Selasa, Juni 2, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Insight

Kiprah Umar Faruq, Banyak Islamkan Orang Berkat Dakwah Kultural, Belajar Kesabaran dari Suku Anak Dalam

Redaksi by Redaksi
Oktober 16, 2025 7:51 pm
in Insight
H Umar Faruq di pesantrennya di daerah Jedong, Wagir, Kabupaten Malang. Foto: Irham Thoriq

H Umar Faruq di pesantrennya di daerah Jedong, Wagir, Kabupaten Malang. Foto: Irham Thoriq

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Di tengah sunyi Desa Jedong, Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur, H Umar Faruq berdakwah dari Pesantren Darma Nawa dengan cara yang hangat dan membumi.

Lewat pendekatan kultural yang santai, penuh humor, dan berakar pada akhlak Nabi, lebih dari 30 orang telah memeluk Islam tanpa paksaan.

READ ALSO

The Whisperer, Art Toys Horor yang Terinspirasi dari Sosok Astral Penunggu Jembatan Cangar

Tak Lupa Akar, Owner Mie Cendana Viral di Malang Buka Peluang Gandeng Produk UMKM Lokal

Kiprahnya juga menjangkau Suku Anak Dalam di Jambi, tempat ia belajar bahwa dakwah sejati bukan sekadar mengajar, melainkan hidup bersama, memahami budaya, dan menumbuhkan kepercayaan dari hati. Berikut ulasan soal kiprah Umar Faruq.

Suasana sunyi terasa di Pesantren Darma Nawa, Jedong, Wagir, Kabupaten Malang, saat tugumalang.id, berkunjung pada pertengahan September 2025 lalu.

H. Umar Faruq, pendiri sekaligus pengasuh pesantren ini, terlihat santai dengan dua orang santrinya: pakai sarung dan mengenakan baju takwa khas baju muslim.

Di tengah keheningan suasana pesantren inilah, justru banyak orang menemukan jalan spiritualnya. Berdiri sejak 2013 silam, saat ini sudah ada 30 orang yang mualaf melalui Umar Faruq. Biasanya, setiap ada orang mualaf baru, oleh Umar selalu di posting di akun media sosialnya.

Postingan inilah juga yang mengantarkan tugumalang.id penasaran dengan kiprah Umar. ”Dulu ada yang lucu, orang mau masuk Islam bertanya, kalau masuk Islam harus bayar berapa,” katanya. ”Gak ada bayar-bayar, semuanya gratis,” jawab Umar lalu terkekeh.

Umar bercerita jalan dakwahnya melalui pesantren Darma Nawa yang dia mulai 30 Januari 2013. Awal mulanya, dia berdakwah di tempat tersebut karena ada orang yang mau mewakafkan tanah dan bangunannya.

H Umar Faruq saat mengislamkan salah satu jemaahnya. Paling sedikitnya sudah ada 30 orang yang memeluk Islam melalui Umar. Foto/dok Umar Faruq

Saat itu, Umar sudah menjadi salah satu dosen Program Khusus Pengembangan Bahasa Arab (PKPBA) di UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang.

Ketika itu, di daerah tersebut, penduduknya masih banyak yang kejawen, Hindu dan Budha. ”Makanya waktu itu ada yang bilang, kalau dakwah di sini tidak boleh bahas salat dan haramnya minuman keras, nanti tidak ada yang datang,” imbuh alumnus UIN Maliki Malang ini.

Karena alasan inilah, Umar lebih banyak membahas soal akhlak, khususnya soal akhlak Nabi Muhammad SAW. Selain itu, pengajiannya juga tidak dibuat formal. Ngajinya dibuat seperti acara nongkrong santai disertai humor di sela-selanya.

”Dan saya kasih rokok, ada yang bilang, enak ya ngaji di sini dapat rokok,” imbuh pria tiga orang anak ini.

Ketika itu, karena pengajian yang di desain santai serta mendapatkan rokok gratis, banyak warga yang awalnya tidak tertarik kepada Islam, datang untuk mengaji. Total ada sekitar 15-20 orang yang hadir.

Sekitar tiga bulan berdakwah, ada orang yang datang ke tempatnya, lalu bertanya bagaimana caranya masuk Islam. ”Mayoritas mereka masuk Islam berdasarkan kemauan pribadi, saya tidak pernah mengajak, saya cuma dakwah saja sifatnya,” kata suami dari Hj Lia Setyawati ini.

Ada berbagai macam alasan kenapa orang-orang memilih pindah Agama melalui Umar. Bahkan, ada sejumlah alasan yang menurut Umar itu sederhana. Suatu ketika, ada orang yang taat di Agama lain, dan sering berbagi ke tempat Agama mereka.

Namun, ketika Istri-nya meninggal, tidak ada tokoh Agama dari Agama tersebut yang peduli pada dirinya. ”Padahal dia sudah rutin menyumbang, tapi ketika kena musibah dibiarkan begitu saja, makanya dia kecewa nanti jangan-jangan ketika dia mati lalu ditinggal dan tidak didoakan, karena alasan itu dia memilih pindah Agama,” imbuh pria asli Bondowoso tersebut.

Ada juga cerita bapak yang memeluk Agama Islam berkat anaknya yang berubah ketika sudah masuk Islam terlebih dahulu. ”Jadi anaknya itu ketika masuk Islam berubah, dia jadi cium tangan dan rajin membuatkan kopi kepadanya di pagi hari, itu jadi alasan mereka tertarik pada Islam,” imbuhnya.

Menurut Umar, salah satu kunci sukses banyak orang masuk Islam melalui dirinya itu, adalah dakwah yang tidak berjarak dengan masyarakat. ”Kita memang melakukan pendekatan kultural, jadi kita membaur dengan masyarakat,” ucapnya.

Saat ini, pesantrennya itu selain rutin mengislamkan masyarakat yang ingin masuk Islam secara sukarela, juga banyak kegiatan yang dilaksanakan. Untuk pembelajaran Alquran bagi anak-anak atau TPQ, ada 60 anak-anak yang mengaji setiap hari.

Sedangkan untuk jemaah yang belajar di madrasah diniyah (Madin) terdapat 20 santri. ”Sedangkan yang menetap atau mukim, rata-rata ada lima, mayoritas mahasiswa UIN Malang,” ucapnya.

Dakwah dengan Cara Tidak Kaku

Selain melalui dakwah kultural, Umar juga melakukan dakwah dengan lentur dan tidak kaku. Dia mencontohkan, ketika ada hajatan di desa tersebut, sering disajikan minuman keras oleh tuan rumah.

”Tapi tetap saja saya datang, tidak langsung melarang tentu saja, saya datang tapi tidak ikut minum minuman keras,” ucapnya.

Selain itu, penamaan Darma Nawa sebagai nama pesantren, juga dipilih agar pesantren ini terlihat lentur dan menyatu dengan masyarakat. Lantaran, Darma ini sama dengan istilah Agama lain atau kepercayaan lain. ”Padahal kepanjangannya arab banget yakni darul ruhama li ahlil sunnah wal jama’ah,” pungkasnya.

Rutin Dampingi Suku Anak Dalam

Selain menjadi pengasuh di pesantren Darma Nawa, aktivitas dakwah Umar juga meluas ke berbagai daerah. Ini karena Oemar juga menjadi Ketua Hawariy Ash Shofwah Pusat.

Umar Faruq bersama suku anak dalam di pedalaman Jambi. Foto/dok Umar Faruq
Umar Faruq bersama suku anak dalam di pedalaman Jambi. Foto/dok Umar Faruq

Ini adalah organisasi yang merupakan alumni dari beberapa kiai asal Indonesia yang merupakan murid dari Prof Dr Sayyid Muhammad Al Maliki bin Alawi bin Abbas bin Abdul Aziz Al Maliki Al Hasani. Beliau adalah tokoh besar asal Makkah, Arab Saudi yang mempunyai banyak santri di Indonesia.

Di organisasi hawariy, salah satu dakwahnya adalah mendampingi Suku Anak Dalam di Jambi yang terkenal primitif. Kurang lebih enam bulan, dia membaur dengan keseharian mereka, ikut berburu, dan hidup sederhana di tengah hutan.

Dari pengalaman itu, ia menyadari bahwa membangun kepercayaan adalah kunci sebelum bisa menyampaikan ajaran.

“Guru dari desa setempat banyak yang takut mendekati mereka. Bahkan anak-anak SAD sendiri merasa terancam bila melihat orang luar. Karena itu, saya harus hidup bersama mereka lebih dulu, merasakan apa yang mereka rasakan,” kata Umar.

Setelah masa tinggal panjang itu, pembinaan berlanjut melalui tim yang mendampingi dari dekat. Sementara Ustadz Umar sendiri rutin berkunjung ke lokasi sebanyak tiga kali dalam setahun, dengan durasi sekitar satu minggu setiap kali kunjungan.

Upaya ini tidak selalu berjalan mudah. Umar bercerita pernah mengirim buku senilai Rp2 juta untuk anak-anak SAD, namun buku tersebut justru direndam karena mereka belum terbiasa dengan bacaan. Ia juga sempat mengirim pakaian, tetapi enggan dipakai oleh warga.

“Di situlah saya belajar bahwa dakwah bukan sekadar memberi, tapi juga butuh kesabaran, pemahaman budaya, dan pendekatan yang sesuai dengan kehidupan mereka,” jelasnya.

Sebagian warga SAD telah memeluk Islam, sebagian lainnya masih memegang teguh agama leluhur yang disebut “agama rimba.”

Untuk itu, pendampingan yang dilakukan bukan hanya soal akidah, tetapi juga pembelajaran sopan santun, pendidikan dasar, dan adaptasi dalam kehidupan sosial.

“Bagi saya, dakwah bukan hanya menyampaikan ajaran, tetapi juga memahami, mendengarkan, dan hidup bersama mereka. Itu yang saya pelajari dari pengalaman bersama Suku Anak Dalam,” pungkasnya.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Reporter: Irham Thoriq, Yuliana Elvita Sari, Imas Salisah Goniyah

Editor: Herlianto. A

Tags: Darma NawaPesantrenUIN MalangUmar Faruq

Related Posts

Penampakan 'The Whisperer', art toys karya Rino Adi Mardika yang terinspirasi dari hantu penunggu jembatan cangar. Foto: Azmy
Insight

The Whisperer, Art Toys Horor yang Terinspirasi dari Sosok Astral Penunggu Jembatan Cangar

Selasa, 5 Mei 2026
mie cendana
Insight

Tak Lupa Akar, Owner Mie Cendana Viral di Malang Buka Peluang Gandeng Produk UMKM Lokal

Sabtu, 2 Mei 2026
Sam HC (Heri Cahyono) bersiap mengelilingi dunia melintasi 14 negara. (Foto/M Sholeh)
Insight

Berbekal Tekat, Sam HC Tantang Diri Kelilingi Dunia dari Malang Naik Motor

Jumat, 1 Mei 2026
Proses pembuatan batik di Batik Seng. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Insight

Pengolahan Limbah Batik Seng, Dari Sisa Produksi Menjadi Sumber Daya Berkelanjutan

Kamis, 30 Apr 2026
Kisah CEO sekaligus Founder Thursina IIBS, Nur Abidin yang juga alumni Unisma tentang nilai dan karakter di kampus menjadi inspirasi mengembangkan lembaga pendidikan bertaraf global. /Foto: Tangkapan layar YouTube Unisma.
Insight

Jejak Gemilang Alumni Unisma: Tanamkan Nilai dan Karakter Islam Modern Melalui Lembaga Pendidikan Bertaraf Global

Rabu, 29 Apr 2026
Casila Indonesia
Insight

Casila Indonesia, UMKM Poncokusumo yang Sukses Ekspor ke Jepang dan Singapura

Minggu, 26 Apr 2026
Next Post
Kerja Sama ITN Malang dengan Ditjen Penataan Ruang Laut (DJPRL), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Foto/dok ITN Malang

ITN Malang-Ditjen Penataan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan Teken Kerja Sama Strategis, Perkuat Tata Kelola Ruang Laut

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.