TuguMalang.id – Kota Batu, Jawa Timur memiliki kuliner jajanan tradisional khas yang kerap dijumpai saat bulan puasa hingga lebaran. Namanya Ladu. Sampai saat ini, jajanan legendaris ini masih dapat ditemui, khususnya di Desa Gunungsari, Kota Batu.
Hampir setiap rumah di desa yang berada di kaki Bukit Banyak Paralayang itu membuat kudapan ini setiap menjelang bulan ramadan tiba. Hampir di setiap meja rumah, selalu ada setoples ladu. Namun semakin kesini, tradisi membuat kue ladu ini mulai berkurang.

Konon katanya, penamaan Ladu merupakan akronim dari Langgeng Seduluran dalam istilah Jawa. Artinya Persaudaraan yang Abadi atau bermakna sebagai penyambung tali persaudaraan. Melihat arti itu, pantas saja kue ini selalu berkaitan dengan ramadan dan Idul Fitri.
Ladu sendiri merupakan jajanan yang terbuat dari adonan beras ketan dan gula pasir. Pembuatan adonannya dilakukan secara tradisional dengan cara ditumbuk. Setelah jadi, adonan ini dijemur hingga kering dan kemudian dipanggang hingga matang.
Bentuk ladu sendiri hampir mirip seperti keripik kulit yang menggelembung. Tapi rasanya manis dan jika digigit berasa pecah dan bertekstur akhir lembut. Rasanya seperti bernostalgia dengan jajanan di masa tempoe doeloe.

Resep jajanan ini memang sudah dikenal secara turun-temurun di Desa Gunungsari. Hingga saat ini, belum diketahui sejak kapan jajanan ini ada. ”Ladu sudah jadi kayak tradisi disini sejak dulu. Apalagi menjelang lebaran tiba,” ungkap Ratih Rohaili (36).
Ratih bersama suaminya menjadi generasi penerus pembuat ladu yang tetap bertahan hingga sekarang. Kini, Ratih bersama 6 orang tetangganya tetap aktif memproduksi ladu setiap hari pesanan rutin dari pelanggan dan toko oleh-oleh.

Sehari-hari, sambung Ratih, dia bisa memproduksi ladu hingga 50 kilogram atau 200 bungkus ladu jika pesanan ramai. Produk ladu bikinannya kebanyakan merambah di seputaran Malang Raya, Sidoarjo hingga Jombang.
Lebih lanjut, Ladu terbaik, sesuai resep dari nenek buyut, dibuat dari beras ketan kualitas terbaik. Selain itu, konon, ladu yang enak juga harus dibuat dengan cara tradisional. Meski dengah cara itu membutuhkan waktu yang lama.
Ratih menuturkan proses pembuatannya diawali dengan merendam beras ketan selama sehari semalam. Berikutnya, rendaman ini lalu dikeringkan hingga menjadi tepung dan ditumbuk di sebuah lumpang hingga halus. Dalam proses ini juga termasuk dicampur dengan gula. Proses ini hampir memakan waktu selama 3 jam.

Nantinya, hasil dari adonan ini akan dipipihkan dan dijemur hingga kering selama sehari. ”Setelah kering didiamkan dulu beberapa saat hingga siap untuk dimasak oven. Kalau dulu masaknya masih pakai belanga tanah liat,” paparnya.
Proses tak instan inilah yang kemudian membuat generasi penerus enggan membuat kue ini. Kue ini sendiri sudah menjadi makanan langka di Kota Batu dan bisa dijumpai di toko oleh-oleh dan sejumlah warung.
Reporter: Ulul Azmy
editor:jatmiko
—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugumalangid , Facebook Tugu Malang ID ,
Youtube Tugu Malang ID , dan Twitter @tugumalang_id