Tugumalang.id – Pemkot Batu bergerak cepat untuk memperbaiki manajemen program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar kejadian keracunan tak terulang kembali.
Hasil evaluasi mengungkap bahwa masih ada sejumlah persoalan yang perlu pembenahan, terutama dalam aspek manajemen dan pelayanan publik.
Berdasarkan catatan evaluasi, masalah yang muncul di antaranya terkait verifikasi SPPG, penyusunan serta penerapan SOP pengiriman dan penggunaan paket bantuan, hingga peran petugas lapangan sebagai role model dalam implementasi program.
Baca Juga: Dihibahkan! Pasar Induk Among Tani Resmi Dikelola Pemkot Batu
Selain itu, ditemukan pula adanya kekurangan SOP bagi pihak penerima manfaat. Seperti pada sektor pendidikan (Disdik) hingga layanan kesehatan (Dinkes). Hal ini dinilai berpotensi mempengaruhi efektivitas penyaluran serta pemanfaatan bantuan yang diberikan.
Sebagai tindak lanjut, sejumlah rekomendasi juga sudah mulai disusun. Mulai penyusunan regulasi yang detail, memperkuat peran stakeholder dalam sosialisasi hingga melibatkan media massa dalam mendukung penyebaran informasi positif kepada masyarakat.
Wakil Walikota Batu Heli Suyanto membenarkan jika evaluasi strategis terhadap pelaksanaan program MBG ini. Ia menekankan pentingnya sinergi antara semua pihak agar program MBG benar-benar tepat sasaran dan memberi manfaat luas.
Baca Juga: Pemkot Batu Luncurkan Logo HUT Kota Batu ke-24, Ini Makna Filosofinya
”Saya tegaskan agar model bersama ini harus betul-betul dijalankan agar tidak menimbulkan masalah baru dalam proses MBG, terlebih soal perlindungan penerima manfaat khususnya warga Kota Batu,” kata Heli, Kamis (9/10/2025).
Lebih lanjut, terkait update penanganan kasus diduga keracunan pada siswa sekolah SMPN 1 Kota Batu, Heli menegaskan bahwa itu bukan kejadian keracunan massal.
Ini mengingat jumlah siswa yang mengalami muntah-muntah hanya 12 orang. Kondisi mereka juga langsung membaik hanya dalam waktu sekitar 1 jam.
Pihak Dinkes Kota Batu sendiri lanjut Heli juga sudah langsung turun tangan melakukan uji klinis secara mandiri. Hasilnya, para siswa tidak mengalami keracunan berat, melainkan gangguan pencernaan.
“Gejalanya itu berupa mual, muntah, pusing dan sakit perut, tidak ada diare. Jadi hasil klinisnya lebih ke gejala gastrointestinal ringan. Jumlah porsi MBG yang masuk ke SMPN 1 setiap hari sekitar 900 lebih. Tapi hanya 12 siswa yang terdampak, jadi perbandingannya 12:900,” jelas Heli.
Meski begitu, Dinkes tetap melakukan kajian epidemiologi dengan mengambil sampel makanan. Sampel diuji dua kali, yakni pukul 07.00 WIB dan 16.00 WIB, meliputi nasi, ayam bumbu kecap, tahu goreng, pakcoy bawang putih dan buah stroberi.
Hasil kajian menunjukkan adanya indikasi foodborne intoxication atau keracunan akibat bakteri. “Bakterinya adalah Bacillus cereus atau Staphylococcus aureus. Dua bakteri ini sering menyerang sistem pencernaan,” terang Heli.
Ada beberapa dugaan penyebab munculnya bakteri. Pertama, makanan dikemas dalam kondisi masih panas lalu langsung ditutup rapat. Kedua, bahan pangan yang digunakan diduga kurang segar, khususnya ayam dan stroberi.
“Selain itu, ada faktor waktu. Dari proses produksi hingga makanan dikonsumsi anak-anak bisa memakan waktu hingga sembilan jam,” ujarnya.
Meski kasus ini tidak berujung fatal, Pemkot Batu tidak ingin kecolongan lagi. Ke depan, Dinkes bersama tim MBG akan menyusun standar operasional prosedur (SOP) terutama untuk sekolah-sekolah penerima program makan gratis.
“Tujuannya proteksi dini. Jangan sampai kasus seperti ini terulang. Anak-anak harus tetap mendapat asupan bergizi tapi dengan kualitas yang benar-benar terjamin,” tutur Heli.
Program MBG sendiri menjadi salah satu perhatian serius pemerintah karena menyasar ribuan siswa di Kota Batu. Dengan adanya evaluasi ini, diharapkan distribusi makanan bisa lebih higienis, aman dan tepat kualitas.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A





























