MALANG, Tugumalang.id – Seputih Hati Imani (19), atlet hapkido asal Kabupaten Malang, sukses mencatatkan prestasi gemilang di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IX Jawa Timur 2025. Ia menjadi atlet pertama dari Kabupaten Malang yang berhasil menyabet medali emas dalam ajang tersebut.
Mahasiswi Universitas Negeri Malang itu tampil impresif di nomor daeryun under 63 putri dan mengalahkan lawannya asal Madiun dalam laga final yang digelar di GOR Kanjuruhan, Selasa malam (10/6/2025).
Kemenangan ini bukan sekadar pencapaian pribadi bagi Imani, tetapi juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kabupaten Malang yang baru mulai mengembangkan cabang olahraga hapkido dalam beberapa tahun terakhir.
Baca juga: Cabor Hapkido Laga Perdana Porprov Jatim 2025, 150 Atlet Berebut Medali
Raih Emas di Porprov Jatim 2025, Ingin Melenggang di PON
Meski berhasil membawa pulang medali emas, Imani tak ingin cepat puas. Ia justru menjadikan Porprov Jatim 2025 sebagai batu loncatan untuk meraih mimpi yang lebih besar: tampil di Pekan Olahraga Nasional (PON).
“Semoga Porprov ini jadi langkah awal saya menuju PON,” ujarnya usai pertandingan, masih mengenakan seragam tanding lengkap dengan pelindung.
Atlet asal Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang itu mengaku tak menyangka bisa mengalahkan lawannya yang memiliki postur tubuh lebih tinggi dan besar. Ia sempat merasa kewalahan, terutama saat skor keduanya nyaris imbang.

“Di detik-detik terakhir itu kayak nggak mungkin (menang), bedanya sangat tipis. Alhamdulillah bisa menang,” kata Imani, yang akhirnya menutup pertandingan dengan skor meyakinkan 17-13.
Mahasiswi semester dua Program Studi Sastra Jerman di Universitas Negeri Malang tersebut baru menekuni hapkido selama setahun terakhir. Meski demikian, ia telah lama akrab dengan dunia bela diri.
Baca juga: Hapkido Kota Malang Sabet 6 Medali Emas di Laga Perdana Porprov Jatim 2025
Sebelum terjun ke hapkido, ia lebih dulu menekuni taekwondo, bahkan sudah meraih juara dua di kejuaraan taekwondo tingkat provinsi. Ia juga pernah menjuarai festival taekwondo yang digelar di kampusnya.
Rasa penasaran pada teknik bantingan membuat Imani beralih pada hapkido. Walaupun sama-sama berasal dari Korea Selatan, taekwondo dan hapkido memiliki beberapa teknik yang bebeda.
“Tertarik (dengan hapkido) karena ada bantingannya. Di taekwondo itu nggak ada, jadi kayak kurang seru aja,” jelasnya.
Meski baru sekitar satu tahun menekuni hapkido, teknik tendangan taekwondo tetap jadi andalannya dalam pertandingan. Pasalnya, ia masih mempelajari teknik bantingan sehingga jarang menggunakannya.
“Banting belum terlalu bisa, masih belajar,” kata Imani.
Keseharian Imani diisi dengan kuliah pagi hingga siang, lalu dilanjutkan latihan malam hari. Rutinitas latihan mencakup teknik dasar, sparring, dan lari sejauh lima kilometer yang harus diselesaikan dalam waktu maksimal 30 menit.
Khusus menjelang Porprov IX Jatim 2025, ia bersama atlet lainnya juga menjalani latihan fisik di pantai serta bleep tes. Selain itu, ia menjaga pola makan dengan ketat.
“Nggak boleh makan pedas, nggak boleh minum es. Setiap minggu dua kali minum kuning telur ayam kampung mentah dicampur madu,” kata Imani.
Cabor Hapkido di Kabupaten Malang baru berdiri sejak satu tahun terakhir. Imani berharap cabor ini terus berkembang dan Pemerintah Kabupaten Malang bisa memberi perhatian dalam bentuk tempat latihan yang memadai.
“Selama ini latihannya masih gabung sama dojang taekwondo. Pelatihnya juga kadang masih pelatih taekwondo,” kata Imani.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
redaktur: jatmiko
























