Tugumalang.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang mencatat kebakaran gunung sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang Kota Malang telah menghanguskan area sekitar 8 hektare. Memasuki hari kedua proses pemadaman, Pemerintah Kota Malang memperkuat strategi pemadaman api pada Kamis (22/10/2026).
Pimpinan Forkopimda Kota Malang bersama jajaran telah melakukan peninjauan langsung di lokasi kebakaran itu. Di sisi lain, petugas damkar dan relawan gabungan masih terus berjibaku menjinakkan api yang masih belum pada di sejumlah titik.
Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin mengatakan bahwa api telah membakar timbunan sampah di kawasan sanitary landfill. Dikatakan, dampak kebakaran di TPA Supit Urang itu telah mencapai sekitar 8 hektare dari total area 32 hektare.
Baca Juga: Mulai 10 Ribu, Masyarakat Bisa Menabung Emas di UPC Pegadaian Gedongan
“Dari total 32 hektare kawasan sanitary landfill, yang terbakar sekitar 8 hektare,” kata Ali.

Kini, strategi penanganan kebakaran telah diperkuat setelah dilakukan rakor percepatan bersama Forkopimda Kota Malang, termasuk BPBD, Satpol PP hingga DLH. Dikatakan, penanganan kebakaran tidak bisa dilakukan sembarangan. Sebab, kepulan asap berbahaya dan api yang telah masuk ke dalam timbunan sampah kian mempersulit pemadaman.
Menurutnya, skema pemadaman harus dirancang secara efektif dengan mempertimbangkan keselamatan petugas dan relawan yang terlibat. Kebutuhan peralatan telah diperhitungkan sesuai luas area kebakaran. Kebutuhan tersebut meliputi alat injeksi air, mobil tangki, hingga alat berat untuk mendukung proses pemadaman.
Terpantau, sejumlah armada damkar dari berbagai pihak telah dikerahkan. Termasuk armada tambahan mobil armoured water cannon dari kepolisian juga telah dilokasi membantu pemadaman. Bantuan personel dan armada telah dikoordinasikan dengan TNI Polri, Pemda sekitar, Pemprov hingga pihak swasta.
Baca Juga: Karhutla Melanda Indonesia, Wawali Kota Malang Ajak Santri Pelopori Kepedulian Lingkungan
Ali menyampaikan bahwa kendala pemadaman di TPA Supit Urang adalah api yang pemadaman adalah api yang telah merambat ke bagian dalam tumpukan sampah. Kondisi tersebut membuat penyemprotan air dari permukaan saja tidak cukup untuk memastikan titik api benar benar padam. Selain itu, potensi gas berbahaya dan karakteristik sampah plastik turut meningkatkan risiko bagi petugas.
Untuk mengatasinya, ada 2 metode yang dipertimbangkan. Yakni injeksi air ke dalam timbunan sampah dan pengerahan ekskavator untuk membongkar bagian yang menjadi pusat api.
“Tidak bisa asal semprot dari atas lalu selesai, karena apinya sudah masuk ke dalam. Ada metode injeksi atau menggunakan ekskavator untuk membongkar pusat pusat api yang sudah masuk ke dalam timbunan sampah,” ucapnya.
Plt Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigorang mengatakan bahwa proses pemadaman juga diupayakan lewat penyemprotan cairan bakteri khusus untuk menjinakkan gas metan di tumpukan sampah. Tak hanya itu, area tumpukan sampah juga dilakukan pengukurukan pasir dan batu (sirtu).
“Jadi bagaimana caranya api dimatikan atau diperkecil dengan melakukan penyiraman dari bakteri dan pengurukan tanah dan sirtu. Itu dilakukan sehingga meminimalisir gas metan yang ada. Kondisi itu memperkecil kondisi gas metan sehingga api tidak terlalu besar,” urainya.
Dikatakan, metode pemadaman tersebut sempat dilakukan dan berhasil madamkan api dalam insiden kebakaran beberapa tahun lalu. Ia menekankan bahwa keberadaan gas metan dalam timbunan sampah itu memang beresiko tinggi memperbesar kobaran api.
Selain lewat cairan khusus dan sirtu, Raymond juga akan memperkuat sistem antisipasi kebakaran lewat pemasangan ecoplast tahan api. Sistem tersebut akan menjadi antisipasi kebakaran jangka panjang.
“Rencananya selain untuk pengurukan menggunakan tanah dan sirtu, nanti juga untuk pemasangan ecoplast, itu tahan dari api,” imbuhnya.
Raymond berharap upaya penanganan kebakaran TPA Supit Urang Kota Malang dapat segera terselesaikan.
“Mudah mudahan hari ini dengan dukungan berbagai pihak, kebakaran ini bisa segera dikendalikan,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A




































