MALANG, Tugumalang.id – Meski dari luar terlihat sunyi, rumah produksi Keripik Singkong Barokah bisa rupanya menghasilkan 450 kilogram keripik setiap harinya. Mesin penggiling dan kompor yang digunakan untuk mengukus pun terus bekerja tanpa henti.
Bagian belakang sebuah rumah yang terlihat sederhana di Desa Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang itu selalu terlihat sibuk. Sejumlah karyawan pun terlihat menggiling, memotong, dan menjemur adonan keripik singkong.
Baca Juga: Mampir ke Buah Tangan, Surga Oleh-Oleh Khas Kota Batu
Dengan kapasitas produksi sebesar ini, bisnis yang dijalankan oleh Priyanto ini tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal tetapi juga merambah pasar yang lebih luas, mencakup empat kota besar, yaitu Mojokerto, Mojosari, Sidoarjo, serta Bali.

“Kami sudah punya langganan di empat kota tersebut,” kata Priyanto saat ditemui di rumah produksi Keripik Singkong Barokah, beberapa waktu lalu.
Produk keripik singkong yang dihasilkan dalam jumlah besar ini terbagi dalam dua varian rasa, yaitu rasa original dan balado. Harganya yang terjangkau dan kualitas yang terjaga membuat keripik singkong ini diminati di berbagai wilayah.
Baca Juga: Rekomendasi 10 Oleh-Oleh Khas Malang yang Wajib Dibawa Pulang
Setiap kemasan berukuran lima kilogram keripik singkong rasa original dijual dengan harga Rp80 ribu. Sedangkan keripik singkong dengan rasa balado dijual Rp115 ribu per lima kilogram.
“Keripik rasa balado hanya kami jual jika ada permintaan,” imbuh Priyanto.
Pembuatan keripik singkong dimulai dengan proses pengupasan dan pencucian singkong. Singkong yang telah dicuci kemudian diparut.
Singkong parut lalu dibiarkan semalaman dan di-press agar sari-sarinya keluar. Selanjutnya, singkong yang sudah diproses ini dikukus hingga matang. Setelah dikukus, singkong digiling hingga halus dan lembut.
Proses selanjutnya adalah pencetakan singkong yang sudah digiling dan kemudian dijemur untuk mengeringkan adonan. Di musim kemarau, dibutuhkan waktu tujuh jam saja untuk menjemur adonan keripik.
Sementara di musim hujan, proses pengeringan bisa molor hingga dua hari, bahkan tiga hari. Hal ini menjadi tantangan bagi Prayitno dalam memproduksi keripik singkong.
“Kerupuk singkong itu dijemur, proses penjemurannya memerlukan waktu tujuh jam. Kalau cuaca buruk, bisa dua hari baru kering,” kata Prayitno.
Dalam sehari, Priyanto bisa menghabiskan 300 kilogram singkong segar yang dicampur dengan 50 kilogram tepung tapioka. Setiap 100 kilogram singkong segar bisa menghasilkan 150 kilogram keripik mentah.
Jika ditotal, Priyanto bisa menghasilkan 450 kilogram keripik singkong yang dikemas menjadi 90 bungkus. Dengan hasil produksi tersebut, Priyanto bisa memperoleh omzet jutaan Rupiah setiap harinya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Herlianto. A





























