Malang, Tugumalang.id Potensi hujan rendah di Malang Raya hingga Oktober 2026 perlu diikuti kesiapan menghadapi risiko kekeringan dan kebakaran. Selain menghemat penggunaan air, kesiapan fasilitas pendukung penanganan kebakaran juga perlu diperhatikan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur memperkirakan Malang Raya masih memiliki potensi hujan rendah hingga akhir September dan Oktober. Curah hujan yang terjadi umumnya diprediksi di bawah 20 milimeter.
Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur Retno Wulandari mengatakan kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena El Nino yang diprediksi masih bertahan hingga awal 2027 dan saat ini menunjukkan penguatan.
Berdasarkan Peta Prediksi Deterministik Curah Hujan Dasarian Provinsi Jawa Timur yang diperbarui pada 20 September 2026, sebagian besar wilayah Malang Raya masih berada dalam kategori curah hujan rendah hingga Dasarian II Oktober.
Baca juga: Fraksi PKS Beri 20 Catatan KUA-PPAS 2027, Rendra: APBD Harus Terasa Manfaatnya
Di tengah kondisi tersebut, kesiapan infrastruktur penanganan kebakaran di Kota Malang menjadi perhatian. Dari 50 titik hidran yang tersedia, hanya 20 titik yang dilaporkan berfungsi optimal.
Anggota DPRD Kota Malang Rendra Masdrajad Safaat mengatakan kondisi tersebut perlu segera mendapat perhatian. Terlebih, risiko kebakaran dapat meningkat ketika lingkungan berada dalam kondisi kering.
“Kalau kita bicara soal antisipasi kemarau, bukan hanya penggunaan air masyarakat yang perlu diperhatikan. Infrastruktur yang digunakan saat kondisi darurat seperti hidran juga harus dipastikan siap ketika benar-benar dibutuhkan,” kata Rendra.
Menurut Rendra, hidran merupakan salah satu fasilitas yang dapat mendukung pasokan air bagi petugas pemadam kebakaran saat menangani situasi darurat. Karena itu, kondisi fasilitas tersebut perlu diperiksa secara berkala, termasuk memastikan jaringan air yang terhubung dapat digunakan.
Informasi mengenai kondisi hidran tersebut menunjukkan masih adanya fasilitas yang belum berfungsi optimal. Pemerintah daerah bersama pihak terkait perlu memastikan penyebab kerusakan maupun kendala pada masing-masing titik agar segera ditindaklanjuti.
Baca juga: Polemik Sound Horeg, Rendra Dorong Kegiatan Tetap dalam Koridor Aturan
Rendra menilai pengecekan dan perbaikan sebaiknya dilakukan sebelum terjadi keadaan darurat. Kondisi kemarau yang masih diperkirakan berlangsung memberikan waktu untuk memperkuat kesiapsiagaan.
“Jangan menunggu ada kebakaran baru kita cek hidran mana yang hidup dan mana yang tidak. Sekarang masih ada waktu untuk memastikan titik-titik tersebut berfungsi, jaringan airnya tersedia, dan kalau memang ada yang rusak segera ditindaklanjuti,” ujarnya.
Selain kesiapan infrastruktur, Rendra mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran di lahan maupun membakar sampah sembarangan. Kondisi lahan yang kering dapat membuat api lebih mudah menyebar dan meningkatkan risiko kebakaran.
Ia juga mendorong pemerintah memperkuat pemantauan di kawasan yang rawan kekeringan dan kebakaran. Informasi perkembangan cuaca dari BMKG juga perlu dipastikan tersampaikan kepada masyarakat.
“Intinya kita jangan hanya bereaksi setelah kejadian. Kemarau ini sudah diprediksi, jadi langkah antisipasinya juga harus disiapkan dari sekarang, termasuk memastikan fasilitas pemadam kebakaran benar-benar siap digunakan,” pungkas Rendra.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: RilisRendra Masdrajad Safaat
editor: jatmiko































