Tugumalang.id – Tim peneliti Universitas Negeri Malang (UM) berhasil menyelesaikan penelitian tentang cara siswa sekolah dasar memahami konsep pecahan melalui pendekatan problem posing, yaitu aktivitas menyusun soal matematika secara mandiri.
Studi ini sekaligus menyoroti peran guru dalam memprediksi pola berpikir siswa agar pembelajaran lebih adaptif.
Baca Juga: Tingkatkan Kompetensi TAS, Tim Dosen Universitas Negeri Malang Gelar Pelatihan Pengelolaan Arsip Sekolah Berbasis Digital
Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Sri Rahayuningsih, S.Pd., M.Pd., ini melibatkan 100 siswa kelas V dari lima sekolah dasar di Kota Malang serta lima guru matematika.
Hasilnya menunjukkan bahwa siswa memiliki variasi kreativitas dalam membuat soal pecahan, meski sebagian besar masih cenderung sederhana dan berfokus pada perhitungan prosedural.

Menurut Ketua Peneliti, Dr. Sri Rahayuningsih, penelitian ini memberikan gambaran nyata bahwa siswa memiliki potensi besar untuk berpikir kritis dan kreatif dalam memahami konsep pecahan ketika diberi ruang untuk menyusun soal mereka sendiri.
Baca Juga: Rekomendasi Kos Putri Dekat Universitas Negeri Malang, Cocok untuk Maba!
“Selama ini pembelajaran pecahan sering kali hanya berfokus pada prosedur menghitung. Padahal, melalui problem posing, siswa diajak untuk melihat pecahan dari berbagai sudut pandang, menyusun soal kontekstual, bahkan menemukan strategi penyelesaian alternatif. Hal ini tidak hanya memperkuat pemahaman konseptual mereka, tetapi juga membentuk cara berpikir yang lebih fleksibel,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa peran guru sangat penting dalam memprediksi dan memahami kesulitan siswa.
“Guru tidak sekadar mengajar, tetapi juga perlu mampu membaca pola berpikir siswa. Dengan begitu, pembelajaran dapat lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan mereka. Harapan kami, penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan strategi pembelajaran pecahan yang lebih bermakna dan relevan,” pungkasnya.
Dari data yang dikumpulkan, siswa mampu merumuskan soal pecahan dengan tingkat kesulitan berbeda, mulai dari penjumlahan dan pengurangan sederhana hingga soal cerita berbasis kehidupan sehari-hari seperti pembagian makanan dan uang. Beberapa siswa bahkan menggunakan representasi visual untuk memperjelas soal.
Namun, penelitian juga menemukan adanya kesenjangan antara prediksi guru dengan hasil kerja siswa. Banyak guru mengira siswa akan kesulitan menyusun soal yang lebih kompleks, padahal sejumlah siswa justru menunjukkan fleksibilitas berpikir yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa guru perlu mengasah kepekaan dalam membaca potensi dan cara berpikir siswa.
Hasil penelitian ini memberi implikasi penting bagi pendidikan dasar di Indonesia. Guru disarankan lebih sering memfasilitasi kegiatan problem posing untuk memperkuat pemahaman konseptual pecahan, bukan hanya menekankan pada keterampilan prosedural.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis UM
Editor: Herlianto. A





























