Malang, Tugumalang.id – Riuk pikuk derap langkah di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terasa sedikit berbeda.
Di antara deretan ulama bersarung dan bersorban yang merawat tradisi pesantren, hadir sosok yang tak asing di ruang kreatif dan strategi publik Tanah Air, Irfan Asy’ari Sudirman Wahid yang kerap disapa Ipang Wahid.
Masuknya Ipang Wahid dalam struktur kepengurusan PBNU masa khidmat 2026-2031 menandai babak baru. Ia masuk sebagai Wakil Ketua Umum PBNU.
Langkah tersebut bukan sekadar pengisian jabatan organisasi, tetapi juga penegasan arah PBNU yang kian adaptif dalam merespons tantangan zaman.
Baca juga: Profil Faishal Aminuddin, Akademisi UB yang Jadi Ketua PBNU 2026-2031
Nama Wahid di belakang namanya bukan sekadar hiasan. Ia merupakan putra ulama kharismatik almarhum KH Salahuddin Wahid atau Gus Solah, sekaligus cucu Pahlawan Nasional KH A. Wahid Hasyim serta cicit pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
Secara silsilah, Ipang merupakan bagian dari trah Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Namun, alih-alih berlindung di bawah nama besar sang kakek buyut, ia memilih jalannya sendiri.
Berbekal latar belakang pendidikan film dan desain dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) serta California State University, ia tumbuh menjadi salah satu pakar strategi komunikasi, branding, dan industri kreatif terkemuka di Indonesia.
Tangan dinginnya telah mewarnai berbagai kampanye nasional, kebijakan komunikasi publik, hingga penguatan ekonomi kreatif di berbagai institusi. Kini, keahlian lintas bidang itu ia bawa pulang ke rumah besarnya, NU.
Baca juga: RMI PBNU Bahas Peran Bu Nyai Wujudkan Pesantren Aman
Kehadiran Ipang di jajaran pimpinan PBNU periode 2026-2031 menjadi jembatan di era disrupsi. Saat ini, jam’iyah NU tidak hanya mengayomi warganya di pelosok pesantren, tetapi juga di ruang digital yang dinamis dan dihuni generasi muda Nahdliyin.
Bagi Ipang, dakwah NU hari ini tidak boleh berhenti di atas mimbar tradisional. Nilai-nilai tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), dan i’tidal (keadilan) harus dikemas dengan bahasa visual, strategi narasi, dan platform yang relevan dengan anak muda.
Kedatangan figur seperti Ipang memperkuat fondasi PBNU dalam mentransformasi tata kelola komunikasi publik dan pemberdayaan ekonomi umat. Sinergi antara keilmuan pesantren dan kecakapan komunikasi modern menjadi formula utama untuk membawa narasi Islam rahmatan lil ‘alamin menembus panggung global.
Pengabdian di NU bagi Ipang bukan hal baru, melainkan kelanjutan dari amanah keluarga yang terus mengalir. Masa kecil dan remajanya diwarnai keteladanan para pahlawan bangsa di sekelilingnya.
Dari sang ayah, Gus Solah, ia belajar integritas, keberanian membela hak sipil, dan keteguhan merawat persatuan bangsa.
Di jajaran kepengurusan PBNU 2026-2031, tugas berat telah menantinya. Tantangan tata kelola organisasi yang transparan, penguatan kemandirian ekonomi warga NU, hingga perlindungan terhadap dinamika kebudayaan lokal di tengah gempuran budaya luar membutuhkan sentuhan strategi yang cermat.
Pengalaman Ipang dalam memimpin berbagai organisasi profesional dan lembaga kajian menjadi modal berharga. Ia diprediksi akan mengambil peran vital dalam memperkuat citra lembaga, modernisasi media NU, serta membuka jaringan kolaborasi yang lebih luas antara PBNU dengan berbagai pemangku kepentingan nasional maupun internasional.
Penetapan kepengurusan baru PBNU ini menyalakan harapan baru bagi warga Nahdliyin. Kombinasi kepemimpinan ulama sepuh yang kaya kearifan dengan tokoh-tokoh profesional yang adaptif, seperti Ipang Wahid, menjadi komposisi ideal dalam menghadapi lima tahun ke depan.
Perjalanan 2026-2031 adalah panggung pembuktian. Di tangan para pengurusnya, PBNU tak hanya dituntut menjaga tradisi keagamaan yang kokoh, tetapi juga menjadi motor penggerak peradaban Islam yang ramah, modern, dan berkemajuan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko

















