Rabu, Juni 10, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

PMII dan Hilirisasi Politik

Redaksi by Redaksi
April 17, 2026 12:30 pm
in Catatan
Hasyim, mantan abdi ndalem PMII Rayon “Kawah Chondrodimuko” UIN Malang. Foto/dok

Hasyim, mantan abdi ndalem PMII Rayon “Kawah Chondrodimuko” UIN Malang. Foto/dok

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Hasyim*

Tugumalang.id – Kata “hilirisasi” belakangan ini menjadi salah satu kata paling populer di republik ini. Dari bijih nikel hingga kelapa sawit, hilirisasi dimaknai sebagai proses mengolah bahan mentah menjadi produk jadi yang bernilai tinggi.

READ ALSO

Sengketa Tanah: Kenapa Bisa Terjadi dan Bagaimana Cara Melindungi Hak Anda?

Refleksi Hari Lahir Pancasila: Zainal Habib Soroti Kedaulatan Digital dan Keadilan Sosial

Tapi ada satu hilirisasi yang jarang disebut, yang berlangsung diam-diam, dan justru mengkhawatirkan, yaitu hilirisasi yang terjadi di dalam tubuh organisasi mahasiswa, ketika kaderisasi intelektual berubah menjadi pemasok bahan baku bagi mesin politik.

Di hari lahir PMII yang ke-66 ini. Tentu kita perlu bertanya sekali lagi Apa iya PMII hari ini masih sebuah laboratorium gagasan, atau sudah lebih banyak berfungsi sebagai hulu dari hilir kekuasaan?

Baca Juga: PMII Rayon Kawah Chondrodimuko Mantapkan Kaderisasi Lewat MAPABA ke-32

Pada 17 April 1960, tiga belas mahasiswa muda berkumpul di Balai Pemuda Surabaya dan mendeklarasikan sebuah organisasi yang menamakan dirinya pergerakan.” Bukan himpunan, bukan ikatan, bukan kesatuan.

Pemilihan kata itu bukan kebetulan, melainkan lahir dari kesadaran yang terang bahwa organisasi ini harus terus bergolak dan terus menghasilkan sesuatu.

Mahbub Djunaidi, ketua umum pertama yang juga seorang jurnalis dan esais ulung, meletakkan pondasi bahwa PMII bukan sekadar wadah kader NU di kampus, melainkan laboratorium intelektual bagi mahasiswa Muslim Indonesia, tempat di mana Islam Ahlussunnah wal Jamaah berdialog dengan demokrasi, dan tradisi pesantren bertemu dengan wacana kritis akademik.

Enam puluh enam tahun kemudian, PMII masih berdiri. Jaringannya mengakar di hampir seluruh kampus Indonesia, alumninya tersebar di berbagai lini strategis kehidupan bangsa.

Dalam Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo yang dilantik Oktober 2024 saja, terdapat 6 alumni PMII yang duduk sebagai menteri dan wakil menteri, Mulai dari Gus Muhaimin Iskandar hingga Nusron Wahid dan Nasaruddin Umar. Angka itu sangat membanggakan, dan tidak ada yang menyangkal.

Baca Juga: Rayon PMII Kawah Chondrodimuko Komisariat Sunan Ampel Malang Miliki Pengurus Baru

Namun justru di sinilah jebakan itu bekerja. Ketika sebuah organisasi mahasiswa mengukur keberhasilannya terutama dari seberapa banyak alumninya masuk kabinet atau menjabat kepala daerah, maka kita tanpa disadari, posisi kaderisasi berubah fungsi.

Ia tidak lagi memproduksi pemikir, tetapi memproduksi koneksi. Tidak lagi menghasilkan gagasan melainkan menghasilkan lobi. Proses ini yang saya sebut hilirisasi politik, di mana bahan mentah berupa mahasiswa kritis diolah sedemikian rupa hingga menjadi produk jadi berupa politisi yang siap pakai.

Perlu saya tekankan, bahwa tidak ada yang salah dengan alumni yang berpolitik. Toh politik salah satu bentuk pengabdian yang sah dan mulia. Yang menjadi persoalan adalah ketika logika hilirisasi itu merasuki proses kaderisasi dari dalam.

Ketika diskusi-diskusi di komisariat tergantikan oleh konsolidasi dukungan jelang kongres, ketika orientasi kader bukan lagi bagaimana menjadi intelektual organik (meminjam istilah Gramsci), melainkan bagaimana menjadi bagian dari jaringan yang menguntungkan di masa depan.

Seorang senior yang kini menduduki posisi strategis di salah satu partai politik pernah berkata kepada saya: “Banyak kader hari ini lebih disibukkan dengan urusan struktural tanpa menjaga tradisi intelektual.” Kalimat itu singkat, tapi menohok terlebih karena yang mengucapkannya adalah orang yang tumbuh besar di dalam organisasi ini.

Di era ketika algoritma FYP telah menggantikan diskusi ilmiah sebagai standar kebenaran sosial, organisasi mahasiswa yang gagal membangun benteng intelektual akan ikut terseret arus. Dan PMII, dengan segala besarnya, tampaknya sedang dalam tarikan arus itu.

Tentu, bukan karena PMII kekurangan sumber daya intelektual justru sebaliknya. Jaringan alumninya mencakup rektor, profesor, hakim, aktivis HAM, dan jurnalis kelas satu.

Tapi energi kolektif itu terlalu sering mengalir ke arah konsolidasi kekuatan, bukan ke arah produksi gagasan. Perpustakaan PMII masih kalah tebal dari perpustakaan diskusinya dan diskusinya pun makin tipis dari tahun ke tahun.

PMII lahir justru karena mahasiswa Muslim merasa aspirasi intelektual mereka tidak terakomodasi bukan oleh Masyumi yang dikuasai kaum modernis, bukan oleh GMNI yang berafiliasi nasionalis. Idealisme para pendirinya itu tidak boleh dikubur di bawah tumpukan kartu undangan pelantikan.

Revitalisasi intelektual bukan berarti PMII harus meninggalkan gelanggang politik atau berhenti dari aksi jalanan. Gerakan sosial yang baik membutuhkan kaki di jalan sekaligus kepala yang berpikir, keduanya tidak saling meniadakan.

Yang perlu dikoreksi adalah hierarki nilainya, bahwa gagasan harus datang lebih dahulu sebelum gerakan, bahwa argumen harus lebih tajam dari spanduk, bahwa kader yang menulis satu buku layak dihargai setara dengan kader yang menjadi wakil bupati. Hilirisasi politik baru bermakna jika hulunya tradisi berpikir kritis dan tetap dijaga dengan sungguh-sungguh.

Di usia 66 tahun, PMII mewarisi sekaligus menanggung. Generasi pendirinya mewariskan keberanian berpikir di tengah represi. Generasi 1998 mewariskan keberanian turun ke jalan di tengah tirani.

Generasi sekarang yang tumbuh di era media sosial, fragmentasi identitas, dan krisis kepercayaan pada institusi mewarisi dunia yang jauh lebih kompleks, tapi juga memiliki alat yang jauh lebih canggih untuk mengubahnya.

Pad akhirnya, pertanyaan kita bukan lagi apakah PMII akan bertahan hingga usia 70 atau 100 tahun. Tapi, dengan cara apa ia akan bertahan? Sebagai mesin kaderisasi yang efisien namun kehilangan ruh, atau sebagai kekuatan intelektual Islam yang relevan, kritis, dan berani? Dua pilihan itu tidak selalu bertentangan tapi selama ini, yang pertama terlalu sering memakan yang kedua. Wallahu A’lam

Selamat hari lahir, PMII. Semoga kata “pergerakan” dalam namamu bukan sekadar ejaan lama yang diwarisi tanpa pernah dipertanyakan.

*Penulis adalah Mantan Abdi Ndalem PMII Rayon “Kawah Chondrodimuko” UIN Malang

Editor: Herlianto. A

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Tags: mahasiswaPMIIUIN Malang

Related Posts

Sengketa tanah
Catatan

Sengketa Tanah: Kenapa Bisa Terjadi dan Bagaimana Cara Melindungi Hak Anda?

Jumat, 5 Jun 2026
Hari Lahir Pancasila
Catatan

Refleksi Hari Lahir Pancasila: Zainal Habib Soroti Kedaulatan Digital dan Keadilan Sosial

Senin, 1 Jun 2026
Dr. Aries Musnandar & Dr. Muhammad Effendi, M.Si. Foto/dok
Catatan

MBG: Kembalikan Eksekusi ke Komite Sekolah, Jangan Birokrasi

Senin, 1 Jun 2026
Abdul Hamid. Foto/dok
Catatan

Menolak Kolaborasi Sesat: Refleksi Lempar Jumrah dan Krisis Integritas di Era Modern

Selasa, 26 Mei 2026
Momentum Hari Kebangkitan Nasional, refleksi Ketua PP ISNU, Zainal Habib tentang kedaulatan algoritma di era digital. /Foto: Dok. Istimewa.
Catatan

Hari Kebangkitan Nasional, Refleksi Ketua PP ISNU, Zainal Habib: Saatnya Bebas dari Algoritma

Rabu, 20 Mei 2026
Tiko Ari. Foto/dok
Catatan

Hari Kebangkitan Nasional dan Tantangan Nyata Pekerja Indonesia di Tengah Perubahan Zaman

Rabu, 20 Mei 2026
Next Post
Pengenalan BOUMI, lini produk kidscare berbahan alami bikinan UB Malang. Foto: Azmy

Mengenal BOUMI, Produk Kidscare Berbahan Atsiri hingga Rambut Jagung Bikinan UB Malang

BERITA POPULER

  • kedai rempah

    4 Rekomendasi Kedai Rempah di Malang yang Wajib Dicoba

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengorbanan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.