Tugumalang.id – Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) menggaungkan kepedulian lingkungan sekaligus mengajak melestarikan budaya daerah. Mereka mengajak siswa mendaur ulang sampah atau barang bekas menjadi karya seni Bantengan.
Kegiatan dipusatkan di SDN Karangbesuki 1 Kota Malang. Disana, pelajaran didorong tak hanga di dalam kelas. Para siswa diajak mengumpulkan kardus bekas, botol plastik dan sampah rumah tangga.
Barang barang itu biasanya langsung berakhir di tempat sampah. Namun di tangan puluhan murid, barang barang itu disulap menjadi kepala Bantengan yang gagah.
Baca Juga: PKKMB Unikama Bedah Buku Rahasia Cinta Ilahi dan Spiritualitas Pendidikan Karakter
Pemandangan itu menjadi bagian dari SIRALOKA (Seni Rakyat Lokal Karya Alam), projek kepemimpinan mahasiswa PPG Unikama. Lewat workshop sehari itu, mahasiswa PPG mengajak murid fase C belajar mencintai kesenian tradisional bantengan dan peduli pada sampah di sekitar mereka. Para murid yang terlibat diberi julukan istimewa, yaitu Ksatria Siraloka.
Bantengan adalah kesenian rakyat yang lekat dengan Malang Raya. Namun di tengah gempuran hiburan modern, tidak semua anak mengenalnya dengan baik. Sebagian hanya melihatnya sebagai tontonan keramaian, tanpa tahu sejarah dan makna di baliknya.

Di sisi lain, persoalan sampah rumah tangga terus tumbuh dan sering terasa terlalu besar untuk disentuh anak-anak. Padahal kebiasaan baik justru paling mudah ditanamkan sejak dini.
SIRALOKA mempertemukan dua hal itu dalam satu kegiatan. Budaya dikenalkan, lingkungan dirawat dan murid diberi kesempatan memimpin prosesnya lewat karya mereka sendiri.
Baca Juga: Senada Festival #2 Unikama Jadi Panggung Ekspresi Seni Mahasiswa
Kegiatan dimulai dari sesi pengenalan. Mahasiswa PPG memaparkan sejarah bantengan, asal usulnya, dan hal hal yang membentuk kesenian ini sebagai bagian dari budaya masyarakat di Malang. Murid diajak melihat bahwa bantengan bukan sekadar bentuk atau pertunjukan, tetapi warisan yang membawa nilai di dalamnya.
Dalam sesi ini, mahasiswa juga menegaskan pentingnya mengenal bantengan sesuai dengan budayanya, bukan versi modifikasi. Siswa juga diajak memahami mana yang menjadi ciri asli dan mana yang tidak boleh diubah sembarangan. Dengan begitu, karya yang nanti mereka buat tidak berhenti pada bentuk yang menarik, tetapi tetap menghormati pakem aslinya.
Setelah mengenal budayanya, para siswa beralih ke materi lingkungan. Mereka belajar tentang pengolahan sampah, termasuk cara memilah sampah berdasarkan jenisnya dan prinsip 3R yakni Reduce, Reuse, Recycle. Penjelasan disampaikan dengan contoh sehari hari yang dekat dengan kehidupan mereka, seperti botol minuman bekas, bungkus plastik dan kardus dari rumah.
Dari sini murid menyadari satu hal sederhana tetapi penting bahwa sampah yang dipilah dan dimanfaatkan kembali bisa menjadi sesuatu yang bernilai, bahkan menjadi karya seni.
Kegiatan berlanjut ke praktik membuat bantengan. Para siswa bekerja berkelompok dengan bahan kardus, plastik sampah rumah tangga dan botol bekas. Ada yang bertugas membentuk kerangka, ada yang menggunting dan menempel, ada pula yang menyusun bagian bagian kecil agar bentuknya mendekati bantengan yang mereka pelajari tadi.
Suasana workshop itu ramai. Tawa, diskusi dan sesekali perdebatan kecil soal warna dan bentuk menjadi bagian dari prosesnya. Mahasiswa PPG mendampingi tiap kelompok, tetapi ruang untuk bereksperimen dibiarkan terbuka. Ide dan keputusan sebagian besar datang dari para murid sendiri.
Setelah bentuk dasar selesai, mereka masuk ke tahap dekorasi. Siswa belajar memilih warna, menata hiasan dan memberi sentuhan akhir agar bantengan buatan mereka tampak hidup dan memiliki karakter. Pada tahap inilah kreativitas mereka terlihat. Barang yang tadinya dianggap tidak berguna bisa tampil sebagai karya yang membuat pembuatnya bangga.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu menuntut biaya besar atau bahan yang istimewa. Dengan kemauan belajar dan sedikit kreativitas, kesenian tradisional tetap bisa hidup dengan cara yang dekat dengan kehidupan anak anak masa kini.
Pemanfaatan barang bekas juga membuktikan bahwa menjaga budaya dan menjaga lingkungan dapat berjalan beriringan. Setiap botol, kardus, dan plastik yang diolah menjadi bantengan berarti satu sampah yang tidak mencemari lingkungan, sekaligus satu langkah kecil agar budaya tidak hilang ditelan zaman.
Selama masih ada generasi yang mau belajar, bangga dan merawatnya, budaya akan terus berdenyut. Generasi itu bisa dimulai dari ruang kelas sederhana, dengan bahan bahan yang selama ini kita buang begitu saja.
Bagi para mahasiswa PPG, SIRALOKA lebih dari sekadar workshop membuat kerajinan. Projek ini menjadi ruang untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan pada murid, yaitu berani mencoba, mau bekerja sama dan peduli pada budaya serta lingkungan di sekitarnya. Mereka tidak hanya diminta mendengar, tetapi diberi kepercayaan untuk berkarya dan mengambil peran.
Semangat itu dirangkum dalam tagline kegiatan “Gema Ksatria Siraloka: Berani Berkarya, Bangga Berbudaya”.
Workshop di SDN Karangbesuki 1 itu diharapkan menjadi awal yang baik. Dari satu sekolah di Kota Malang, gema para ksatria cilik dapat menjalar ke sekolah sekolah lain dan menumbuhkan lebih banyak generasi yang mencintai budayanya serta menjaga bumi tempat mereka tinggal.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A

















