Tugumalang.id – Data kasus HIV/AIDS di Kota Malang terbilang meningkat. Pada 2024 tercatat ada 486 kasus positif, sementara pada April 2025 saja sudah ditemukan 158 kasus baru.
Adapun Tuberkulosis atau TB pada 2025 tercatat 400 pasien dalam pengobatan, dengan 1.132 kasus positif terdeteksi pada Juli 2024. Data ini dirilis oleh Lingga Indonesia dalam acara Focus Group Discussion yang diselenggarakan di Kota Malang pada Kamis (25/9/2025)
Data itulah yang menjadi alasan Yayasan Lingkar Gagasan (Lingga) Indonesia menggelar FGD bertajuk “Memperkuat Kolaborasi Pembangunan Kesehatan di Kota Malang melalui Social Contracting”. Penanganan penyakit menular menjadi perhatian dalam FGD ini.
Baca Juga: Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Malang Turun Selama Pandemi
FGD itu turut dihadiri sejumlah organisasi perangkat daerah di Kota Malang. Mulai dari Bagian Kesra Setda Kota Malang, Dinkes Kota Malang, Dinsos-P3AP2KB Kota Malang, Bappeda Kota Malang hingga Baznas Kota Malang.

Selain itu juga dihadiri beberapa komunitas sosial seperti KDS Damar, Lingkar Malang Solidaritas, Fatayat NU Kota Malang, Yayasan Mahameru, TB Care Yabhysa, Wamarapa, Yayasan Igama hingga Yayasan Sadar Hati.
Technical Officer Community Strengthening System & Human Right Lingga Indonesia, Riansyah menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga sosial masyarakat dan pemerintah dalam hal pembangunan kesehatan satu wilayah.
Baca Juga: Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Malang Turun Selama Pandemi
“Saya kira kolaborasi adalah keniscayaan. Bukan hanya penting, tapi wajib terutama dalam penanganan penyakit menular yang sulit dijangkau,” ucapnya.
Menurutnya, Dinkes Kota Malang menang sudah bermitra dengan lembaga sosial masyarakat dalam penanganan penyakit menular. Namun belum menyentuh social contracting.
“Alhamdulillah di 2025 ini kolaborasi konkret melalui hibah untuk kerja kerja penanganan penyakit menular terutama TBC telah dilakukan. Yakni bersama TB Yabhysa yang memang fokus pada isu TBC,” ujarnya.
Menurutnya, beberapa penyakit menular yang menjadi fokus dan perlu mendapat perhatian yakni HIV, TBC dan malaria. Terlebih, tren kasus TBC, HIV dan malaria di Kota Malang belakangan mengalami kenaikan.
“Jadi melalui FGD ini, ihktiar kami untuk memperkuat kolaborasi pembangunan kesehatan dan mencegah penyakit menular di Kota Malang,” jelasnya.
Baginya, penanganan penyakit menular tak bisa hanya dijangkau oleh pemerintah. Sebab, banyak area area rawan penularan penyakit menular yang sulit dijangkau. Untuk itu, kolaborasi bersama kominitas dan lembaga sosial masyarakat penting dilakukan.
Menurutnya, di Malang banyak komunitas atau lembaga sosial masyarakat yang berfokus pada penyakit menular seperti HIV hingga TBC. Jika mereka diajak berkolaborasi untuk menanggulangi penyakit menular, maka ekosistem pencegahan penyakit menular di Kota Malang akan semakin kuat.
Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Malang, Meifta Eti Winidar menyampaikan apresiasi atas kegiatan FGD yang digagas Lingga Indonesia dalam upaya membangun kesehatan Kota Malang.
“Ini kegiatan yang positif karena Dinkes tak bisa bekerja sendiri. Selain faskes dan puskesmas, kami juga memerlukan pihak pihak terkait untuk pemanganan HIV atau TBC,” ucapnya.
Ia mencontohkan, sosialisasi, motivasi hingga screening sangat memerlukan tenaga untuk mengoptimalkan kinerja Dinkes Kota Malang dalam hal penanganan penyakit menular.
Menururnya, TBC merupakan penyakit menular tertinggi di Kota Malang. Ia juga tak memungkiri jumlah kasus HIV di Kota Malang juga masih tinggi.
“Isu penanganan HIV, TBC dan malaria memang penting menjadi perhatian. Ini adalah masalah bersama yang perlu ditangani melalui kolaborasi bersama elemen masyarakat,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Herlianto. A
Editor: Jatmiko





























