Minggu, Agustus 16, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Asli Malang

Pasar Comboran Kota Malang, Pusat Barang Bekas Sejak Era Kolonial Belanda

Redaksi by Redaksi
Mei 1, 2022 1:30 pm
in Asli Malang
Pasar Comboran Kota Malang

Pasar Comboran Kota Malang yang menjual barang barang bekas (M Sholeh)

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

TuguMalang.id – Pasar Comboran sebagai pusat penjualan barang bekas di Kota Malang ternyata memiliki sejarah yang panjang dan menarik untuk ditelisik. Diketahui, pasar ini sudah ada sejak era kolonial Belanda tepatnya pada tahun 1900an silam.

Pasar yang terletak di sekitar Jalan Moh Yamin, Jalan Irian Jaya, Jalan Halmahera hingga Jalan Besi Kota Malang ini awalnya tak didesign sebagai pasar loak. Sebab, dahulu kawasan Comboran merupakan kawasan perlintasan trem atau moda transportasi kereta api jarak pendek antar wilayah Malang yang dibangun oleh Belanda.

READ ALSO

Enam Film Pendek Pelajar Tayang di ESPUTER #1, GSF Siapkan Kolaborasi dengan Sekolah

Rute Penerbangan Bandara Abdul Rachman Saleh Malang, Berikut Tujuan dan Maskapai yang Beroperasi

“Comboran itu memang dari awal bukan di desain sebagai pasar. Jadi kita harus ingat bahwa dahulu Malang punya moda transportasi yang namanya trem. Itu kereta penumpang jarak pendek yang sekarang nyebutnya komuter,” kata Agung Buana, Pengamat Sejarah dan Budaya Kota Malang.

Trem ini dulunya memiliki rute Malang-Singosari dan Malang-Pakis-Tumpang. Adapun di Kota Malang, trem ini memiliki jalur di kawasa Blimbing, Jalan Jaksa Agung Suprapto, kawasan Kayutangan, Alun alun Kota Malang hingga Jalan Halmahera. Sementara stasiun induknya ada di kawasan Comboran yakni Stasiun Trem Jagalan.

Adanya stasiun ini tentu membuat kawasan Comboran menjadi jujugan atau lokasi pangkalan setrategis bagi dokar kala itu. Berkembangnya waktu, puluhan bahkan ratusan dokar biasa ngetem di kawasan ini. Di sela sela menanti penumpang atau beristirahat, para kusir dokar juga biasa memberikan makan dan minum untuk kuda mereka.

“Nah orang jawa kalau ngasih minum kuda itu namanya nyombor. Jadi ketika dokar dokar itu berkumpul, kemudian kuda diberi makan dan minum itu istilahnya nyombor maka orang di sana nyebutnya nyomboran. Lama lama jadi comboran hingga saat ini,” bebernya.

Berjalannya waktu, para penumpang trem yang mayoritas merupakan petani itu tentu juga membawa dagangan dari hasil pertanian mereka. Kemudian tak jarang dari mereka melakukan jual beli di stasiun itu sambil menanti kereta datang. Alhasil, lokasi itu mulai muncul pasar hasil tani.

Kemudian ketika terjadi perang dengan Jepang pada 1942, banyak orang Belanda yang tertangkap dan ditahan oleh pasukan dari Jepang. Kala itu, warga pribumi yang bekerja sebagai pembantu warga Belanda mendapatkan peninggalan berupa pakaian, hingga perabotan rumah tangga.

“Tapi ingat ketika Jepang masuk tahun 1942, pakaian itu sulit atau langka. Akhirnya pakaian pakaian dari Belanda ini dijual belikan di daerah Comboran. Mangkannya ada pasar pakaian bekas, itu bekasnya orang Belanda dari 1942-1945an,” tuturnya.

Usai memperjualbelikan pakaian bekas dari warga Belanda, masyarakat pribumi kemudian juga mulai menjual perabotan rumah tangga peninggalan Belanda. Keberadaan barang perabotan rumah tangga bekas Belanda ini berkembang mulai tahun 1950.

Sementara itu pada 1960, di selatan kawasan Comboran juga mulai berkembang industri pergudangan dan perbengkelan. Produk barang barang industri yang reject atau afkir kemudian oleh sejumlah karyawan dijual di pasar besi kawasan Comboran juga.

“Lama lama, barang kecil kecil masuk ke Comboran. Akhirnya muncul ada pasar pakaian bekas, peralatan rumah tangga, alat alat bangunan dan disitu munculah peralatan perbengkelan, perkakas hingga sparepart kendaraan bermotor,” ujarnya.

Pada kisaran tahun 1980an, Pasar Comboran ini juga dikenal sebagai pusat pasar barang antik dan terbesar di Jawa Timur. Bahkan pemburu barang antik dari Surabaya, Semarang, Solo hingga Yogyakarta kerap kali datang ke Pasar Comboran.

“Jadi orang Surabaya, Semarang, Solo hingga Jogja bilang kalau mau cari barang antik pasti ke Comboran, sampai sekarang. Tapi sekarang yang jual barang antik sudah jarang yang jual lagi di Comboran tapi di rumah rumah dia di gang gang sekitar situ,” paparnya.

Pasar ini juga sempat dikenal sebagai pasar maling karena menjual berbagai barang bekas yang harganya miring namun kualitasnya masih terbilang bagus.

Di kawasan ini kemudian juga dibangun sebuah pasar di sisi barat dan timur jelang tahun 2000an. Namun sayangnya pasar ini tak banyak diminati masyarakat lantaran banyak yang memilih berburu barang bekas di tepi tepi jalan kawasan Comboran.

Reporter: M Sholeh
editor: jatmiko

 

 

—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugumalangid , Facebook Tugu Malang ID , 
Youtube Tugu Malang ID , dan Twitter @tugumalang_id

 

 

Tags: barang bekasComboranHeadlinepasar loak

Related Posts

Enam Film Pendek Pelajar Tayang di ESPUTER #1, GSF Siapkan Kolaborasi dengan Sekolah
Asli Malang

Enam Film Pendek Pelajar Tayang di ESPUTER #1, GSF Siapkan Kolaborasi dengan Sekolah

Minggu, 2 Agu 2026
Rute Penerbangan Bandara Abdul Rachman Saleh Malang, Berikut Tujuan dan Maskapai yang Beroperasi
Asli Malang

Rute Penerbangan Bandara Abdul Rachman Saleh Malang, Berikut Tujuan dan Maskapai yang Beroperasi

Selasa, 14 Jul 2026
Jangan Salah Terminal, Ini Fungsi Arjosari, Hamid Rusdi, dan Landungsari
Asli Malang

Begini Pembagian Fungsi Terminal Arjosari, Hamid Rusdi, dan Landungsari

Minggu, 12 Jul 2026
5 Sentra Susu Sapi Perah di Malang, Produksi Harian Tembus Ribuan Liter
Asli Malang

5 Sentra Susu Sapi Perah di Malang, Produksi Harian Tembus Ribuan Liter

Rabu, 8 Jul 2026
Jejak Peninggalan Sejarah Hindu-Buddha di Malang, Warisan Kerajaan Kanjuruhan hingga Singhasari
Asli Malang

Jejak Peninggalan Sejarah Hindu-Buddha di Malang, Warisan Kerajaan Kanjuruhan hingga Singhasari

Senin, 6 Jul 2026
Ilustrasi kawasan unik dan bersejarah Kota Malang (Foto: Pinterest/@Sugimin Tukijan)
Asli Malang

Jejak Empat Kawasan Unik di Malang, Permukiman Kolonial hingga Kampung Moderasi Beragama

Senin, 6 Jul 2026
Next Post
Catatan Aqua Dwipayana, curhat

Menggantungkan Hidup pada Manusia, Mulai Orang Biasa hingga Jenderal Banyak yang Kecewa

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Saweran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 07222026 2
Advtm 07222026 1
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.