Sabtu, Juni 6, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Life Style

Overwork: Budaya Bangga Gila Kerja yang Mematikan

Redaksi by Redaksi
Februari 1, 2026 8:23 pm
in Life Style
Ilustrasi overwork alias gila kerja. Foto: Unsplash

Ilustrasi overwork alias gila kerja. Foto: Unsplash

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Perkembangan zaman modern hari ini memunculkan fenomena overwork atau gila kerja. Padahal, overwork tidak bisa dipandang sebagai persoalan sepele karena menyangkut isu keadilan sosial tentang kualitas hidup manusia.

Sebagaimana diketahui, fenomena kerja berlebihan atau overwork kian mengakar dalam keseharian masyarakat Indonesia. Jam kerja yang panjang kerap disalahartikan sebagai simbol loyalitas, dedikasi, dan etos kerja tinggi yang patut dibanggakan.

READ ALSO

4 Cafe Unik di Malang dengan Pengalaman Nongkrong Berbeda

5 Rekomendasi Tempat Belanja Murah untuk Mahasiswa di Malang

Di balik glorifikasi budaya “gila kerja” tersebut, tersembunyi persoalan struktural dalam sistem ketenagakerjaan yang perlahan menggerus kualitas hidup manusia.

Baca Juga: Nusantara Gilang Gemilang Tanda Tangani Kerja Sama Lahirkan Mahasiswa Wirausaha

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sebanyak 25,5 persen atau sekitar 37,3 juta pekerja di Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Angka ini menegaskan bahwa overwork bukan lagi fenomena sporadis, melainkan persoalan sistemik.

Overwork perlu dipahami secara lebih komprehensif melalui perspektif kesejahteraan sosial. Menurutnya, kesejahteraan tidak semata harus diukur dari besaran pendapatan, tapi dari sejauh mana individu mampu menjalankan fungsi sosialnya secara utuh dan seimbang.

Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial (Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Eko Rizqi Purwo Widodo, MSW menuturkan bahwa overwork tidak bisa dipandang sebagai persoalan sepele.

Baca Juga: Menemukan Panggilan Hidup di Dunia Kedokteran: Perjalanan dr. Mohammad Syarif sebagai Dokter Sekaligus Pendidik

”Ini adalah isu keadilan sosial yang menyentuh langsung kualitas hidup manusia. Jika Indonesia ingin menjadi negara yang benar-benar kuat dan berdaya, maka kesejahteraan individu dan keluarga harus ditempatkan sebagai prioritas utama,” ujar Eko.

Eko menjelaskan bahwa bekerja melampaui batas sering kali bukanlah pilihan bebas pekerja. Dalam sistem kerja yang minim perlindungan dan jaminan sosial, banyak individu terpaksa mengorbankan waktu istirahat demi memenuhi kebutuhan hidup.

Kondisi ini mencerminkan kegagalan sistem sosial dalam melindungi hak dasar pekerja. Ketimpangan relasi kuasa antara pemberi kerja dan pekerja pun semakin terlihat ketika lembur diposisikan sebagai kewajiban yang dianggap normal.

‘Dalam perspektif kesejahteraan sosial, pijakan utamanya adalah well-being. Ini mencakup keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, psikologis, hingga kesehatan individu,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa dampak overwork tidak berhenti di ruang kerja. Ancaman yang lebih serius justru muncul di ranah domestik. Jam kerja yang berlebihan berpotensi memicu kelelahan fisik dan mental, sekaligus melemahkan peran sosial individu dalam keluarga.

Dosen Kesos itu juga menyoroti kelompok pekerja yang berada dalam posisi paling rentan, seperti pekerja sektor informal, buruh outsourcing, pekerja migran, hingga pekerja perempuan yang menghadapi beban ganda. Tanpa perlindungan dan kompensasi yang memadai, jam kerja panjang berisiko menjelma menjadi bentuk eksploitasi modern yang tersembunyi di balik tekanan ekonomi.

“Negara yang kuat dibangun dari individu dan keluarga yang sehat secara psikososial. Jika beban kerja justru merusak relasi keluarga, seperti renggangnya hubungan orang tua dan anak, maka ini menjadi persoalan serius bagi masa depan bangsa,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, Eko mendorong penguatan advokasi serta perumusan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih humanis dan berpihak pada kesejahteraan pekerja.

Menurutnya, pemerintah tidak semestinya hanya berfokus pada indikator pertumbuhan ekonomi dan produktivitas semata dalam menyusun regulasi, tetapi juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial pekerja.

“Kebijakan ketenagakerjaan harusnya mampu menjamin batas kerja yang wajar, perlindungan sosial yang memadai, serta keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan keluarga agar pembangunan ekonomi tidak dibayar dengan hilangnya kualitas hidup manusia,” tegasnya.

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Reporter: M Ulul Azmy

Editor: Herlianto. A

Tags: gila kerjaketenagakerjaanOverworkpekerja buruh

Related Posts

Salah satu cafe unik di Malang, Selak Kopi. (Foto: Instagram @selakkopi)
Life Style

4 Cafe Unik di Malang dengan Pengalaman Nongkrong Berbeda

Senin, 27 Apr 2026
Ilustrasi mahasiswa belanja bulanan di pusat perbelanjaan. (Foto: Pinterest/ The New York Times)
Life Style

5 Rekomendasi Tempat Belanja Murah untuk Mahasiswa di Malang

Kamis, 23 Apr 2026
Jilbab
Life Style

Gaya Khimar Panjang ala Intan Khasanah, Tren Baru Pengganti Jilbab Jahat

Kamis, 23 Apr 2026
color theory
Life Style

Memahami Color Theory dalam Makeup, Ini Fungsi Color Corrector untuk Wajah Lebih Merata

Jumat, 10 Apr 2026
skincare
Life Style

Perbedaan Toner, Essence, dan Serum: Fungsi serta Urutan Skincare yang Benar

Kamis, 9 Apr 2026
Toko Skwero yang menjual perintilan lucu di Kayutangan Malang. (Foto: Instagram @skwero_)
Life Style

Toko Perintilan Lucu di Kayutangan Kota Malang yang Wajib Dikunjungi

Jumat, 3 Apr 2026
Next Post
Wakil Ketua DPRD Kota Batu Punjul Santoso menyoroti PAD Kota Batu yang bocor. Foto: Azmy

PAD Bocor Berulang, Wakil Ketua DPRD Kota Batu Desak Dishub Rombak Sistem Parkir Tepi Jalan

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengorbanan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.