Malang, Tugumalang.id – Universitas Islam Malang (Unisma) kembali menambah kekuatan akademiknya dengan mengukuhkan tiga Guru Besar baru. Pengukuhan tersebut menjadi langkah penting dalam perjalanan kampus menuju World Class University sekaligus mempertegas kontribusi akademisi Unisma terhadap berbagai persoalan strategis nasional.
Tiga profesor baru itu memaparkan hasil riset mendalam dalam prosesi pengukuhan Guru Besar yang digelar Sabtu (9/5/2026). Penelitian yang mereka kembangkan menyentuh sektor penting, mulai dari ketahanan pangan, keberlanjutan agribisnis, hingga inovasi terapi medis berbasis bahan alam.
Tak hanya berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, hasil riset tersebut juga diarahkan untuk memberikan solusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
Baca juga: Unisma Resmi Buka 2 Prodi Baru yang Langka, Ada S1 Sains Lingkungan dan S2 Pertanian Berkelanjutan
Teknologi Sonic Bloom Tingkatkan Produktivitas Kedelai

Prof. Dr. Ir. Istirochah Pujiwati, M.P. dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian. Dalam risetnya, ia mengembangkan teknologi Sonic Bloom untuk membantu mengatasi tingginya ketergantungan impor kedelai Indonesia yang mencapai sekitar 80 persen dari kebutuhan nasional.
Teknologi tersebut memanfaatkan gelombang suara berfrekuensi tinggi antara 3.500 hingga 5.000 Hz untuk merangsang pertumbuhan tanaman.
“Suara dengan frekuensi tertentu, yang menyerupai kicauan burung di pagi hari, mampu merangsang stomata atau mulut daun untuk terbuka lebih lebar,” jelasnya.
Hasil penelitian menunjukkan dampak signifikan terhadap produktivitas tanaman kedelai. Pada varietas Anjasmoro, penerapan teknologi Sonic Bloom mampu meningkatkan hasil panen hingga 3,93 ton per hektare atau naik sekitar 70,87 persen dibanding rata-rata normal.
Tak hanya itu, teknologi tersebut juga meningkatkan kadar protein kedelai dari 15 persen menjadi 27 persen sekaligus memperkuat ketahanan tanaman terhadap kekeringan hingga kapasitas lapang 75 persen.
“Selain itu juga meningkatkan kadar protein dari 15 persen menjadi 27 persen juga memperkuat daya tahan tanaman terhadap kekeringan hingga kapasitas lapang 75 persen,” bebernya.
Baca juga: Kukuhkan 3 Guru Besar ke-27, Amunisi Baru Unisma Menuju World Class University
Strategi Kolaborasi Hulu-Hilir untuk Selamatkan Apel Batu

Guru Besar kedua, Prof. Dr. Dwi Susilowati, S.P., M.P., dikukuhkan dalam kepakaran pengembangan masyarakat agribisnis. Penelitiannya berfokus pada degradasi lahan pertanian di Kota Batu yang berdampak pada terus menurunnya produksi apel akibat penggunaan bahan kimia dalam jangka panjang.
Sebagai solusi, Prof. Dwi menawarkan Model Inovasi Partisipatoris Kolaborasi Hulu-Hilir berbasis Green Supply Chain Management (GSCM).
Melalui pendekatan Sekolah Lapang, para petani diajarkan praktik Good Agricultural Practices (GAP) guna menghasilkan produk pertanian yang lebih sehat dan minim residu kimia.
Menurutnya, penerapan manajemen rantai pasok hijau terbukti tidak hanya memperbaiki kualitas ekosistem pertanian, tetapi juga meningkatkan kinerja ekonomi petani secara nyata.
Ia menegaskan bahwa konsep pertanian berkelanjutan harus mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
“Penerapannya tidak bisa disamaratakan; diperlukan pendekatan spesifik wilayah mempertimbangkan iklim, kondisi tanah, budaya, serta realitas sosial-ekonomi lokal,” jelasnya.
Daun Pulutan Dikembangkan Jadi Terapi Diabetes Masa Depan

Sementara itu, Prof. Dr. apt. Yudi Purnomo, M.Kes. dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Kepakaran Biomedik Farmasi. Ia memfokuskan risetnya pada pengembangan terapi diabetes berbasis anti-inflamasi metabolik dari bahan alam.
Prof. Yudi menyoroti besarnya potensi biodiversitas Indonesia yang hingga kini baru sekitar 10 persen dari total 40 ribu spesies tanaman yang dieksplorasi secara ilmiah.
Dalam penelitiannya, ia mengembangkan potensi daun Pulutan (Urena lobata) dan berhasil mengidentifikasi senyawa Gossypin, turunan polifenol flavonoid yang memiliki aktivitas anti-inflamasi kuat pada kultur sel.
Senyawa tersebut bekerja dengan menghambat sitokin pro-inflamasi yang menjadi pemicu resistensi insulin pada penderita diabetes. Hasil riset itu diproyeksikan menjadi alternatif terapi masa depan dengan efek samping yang lebih minim dibanding obat antidiabetes oral berbahan kimia.
“Pengembangan ilmu ke depan akan difokuskan pada isolasi fitokonstituen anti-inflamasi, modifikasi struktur kimia untuk meningkatkan potensi dan menurunkan efek samping, serta formulasi menjadi sediaan oral yang siap digunakan oleh masyarakat,” imbuhnya.
Unisma Perkuat Langkah Menuju World Class University
Terpisah, Rektor Unisma Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D. mengapresiasi kontribusi intelektual dari ketiga Guru Besar tersebut. Menurutnya, riset yang dihasilkan menjadi bukti nyata bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menjawab tantangan nasional.
“Saya berharap penemuan-penemuan dalam riset mereka tidak berhenti di meja laboratorium, melainkan dapat segera diimplementasikan secara luas melalui dukungan regulasi pemerintah,” harap Prof. Jun.
Pengukuhan tiga Guru Besar pada Tahun Akademik 2026 ini juga menjadi catatan penting dalam sejarah perkembangan Unisma. Ketiganya menambah jumlah Guru Besar yang meniti karier akademik murni di lingkungan Unisma menjadi 27 orang.
Bagi Unisma, pengukuhan Guru Besar bukan sekadar pencapaian akademik tertinggi, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral dan intelektual untuk menghadirkan manfaat lebih luas bagi masyarakat dan peradaban.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko
























