Malang, Tugumalang.id — Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Malang melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) bertajuk “Pemberdayaan Kader Kesehatan sebagai Upaya Preventif Kasus Wasting dan Stunting melalui Pelatihan MP-ASI dengan Metode Emo-Demo”, Sabtu (4/10/2025). Kegiatan ini berlangsung di Balai Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, dan diikuti oleh 38 peserta yang terdiri dari kader kesehatan, bidan, petugas gizi, serta perangkat desa.
Acara yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 13.30 WIB ini mendapat sambutan antusias dari para peserta. Mereka terlibat aktif dalam berbagai sesi pelatihan yang mengusung pendekatan emosional dan interaktif.
Edukasi Gizi Lewat Metode Emo-Demo

Ketua Pengabmas sekaligus dosen Poltekkes Kemenkes Malang, Gita Kostania, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) Jurusan Kebidanan. Program ini bertujuan memperkuat kapasitas kader kesehatan dalam upaya pencegahan wasting (kekurangan gizi akut) dan stunting (pertumbuhan terhambat) melalui pelatihan dengan metode Emo-Demo (Emotional Demonstration).
“Melalui metode Emo-Demo, kader dilatih untuk menyampaikan pesan gizi yang menyentuh emosi ibu bayi dan balita agar edukasi lebih efektif dan mudah diterima. Harapannya, kader bisa membantu para ibu memberikan MP-ASI yang sesuai standar gizi,” ujar Gita.
Baca juga: Jurus Dosen Poltekkes Malang Cegah Kasus Stunting Lewat Baby’s Meal Cafe di Desa Petungsewu
Metode Emo-Demo sendiri merupakan pendekatan behavioral change communication yang menekankan pada keterlibatan emosional peserta agar pesan kesehatan lebih berkesan dan berdampak jangka panjang.
Fokus pada Perubahan Perilaku dan Nutrisi Anak
Fasilitator kegiatan sekaligus district officer dari JHPIEGO, Wiwik, menjelaskan bahwa metode Emo-Demo menggunakan bahasa sederhana dan praktik langsung agar mudah dipahami oleh kader serta ibu balita.
Materi pelatihan mencakup porsi makan bayi dan anak, pentingnya ASI eksklusif selama enam bulan pertama, serta cara menentukan tekstur MP-ASI sesuai usia.
“Saran saya, kader harus terus berlatih agar mampu menyampaikan materi dengan efektif. Pelatihan seperti ini tidak boleh berhenti di ruangan saja, tapi harus diimplementasikan di lapangan untuk perubahan nyata,” ungkap Wiwik.
Apresiasi dan Harapan dari Desa Petungsewu

Ketua Tim Penggerak PKK Desa Petungsewu, Suhermi, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini. Ia berharap pelatihan Emo-Demo mampu menekan angka stunting di wilayahnya yang saat ini masih terdapat sekitar 10 kasus.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Kami berharap para kader bisa meneruskan ilmu yang didapat agar tidak ada lagi anak stunting di Desa Petungsewu,” ujarnya.
Sementara itu, Bidan Desa Petungsewu sekaligus perwakilan Puskesmas Dau, Dwi Astuti, menilai pelatihan ini efektif untuk memperkuat upaya pencegahan stunting di masyarakat. Ia berharap kegiatan serupa dapat diperluas ke desa-desa lain di Kecamatan Dau.
Baca juga: Good Words School Bekali Mahasiswa Poltekkes PIM Sikap Profesional dan Attitude yang Baik
“Tantangan terbesar kami adalah meningkatkan kesadaran masyarakat. Banyak yang mengira setelah imunisasi lengkap, pencegahan sudah cukup. Dengan metode Emo-Demo yang menyenangkan, diharapkan semakin banyak ibu yang rutin datang ke posyandu,” tutur Dwi.
Kader Semakin Terampil dan Percaya Diri
Salah satu kader kesehatan peserta pelatihan, Eva Nurcahyani, mengaku kegiatan ini sangat bermanfaat bagi peningkatan keterampilan komunikasi dan pengetahuan kader.
“Ini sudah tahun kedua kami mengikuti pelatihan seperti ini. Setiap tahun, kami semakin banyak belajar tentang gizi, MP-ASI, dan cara berkomunikasi yang efektif kepada masyarakat,” ungkapnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
redaktur: jatmiko





























