Malang, Tugumalang.id – Sinergi antara Tim SAR, Basarnas, masyarakat lokal hingga relawan pecinta alam berhasil mengevakuasi 3 orang pendaki yang tersesat dan cidera di jalur pendakian Gunung Semeru. Mahasiswa pecinta alam dari Universitas PGRI Kanjutuhan Malang (Unikama) terlibat langsung dalam proses evakuasi pendaki yang dilaporkan hilang selama 3 hari itu.
Ketiga korban ditemukan dalam kondisi selamat meskipun harus melalui proses evakuasi yang dramatis. Pasalnya, medan pegunungan ini sangat terjal. Peristiwa bermula saat ketiga pendaki tersebut melakukan aktivitas pendakian melalui jalur selatan yang tidak resmi pada Sabtu, 31 Mei 2026.
Saat perjalanan turun, para pendaki mengalami disorientasi arah (tersesat). Alih alih mengambil rute kembali, mereka justru mengikuti aliran sungai yang berujung pada kawasan jurang curam dan berbahaya, hingga akhirnya terjebak.

Titik terang pencarian didapatkan setelah salah satu korban berhasil memperoleh sinyal seluler dan mengirimkan koordinat lokasi terakhir kepada pihak keluarga. Informasi darurat ini segera direspons cepat oleh jaringan pecinta alam dan otoritas penyelamat pada Rabu sekitar pukul 02.00 WIB.
Menanggapi laporan tersebut, sejumlah organisasi relawan langsung menerjunkan personelnya ke wilayah Ampelgading, Kabupaten Malang. Salah satunya adalah Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam Whisnucitra (HIMPA) Unikama, yang mengirimkan anggotanya yakni Ahmad Mukyidin Ali Lala (Kalit), untuk bergabung di posko utama bersama Basarnas.
Baca juga: HIMPA Whisnucitra Unikama Gelar Seminar Nasional: Ajak Pemuda Peduli Lingkungan Lewat Kolaborasi
Warga setempat memegang peran krusial dalam mendeteksi keberadaan awal korban di lapangan. Selain menemukan titik pasti para pendaki, warga sekitar bergerak cepat menyuplai kebutuhan logistik dasar seperti makanan dan air guna menjaga kondisi fisik korban yang melemah selama menunggu tim evakuasi tiba.
Proses evakuasi dari dasar jurang berjalan menantang karena kontur medan yang naik turun dan sangat curam. Ditambah lagi, salah satu pendaki mengalami cedera dislokasi tulang akibat terjatuh di medan yang terjal, sehingga penanganan harus dilakukan dengan ekstra hati hati demi keselamatan fisik korban.
Setelah melalui upaya keras berjam jam, seluruh korban akhirnya berhasil dibawa turun ke titik aman. Operasi penyelamatan ini menegaskan pentingnya kolaborasi yang kuat antara pemangku kepentingan, tim penyelamat profesional, relawan dan masyarakat adat dalam menangani kondisi darurat di gunung hutan.
Atas kejadian ini, otoritas terkait bersama komunitas pecinta alam kembali mengimbau dengan keras kepada seluruh masyarakat dan pencinta alam untuk selalu menggunakan jalur pendakian resmi yang telah ditentukan.
Mematuhi prosedur keselamatan tidak hanya meminimalisir risiko tersesat, namun juga mempercepat proses pemantauan dan penanganan medis apabila terjadi situasi darurat di atas gunung.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
redaktur: jatmiko


















