi.

Ramainya pengunjung tampak hingga trotoar depan kedai. Terlihat pula antrian pembeli daging membaur dengan pengunjung kedai kopi, karena bangunan ini bersebelahan dengan Kios Daging Bu Kaji Klojen yang legendaris.

Suasana di luar kedai kopi Klojen Djaja.(foto: Dicky)

Kami bertemu langsung dengan pengelolanya langsung, Didik Sapari. Pria yang sejak tahun 2012 menggeluti even festival kopi ini mengatakan, bahwa awalnya tidak terbesit ide untuk membuat konsep kedai kopi bertemakan kopi pasar.

Sebelumnya dia akan mengkonsep kedainya bergaya Coffee Shop Heritage yang menurutnya ribet dan perlu budget yang lebih. Ia memutuskan untuk merespon ruang dengan seadanya dengan barang bekas agar terkesan organik .

“Awalnya idenya spontan saja sih, awalnya konsepnya rodok apik mas, ternyata dari waktu ke waktu membuat konsep seperti itu yang direncanakan akan lama prosesnya. konsep kopi pasar saja, karena dekat dengan pasar klojen, Akhirnya seadanya bukan seperti Coffee Shop, tapi lebih kopi yang ada di pasar,” Terangya.

Baca Juga  Nasib Manusia Perak di Malang Bertahan Demi Rezeki di Masa Pandemi

Pria yang mulai membuka kedai Kopi Klodjen dua bulan ini mengungkapkan, dia menempatkan konsep unik dengan memasang baliho film lawas agar menarik perhatian.

“Karena ini bangunan lama wes tak buat bioskop-bioskopan ae, banyak yang tertipu dikira bioskop beneran,” lanjutnya.

Menariknya konsep kedai ini menghadirkan suasana hiruk pikuk pasar yang terkesan tradisional dan komunal. Seperti di kawasan Tanjung Pinang dan Bangka Belitung. Suasana benar-benar kopi rakyat. Pengunjung juga dapat menikmati jajanan di luar kedai. Sepeti jajanan kue basah. Karena di luar kedai banyak penjual jajanan tradisional.

Suasan dalam kedai kopi Klojen Djaja 1956. Semua kalangan mencoba merasakan suasana pagi sambil ngopi. foto: Dicky

“Kami tidak menghalangi orang bawa makanan ke sini. Biasanya kan tidak boleh membawa makanan dari luar. Kalau kami, saat pandemi seperti ini berkolaborasi saja. Saat malam di sebelah ada nasi goreng, roti bakar, lalapan, bacem, martabak terang bulan, bawa kesini tidak saya larang,” tambahnya.

Didik Sapari juga mengatakan, ini merupakan kedai ke enam yang dibuatnya, antara kedai satu dan kedai yang lainya dengan berbeda konsep. Tak kalah menariknya dari kedai kopi ini, mampu menghadirkan budaya ngopi pagi yang jarang ditemui di Malang. Jam buka dari jam 6 sampai jam 10 pagi, tutup. Kemudian buka lagi pukul 16.00 sampai 22.00.

“Saya menganalisa usaha saya kenapa buka pagi. Karena pasar itu ramainya jam 6 pagi sampai jam 10,” Terangnya.

Kedai kopi ini tidak mengkelaskan pengunjung. Terbukti pengunjung kedai kopi ini lintas usia, karena konsep kedai kopi untuk semua orang bertemu di pasar.

“yang beli juga, mohon maaf, penjual penjual gado-gado , penjual nasi kuning, tukang parkir, tukang becak, tukang ojek sampai anak muda gaul,” Ungkapnya sambil tersenyum.

Pengunjung kedai ini tidak hanya dari kota Malang, pengunjung dari luar kota pun banyak yang mampir. Karena sempat viral di beberapa media sosial. Banyak pengunjung yang penasaran, mencoba ngopi pagi dengan konsep yang unik dan jadul, walau hanya untuk mengabadikan foto.

Baca Juga  Begini Kebahagiaan Warga Ngadas saat Hari Raya Galungan Bertepatan dengan Ramadan

Kedai yang berada di sudut jl. Cokroaminoto Kota Malang ini, menjual menu kopi dan jajananya bervariasi, dengan harga terjangkau mulai dari 3 ribu rupiah. Menu andalan dari kedai ini adalah Kopi Djaja yaitu racikan khas kedai ini yang berasal dari perpaduan kopi Robusta Gunung Arjuna dan Arabika Buleleng Bali.

“Saya mencoba kopi Malang Robusta Arjuno sama blend sama kopi Buleleng Bali Arabika,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *