Nostalgia Kejayaan Musik Kota Malang Lewat Buku Arief Wibisono

  • Whatsapp
Arief Wibisono (kiri) bersama bukunya. foto: Azmy

MALANG – Penulis musik senior asal Malang, Arief Wibisono atau akrab disapa Bison akhirnya berhasil menyelesaikan karya esensialnya berupa buku berjudul ‘Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang’. Buku ini pun resmi diluncurkan beberapa waktu lalu.

Buku setebal 120 halaman ini diluncurkan Museum Musik Indonesia (MMI) di Balai Kota Malang dengan turut mengundang langsung Wali Kota Malang Sutiaji pada Senin (10/5/2021) lalu.

Kenapa buku ini terbilang esensial? Menurut Ketua MMi Hengki Herwanto, Kota Malang pernah mengalami masa-masa kejayaan sebagai barometer musik di Indonesia. Tentu, sejarah gemilang ini perlu didokumentasikan dengan baik.

Arief Wibisono saat memberikan bukunya pada Wali Kota Malang, Sutiaji. foto: Azmy

”Ini adalah sejarah membanggakan dari kota kecil di Malang. Pernah menjadi barometernya musik di Indonesia. Ini adalah kebangga tersendiri,” ucapnya.

Singkat cerita, di medio 60-an menjadi awal anak-anak muda di Malang menggandrungi musik. Dari situ, muncul musisi-musisi Malang. Sebut saja Maya Sopha, Marini, Mira Tania, Laily Dimjathie dan Mira Soesman.

Munculnya animo bermusik di Kota Malang itu tak lepas dari peran salah satu stasiun radio amatir. Meski amatir, peran radio amatir ini cukup besar dalam membentuk selera musik masyarakat saat itu.

Selera masyarakat Malang saat itu banyak condong ke musik rock. Sebut saja amunisi rocker-rocker Kota Malang yang melejit ke pentas nasional seperti Jaguar, Bentoel hingga Elpamas. Tak sedikit musis-musisi lain asli Malang saat itu yang juga melejit.

Hanya saja, fragmen-fragmen cerita ini tidak terdokumentasikan dan tersampaikan dengan baik. Dengan adanya dokumentasi otentik buku ini, bisa memacu generasi mendatang sadar bahwa arsip dan dokumentasi itu penting.

Tak berhenti disini, MMI akan membuat database nama-nama musisi asli Malang. Dia berharap upaya mendokumentasikan sejarah kejayaan musik ini berbanding lurus dengan kemajuan seni dan budaya di Kota Malang.

Baca Juga  Usai Buat Konten Horor di Youtube, Gus Idris Ditembak Orang Tak Dikenal

Sementara, penulisnya Bison bilang bahwa Malang sempat mendapat julukan barometer musik di Indonesia karena banyak musisi yang keder apabila main atau show di Kota Malang. Apabila permainan musik tidak sesuai permainan musik aslinya jangan harap pulang dengan tenang.

”Lemparan sandal atau kursi pertunjukan menjadi sarana kekesalan penonton musik Kota Malang jika sang penampil tidak bisa memuaskan penonton. Bahkan Godbless sekalipun,” bebernya.

Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang Era 60-90 adalah sebuah kumpulan data dokumentasi sejarah musik di Kota Malang. Mulai peradaban musik dari genre pop ke musik rock sampai tempat gedung pertunjukan jelas semua terdata dengan jelas.

Kata dia, perjalanan mahal tentang karya seniman musik Kota Malang kalau tidak dibukukan secara otentik hanya akan menjadi dongeng usang yang tidak bisa dipercaya

Terpisah, Wali Kota Malang, Sutiaji mengapresiasi atas lahirnya buku ini. Dia berpendapat dari buku ini bisa menjadi khazanah baru dalam sejarah permusikan.

“Semoga juga bisa masuk perpustakaan. Kemudian dibaca anak-anak kita dan menginspirasi generasi mendatang untuk ikut meneruskan sejarah nenek moyangnya,” ucapnya.

Sebagai informasi, Arief Wibisono aka Bison sendiri adalah orang Malang asli pada 3 Februari 1976. Sudah menulis artikel musik rutin di koran Malang Ekspres (2017). Juga tercatat pernah menerbitkan majalah Be Sound, Rock Magazine (2013). Menulis buku Pungky Deaz, vokalis Power Metal. Sehari-hari, Bison tinggal di Jalan Arif Margono VIII No 1781 RT 05 RW 07 Kelurahan Kasin Kota Malang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *