Mengedukasi Kepala Daerah agar Siap Menerima Berita Negatif

  • Whatsapp
Dr Aqua Dwipayana

Catatan Dr Aqua Dwipayana

Sebulan terakhir ini ada teman-teman wartawan yang menyampaikan cerita senada ke saya. Mereka menceritakan tentang kepala daerah tempatnya bertugas – gubernnur, bupati, dan wali kota – yang tidak siap dan kurang berkenan atas berita-berita negatif yang dimuat di medianya tentang kinerja mereka dan jajarannya yang negatif. Meski yang disampaikan semuanya benar namun para kepala daerah itu tidak dapat menerima realita tersebut.

Bacaan Lainnya

Akibatnya hubungan yang selama ini sudah terjalin dengan baik bahkan akrab, jadi terpengaruh. Para kepala daerah itu tidak dapat menerima realita yang ada.

Meski semua yang diberitakan di media teman-teman wartawan itu benar dan faktanya dapat dipertanggungjawabkan, namun mereka tetap disalahkan. Para kepala daerah tersebut merasa bahwa borok mereka tidak patut ditayangkan di media.

Dampak pemberitaan negatif itu terasa signifikan. Komunikasi yang selama ini akrab jadi terganggu. Tidak hanya itu, berpengaruh juga pada kerjasama antar institusi: pemerintah daerah dan media.

Ada ancaman menghentikan kerjasama yang bakal berakibat pada berkurangnya pemasukan buat media. Selama ini termasuk saat pandemi Covid-19 sebagian media masih mengandalkan pemasukannya dari pemerintah daerah.

Sebagian teman wartawan itu khawatir akibat berita-berita negatif tersebut, para kepala daerah yang selama ini jadi mitra kerjanya menghentikan kerjasama dengan media mereka. Akibatnya pemasukannya dari iklan pemerintah daerah berkurang.

Minta Maaf Cairkan Suasana

Setelah teman-teman wartawan itu menceritakan semua hal di atas, mereka minta

masukan ke saya. Cara terbaik mengatasinya sehingga kondisinya normal kembali. Kerjasama dengan pemerintah daerah dapat terjalin lagi dengan baik.

Saran saya kepada teman-teman wartawan itu adalah sebagai berikut. Pertama, menemui kepala daerah tersebut. Meski suasananya tidak nyaman tetap harus dilakukan untuk menuntaskan masalahnya.

Baca Juga  Mau Cari Apa Lagi?

Semua masalah dengan kepala daerah terkait pemberitaan harus dihadapi dan dituntaskan. Jangan menghindar. Jika memiliki niat baik dan berusaha maksimal yakinlah seluruh masalahnya akan selesai.

Kedua, minta maaf kepada kepala daerah tersebut. Meski semua yang disampaikan benar dan faktanya seperti itu, jangan ragu untuk minta maaf atas ketidaknyamanan dengan pemuatan berita tersebut.

Ingat, mengalah bukan berarti kalah. Bersikap seperti itu dapat juga membuat para wartawan jadi pemenang dan lebih dihargai orang lain termasuk oleh kepala daerah.

Setelah meminta maaf insya ALLAH suasananya akan cair. Sehingga lebih enak dan nyaman komunikasi dengan kepala daerah.

Kedepankan Etika dan Kesantunan Komunikasi

Ketiga, sampaikan maksud penanyangan berita tersebut. Bukan untuk menyerang kepala daerah apalagi secara pribadi namun buat perbaikan kinerjanya di masa mendatang.

Dengan begitu jika kepala daerahnya berpikir positif harusnya berterima kasih kepada media yang mau mengoreksi kinerjanya. Setelah itu tentunya harus ada perbaikan dan lebih hati-hati. Sehingga kejadian yang sama tidak terulang kembali.

Keempat, tetap menjalin kerjasama. Karena niat medianya baik – untuk perbaikan kinerja pemerintah daerah – sehingga sarankan agar tetap menjalin kemitraan.

Sampaikan juga semua manfaat yang selama ini dirasakan kedua belah pihak, pemerintah daerah dan media, dengan kerjasama tersebut. Bila kondisinya memungkinkan agar kemitraannya lebih ditingkatkan lagi.

Kelima, evaluasi komunikasi. Kedua belah pihak agar sama-sama mengevaluasi komunikasi yang terjalin selama ini.

Jika ada yang kurang agar segera diperbaiki. Sedangkan yang sudah baik dapat ditingkatkan dan dipertahankan terus.

Setelah menyampaikan semua saran tersebut teman-teman wartawan menjadi lega. Berusaha untuk melaksanakan dan berharap hubungannya dengan kepala daerah dapat baik kembali. Aamiin ya robbal aalamiin…

Baca Juga  Semua Tergantung Niat

Dalam hidup ini tidak ada yang sempurna termasuk kinerja kepala daerah. Lakukan koreksi dengan tetap mengedepankan etika dan kesantunan komunikasi.

*Penulis adalah Motivator dan Pakar Komunikasi Nasional.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *