Tugumalang.id – Keterbatasan lahan dan tingginya harga tanah di kawasan perkotaan menjadi tantangan Program 3 Juta Rumah. Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Jawa Timur membuka peluang pembangunan rumah susun di kawasan perkotaan, termasuk Kota Malang.
Hal itu disampaikan usai kegiatan Sosialisasi Pengendalian Resiko dan Pencegahan Korupsi Industri Perumahan Jatim bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI yang digelar di Kota Malang pada Selasa (27/1/2026).
Forum sosialisasi itu dihadiri ekosistem perumahan yang melibatkan pemerintah pusat, daerah, BUMN, pengembang hingga perbankan di Jawa Timur.
Direktur Jenderal Tata Kelola dan Pengendalian Risiko Kementerian PKP RI, Brigjen Pol Dr Aziz Andriansyah, mengatakan bahwa pembangunan perumahan tidak bisa dilepaskan dari kolaborasi banyak pihak.
Baca Juga: Imigrasi Resmikan Global Citizen of Indonesia di Hari Bakti Imigrasi Ke-76
Menurutnya, forum tersebut menjadi ruang untuk membahas berbagai kendala sekaligus mencari solusi agar program prioritas nasional berjalan optimal.
“Perumahan itu ekosistem. Ada pemerintah pusat, daerah, pengembang, swasta, hingga masyarakat. Di sinilah kita duduk bersama, menyampaikan kendala dan mencari solusi,” kata Aziz.
Salah satu tantangan utama yang mengemuka adalah soal pengadaan lahan, khususnya di wilayah yang berkembang pesat seperti Malang Raya. Aziz menilai, tingginya harga tanah di Kota Malang membuat pembangunan rumah hunian semakin sulit direalisasikan. Untuk itu, alternatif pembangunan rumah susun dinilai semakin relevan.
“Kalau harga tanah sudah tinggi dan lahannya terbatas, maka bentuk bantuannya bisa berubah. Tidak hanya rumah tapak, tapi bisa berupa rumah susun subsidi,” jelasnya.
Ia menegaskan, program 3 juta rumah berlaku untuk seluruh Indonesia dengan prinsip utama rumah layak huni dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pemerintah juga telah menetapkan batas harga rumah subsidi dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat. Sehingga pengembang diharapkan menyesuaikan bentuk dan model pembangunan.
Baca Juga: Apel Bulan K3 Nasional Tahun 2026 Perkuat Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja di PLN UP3 Malang
Sementara itu, Ketua DPD APERSI Jawa Timur, Makhrus Soleh menyebut pembangunan perumahan konvensional di kawasan perkotaan seperti Kota Malang dan Kota Batu dan kota kota besar lainnya memang sulit karena harga tanah yang sudah tinggi dan minim lahan.

“Kalau di kota, memang harus naik ke atas. Rumah susun itu sudah jadi keniscayaan di kota kota besar dan negara maju,” kata Makhrus.
Menurutnya, pembangunan rumah susun di pusat kota justru membawa banyak keuntungan, terutama dari sisi efisiensi dan mobilitas masyarakat. Dengan hunian yang dekat dengan tempat kerja dan fasilitas pendidikan, beban transportasi dapat ditekan.
“Kalau tempat tinggal jauh dari pusat aktivitas, mobilitas tinggi, biaya juga tinggi. Rumah susun di tengah kota justru lebih efisien,” ujarnya.
APERSI Jawa Timur pun mendorong agar pemerintah lebih hadir dalam mendukung pembangunan rumah susun, baik dari sisi regulasi, perizinan, maupun skema bantuan. Makhrus menilai, sinergi antara pemerintah pusat, daerah dan pengembang menjadi kunci agar peluang pembangunan rusun subsidi di Malang Raya bisa segera direalisasikan.
Dengan semakin terbatasnya lahan dan terus meningkatnya kebutuhan hunian, rumah susun dipandang sebagai solusi realistis sekaligus strategis untuk menjaga keberlanjutan Program 3 Juta Rumah di kawasan perkotaan.
Reporter: M Sholeh
Editor: Herlianto. A
























