Tugumalang.id – Seorang konten kreator muda sekaligus penulis buku, Zahid Syak selalu tampak memiliki segalanya, kecerdasan, estetika visual yang tertata, dan ribuan pengikut yang setia menanti setiap kata-kata motivasinya.
Namun, dalam salah satu video yang diunggahnya di platform youtube, pemuda ini justru mengajak audiensnya masuk ke dalam dinamika perjalanannya untuk menemukan dan mencintai dirinya sendiri.
Baca Juga: Balik ke Rutinitas Setelah Lebaran Tanpa Mager, Ini Tipsnya
Perjalanan Zahid bukan tentang bagaimana menambah jumlah subscriber, melainkan tentang bagaimana ia belajar berhenti mengejar tepuk tangan dunia demi menemukan kedamaian di dalam dirinya sendiri.
Keluar dari Perangkap Topeng Digital
“Aku pernah ngerasa aku enggak cukup,” Katanya saat memulai video. Zahid bercerita bagaimana ia sempat terjebak dalam perlombaan tanpa garis finis karena sosial media. Sehingga Zahid mulai memperbaiki penampilan agar disukai, belajar mati-matian agar diakui, hingga bekerja keras demi bisa pamer hasil.
Namun, ia menemukan bahwa semakin ia mengejar validasi orang lain, semakin ia merasa kosong. Kemudian ia mulai mengenakan topeng bahagia dan mengikuti tren yang sebenarnya tidak ia sukai, hanya agar tidak tertinggal.
Saat mulai menyadari kekosongan itu zahud mulai berfikir bahwa orang yang paling ia butuhkan untuk bisa menerima dirinya itu bukan orang lain, tapi dirinya sendiri sendiri.
Ketidakadilan dalam Membandingkan
Bagi Gen Z, hidup sering kali terasa seperti kompetisi global yang disiarkan langsung melalui Instagram dan TikTok. Kita melihat orang di usia 20-an sudah memiliki bisnis, berkeliling dunia, atau mencapai tangga kesuksesan yang tampak mustahil.
Baca Juga: 3 Tips Belajar Efektif ala Maudy Ayunda untuk Hadapi Ujian Lebih Siap
Zahid mengingatkan satu hal yang sering kita lupakan tentang bahagimana kita sering melakukan ketidakadilan pada diri sendiri. Kita membandingkan hidup kita yang penuh perjuangan dengan highlight reel orang lain yang hanya menampilkan potongan tercerahnya tanpa tau cerita dibaliknya.
Ia pun menyebutkan sebuah data dari Journal of Social and Clinical Psychology (2021) yang menuliskan bahwa semakin sering seseorang membandingkan diri di media sosial, semakin besar risiko mereka merasa tidak berharga. “Otakmu lagi capek banding-bandingin hal yang enggak sebanding,” tambahnya.
Definisi Baru Tentang Self-Love
Bagi Zahid, mencintai diri sendiri atau self-love sering kali disalahartikan. Baginya, self-love bukan berarti menjadi egois atau berhenti berkembang.
“Self-love itu berarti berhenti menyiksa diri kita sendiri dengan standar yang bukan milik kita,” jelasnya. Ia menekankan bahwa tidak semua orang harus viral, menikah muda, atau sukses secara materi di usia yang sama. Setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda, dan menurutnya kedamaian hati jauh lebih mahal daripada angka di rekening atau jumlah likes di postingan.
Kembali ke Akar Spiritual
Hal yang membuat refleksi Zahid menjadi sangat timeless adalah ketika ia menarik narasi ini ke arah spiritualitas. Ia percaya bahwa validasi yang paling abadi datang dari Tuhan.
“Allah pun sayang sama hamba-Nya yang lemah,” tuturnya. Menurutnya, ketika seseorang mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, pengakuan manusia menjadi tidak lagi relevan. Ketenangan muncul karena kita menyadari bahwa kita sudah cukup dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada.
Menjadi Teman Baik bagi Diri Sendiri
Zahid menutup pesannya dengan sebuah ajakan sederhana untuk mulai menjadi teman baik bagi diri sendiri. Jika hari ini target tidak tercapai, jangan maki diri sendiri. Jika orang lain lebih sukses, akui bahwa rezeki setiap orang memiliki jalannya masing-masing.
“Sejatinya kamu tuh cukup bahkan ketika enggak ada yang bilang kamu cukup,” pungkasnya.
Perjalanan Zahid Syak menjadi pengingat bagi kita semua yang hidup di era yang serba cepat bahwa di tengah tuntutan untuk menjadi “luar biasa,” menjadi manusia yang jujur dan damai dengan diri sendiri adalah pencapaian yang paling mewah.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: ‘Isyatur Rodhiyah/Magang
Editor: Herlianto. A





























