Malang, Tugumalang.id-Ketupat adalah hidangan khas yang selalu hadir dalam perayaan Idulfitri. Terbuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman janur (daun kelapa muda) lalu direbus hingga matang, ketupat sering disajikan dengan opor ayam, rendang, gulai, atau sambal goreng hati. Namun, ketupat bukan sekadar makanan khas Lebaran, melainkan juga simbol yang sarat makna filosofis, mencerminkan nilai kesucian dan kebersamaan.
Sejarah dan Filosofi Ketupat
Ketupat merupakan hasil akulturasi budaya Islam dan Jawa. Konsepnya diperkenalkan ke Nusantara oleh para ulama saat penyebaran Islam, salah satunya Sunan Kalijaga. Ia mempopulerkan ketupat sebagai simbol perayaan Idulfitri sekaligus ekspresi rasa syukur setelah berpuasa selama Ramadan. Dalam tradisi Jawa, ketupat disebut “kupat,” kependekan dari “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Ini selaras dengan makna Idulfitri sebagai momentum untuk saling memaafkan.
Baca juga: Jelang Lebaran, Dishub dan Polres Batu Intensifkan Ramp Check Bus Pariwisata
Makna Filosofis Ketupat
- Janur Kuning sebagai Simbol Kesucian
Janur yang digunakan untuk menganyam ketupat memiliki arti mendalam. Kata “janur” diyakini berasal dari bahasa Arab ja’a nur, yang berarti “datangnya cahaya.” Ini melambangkan pencerahan dan kebersihan hati setelah menjalani ibadah puasa. Warna kuning pada janur juga mencerminkan niat baik dalam menyambut hari kemenangan. - Bentuk Ketupat Melambangkan Keseimbangan
Ketupat berbentuk persegi atau persegi panjang, mencerminkan keteraturan dan keseimbangan hidup. Anyaman rumitnya melambangkan perjalanan hidup manusia yang penuh lika-liku serta kesalahan yang telah diperbuat. Momen Idulfitri menjadi kesempatan untuk kembali suci dengan saling memaafkan.
Baca juga: Lebaran Kupat, Ratusan Warga Berebut Ketupat Raksasa di Alun-Alun Kota Batu
- Beras sebagai Lambang Rezeki dan Keberkahan
Beras yang diisikan ke dalam janur melambangkan rezeki dan berkah. Saat direbus, beras mengembang dan memenuhi ruang dalam anyaman, melambangkan limpahan nikmat dan kesejahteraan. Ini menjadi simbol rasa syukur atas rezeki yang diterima setelah menjalani Ramadan.
Ketupat biasanya dinikmati sejak hari pertama Idulfitri, tetapi di beberapa daerah perayaannya lebih khas pada hari ketujuh bulan Syawal. Selain sebagai hidangan, ketupat mengandung makna filosofis yang mendalam, mengajarkan kebersihan hati, keseimbangan hidup, serta rasa syukur. Oleh karena itu, saat menikmati ketupat di Lebaran, kita tidak hanya menikmati kelezatannya, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Hailatun Nada Salsabila/Magang
redaktur: jatmiko
























