Malang, Tugumalang.id – Sebuah usaha hendaknya tidak hanya meraup keuntungan, tetapi juga sustainable (berkelanjutan) dan bermanfaat bagi sesama. Inilah prinsip yang dijalankan oleh Arianto Nugroho, pemilik UMKM Kupu Sutera.
Saat ditemui di rumahnya yang terletak tak jauh dari Rumah Sakit Jiwa Dr Radjiman Wediodiningrat beberapa waktu lalu, Arianto mengungkapkan bahwa bisnis yang ia jalani mengedepankan keberlanjutan, bukannya meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.
“Visi kami harus ramah lingkungan dan sustainable,” ujar Arianto.

Bisnis Kupu Sutera yang ia rintis sejak tahun 2015 ini memproduksi benang sutra, kain sutra, hingga produk jadi berupa sepatu, tas, topi, dan sebagainya. Di dalam memproduksi itu semua, Arianto melibatkan puluhan penyandang disabilitas.
“Kalau penyandang disabilitas itu biasanya tidak stabil, mereka naik turun (kerjanya). Tapi yang pasti (kerjanya) ini ada sekitar 20 orang,” kata Arianto.

Ia tidak menganggap para penyandang disabilitas tersebut sebagai karyawan, melainkan sebagai mitra. Keterlibatan para penyandang disabilitas ini adalah sebuah bentuk kolaborasi agar mereka lebih mandiri dan mendapat manfaat dari Kupu Sutera.
“Mereka nggak kerja di sini, tapi di rumah masing-masing. Karena mereka terbatas secara mobilitas. Mereka bisa mengatur waktu mereka sendiri,” jelasnya.

Selain berkolaborasi dengan penyandang disabilitas, prinsip bisnis berkelanjutan juga diterapkan dalam proses produksi. Biasanya dalam produksi sutra, pelaku bisnis merebus kepompong ulat sutra beserta ulat yang ada di dalamnya. Akibatnya, ulat tersebut mati dalam proses produksi.
“(Produksi sutra secara tradisional) itu tidak sustainable karena membunuh dan membunuhnya itu tidak manusiawi,” kata Arianto.
BACA JUGA: UMKM di Kabupaten Malang Gaptek, Sulit Bertransformasi ke Digital
Di Kupu Sutera, ulat-ulat tersebut dibiarkan hidup. Mereka membiarkan ulat tersebut bermetamorfosis menjadi ngengat dan memanfaatkan kepompongnya saja.
“Mereka tetap jadi ngengat. Selanjutnya, kepompongnya itu yang kami produksi,” imbuh Arianto.
Di dalam berbisnis, Arianto pun lebih banyak memasarkan produknya secara offline melalui pameran. Ini disebabkan pameran bisa memudahkan ia mengedukasi masyarakat terkait sutra.

Memang, sutra produksi Kupu Sutera terlihat berbeda dengan sutra-sutra yang banyak dijual di pasaran. Jika biasanya sutra yang diketahui masyarakat itu memiliki warna yang mengkilap dan permukaannya licin, maka sutra dari Kupu Sutera memiliki warna yang lebih pucat dan permukannya kesat.
“Kami harus mengedukasi masyarakat bahwa sutra asli itu sepert ini. Sutra yang beneran nggak seindah sutra yang ada di toko. Kita kan tahunya sutra itu mengkilat, licin, dan sebagainya. Ternyata nggak seperti itu,” kata Arianto.
Ia mengeklaim bahwa produk sutra yang sustainable seperti ini hanya ada satu di Indonesia. Oleh karenanya, perlu upaya lebih dalam memperkenalkan produk-produk Kupu Sutera serta mengedukasi masyarakat. Apalagi, harga yang dibanderol cukup mahal, yaitu Rp 1,5 juta hingga Rp 3,5 juta.
Ini juga yang membuat Arianto tidak memasarkan produknya secara online karena akan lebih sulit dalam melakukan edukasi. Masyarakat yang tidak paham akan produk Kupu Sutera akan mengira produk-produk ini terlalu mahal.
BACA JUGA: Berita tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
editor: jatmiko