Rabu, Oktober 14, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Merawat Jati Diri Kebhinekaan dalam Gotong Royong

Redaksi by Redaksi
Agustus 9, 2021 3:05 pm
in Ruang Cendekia
Acara perayaan warga memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia/tugu malang

Acara perayaan warga memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia. (Foto: Dokumen)

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh : Khoirul Amin*

Tugumalang.id – Masih ingatkah kita, arak-arakan anak-anak dengan pakaian adat nusantara yang berbeda-beda saat perayaan Hari Besar Nasional?

READ ALSO

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Saat peringatan pitoelasan, di bulan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) contohnya, banyak kita temui pawai busana adat. Saat pentas seni di sekolah, kerap pula ditemui penampilan kreasi pelajar dengan pernak-pernik adat dan budaya berbagai daerah.

Begitu halnya, ketika acara ruwatan atau ritual di desa-desa, tidak pernah sepi dari khazanah tradisi budaya. Perayaan tradisi lokal yang juga sarat apresiasi seni-budaya dan pelestarian nilai-nilai tradisi warisan para leluhur bangsa. Meski sebagai tradisi Jawa, acara ruwatan desa tak jarang memunculkan kekhasan budaya lain, seperti Bali, Aceh hingga Papua. Semua lengkap dengan atribut dan busana masing-masing.

Semua contoh tersebut sejatinya adalah cerminan kebanggaan pada kekayaan kebinekaan yang dimiliki bangsa ini. Juga, sebagai ekspresi rasa syukur nikmat dan menghargai kearifan lokal, yang ingin terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Hampir dua tahun terakhir, euforia bernuansa kebinekaan nusantara ini tak lagi didapati dan bisa dirayakan dalam riuh pawai karnaval. Situasi pandemi memang membatasi ruang bagi perayaan seperti ini. Bangsa Indonesia kini lebih banyak mengenal kebinekaan Indonesia dari narasi atau konten dalam literatur atau platform media.

Lalu, apakah hal ini lantas menjadikan lunturnya pemaknaan kebinekaan kita? Terbatasnya interaksi sosial-budaya masyarakat kini, apakah juga serta merta bisa menghilangkan kekayaan kearifan lokal bangsa ini?

Terlalu naif sekiranya mengamini begitu saja pertanyaan-pertanyaan di atas. Akan tetapi, bukan berarti tidak ada sama sekali kekhawatiran ancaman bagi kekuatan kebinekaan bangsa kini. Terlebih, bagi generasi anak-cucu bangsa kelak, tidak berlebihan sekiranya kita juga khawatir atas rasa bangga dan cinta kebinekaan Indonesia masa mendatang.

Sebagai anak bangsa, kita semestinya sadar dan bisa memaknai kebinekaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kebinekaan dalam arti sebenarnya sebagai kenyataan kemajemukan bangsa, dengan ras, bahasa, agama dan adat-istiadat budaya yang berbeda-beda. Kemajemukan bangsa ini sudah disepakati para tokoh pendiri bangsa, menjadi bagian falsafah dan dasar negara. Yakni, Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya ‘Berbeda-beda, namun Tetap Satu Kesatuan.’

Bahkan, kebinekaan Indonesia ini adalah jati diri bangsa. Jati diri dalam keberagaman bangsa yang semestinya bisa dibanggakan selama-lamanya, di manapun dan dalam situasi apapun. ‘Bhinneka Tunggal Ika’ yang sebenarnya ikrar kesetiaan bangsa, sehingga akan senantiasa merasa saling menyadari keberagaman, dan tetap menjaga persatuan dalam berbagai perbedaan yang ada.

Maka, memaknai kebinekaan Indonesia bukanlah sempit, sekadar jargon simbolik yang hanya bisa diwakili gambar atau penampilan berbeda-beda berbagai suku bangsa. Akan tetapi, kebinekaan yang kaya perbedaan, yang harus saling dihargai satu sama lain dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Kebinekaan kita kerap menghadapi tantangan dan ujian. Demokrasi melahirkan alam kebebasan, dan bisa berdampak kehidupan sosial-kemasyarakatan dan kemanusiaan sesama bangsa. Masalah kesenjangan kesejahteraan masyarakat misalnya, akan mudah mengganggu stabilitas kemajemukan bangsa ini. Kemakmuran yang tak berkeadilan, bisa memperlebar kesenjangan dan memunculkan kecemburuan yang berakibat perpecahan bangsa.

Masa sulit pandemi kini, mudah saja menjadikan bangsa ini terpuruk dan lemah. Maka, gotong royong dalam kebinekaan adalah jawaban yang bisa menguatkan. Gotong royong yang melahirkan empati dan solidaritas, serta membangkitkan kerja sama, tolong menolong dan kerelawanan semua bangsa dan antar sesama.

*Pegiat literasi media.

Editor : Herlianto. A

Tags: Bangsabudayagotong royongHari KemerdekaanJati DiriKebhinekaan

Related Posts

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor
Ruang Cendekia

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Jumat, 9 Okt 2026
Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren
Ruang Cendekia

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Minggu, 4 Okt 2026
Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang
Ruang Cendekia

Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang

Minggu, 4 Okt 2026
Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam
Ruang Cendekia

Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam

Rabu, 30 Sep 2026
Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda
Ruang Cendekia

Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda

Rabu, 30 Sep 2026
Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai
Ruang Cendekia

Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai

Senin, 28 Sep 2026
Next Post
Doa bersama - UNISMA Gelar Doa Bersama Presiden RI Agar Terbebas dari Pandemi COVID-19

UNISMA Gelar Doa Bersama Presiden RI Agar Terbebas dari Pandemi COVID-19

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.