Tugumalang.id – Fenomena pelabelan “guru toxic” yang meluas di kalangan siswa dan orang tua belakangan ini menjadi perhatian serius tim peneliti dari Universitas Negeri Malang (UM).
Di tengah narasi publik yang kerap menstigmatisasi guru sebagai pihak yang merugikan, penelitian mendalam justru mengungkap sisi lain yang tak kalah penting: bagaimana persepsi negatif ini justru berkorelasi dengan peningkatan stres dan kelelahan emosional pada guru itu sendiri.
Tim peneliti yang diketuai oleh Prof. Dr. Arbin Janu Setiyowati, M.Pd, bersama dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UM, berhasil mengembangkan dan memvalidasi sebuah instrumen psikometrik inovatif berjudul Skala Persepsi Teacher Toxicity pada Disiplin Akademik serta Relevansinya dengan Teacher Burnout.
Baca Juga: Bangga! Universitas Negeri Malang Raih Top 10 Kampus Pendidikan Terbaik Asia 2026
Karya monumental ini telah resmi tercatat sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI), menjadikannya instrumen pertama di Indonesia yang secara spesifik mengukur persepsi toksisitas guru dalam konteks disiplin akademik.
Urgensi di Balik Riset
Rasional penelitian ini berangkat dari fenomena genting di dunia pendidikan. Pelabelan “guru toxic” sering kali muncul saat guru menerapkan tugas, aturan, dan disiplin akademik yang ketat.
Akibatnya, muncul potensi risiko konflik antara sekolah dan rumah, delegitimasi otoritas pedagogik guru di mata siswa, hingga tekanan psikologis yang luar biasa pada tenaga pendidik .
Dampaknya tidak main-main. Tekanan ini memicu meningkatnya stres kerja, emotional exhaustion, dan pada puncaknya, burnout atau kelelahan mental pada guru. Burnout pada guru bukan hanya masalah individu, tetapi ancaman serius bagi kualitas pendidikan secara keseluruhan.
Selama ini, Indonesia belum memiliki instrumen psikometrik yang secara khusus mengukur persepsi teacher toxicity yang muncul dalam konteks disiplin akademik—mulai dari pemberian tugas, penilaian, aturan kelas, konsekuensi pelanggaran, hingga pembentukan karakter berbasis tata tertib.
Baca Juga: Ada Universitas Negeri Malang, Daftar Kampus Pendidikan Terbaik di Indonesia Versi THE WUR by Subject 2026
Ketidaktersediaan instrumen ini menghambat pemetaan masalah secara akurat dan perumusan intervensi berbasis bukti. Kini, celah besar itu telah diisi oleh tim peneliti UM.
Kontribusi Nyata untuk SDGs dan Pendidikan Berkualitas
Penelitian ini tidak hanya penting bagi dunia psikologi pendidikan, tetapi juga memiliki korelasi kuat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Goal 4: Pendidikan Berkualitas.
Salah satu target utama SDG 4 adalah Target 4.c, yang menekankan peningkatan jumlah guru yang berkualitas secara substansial.
Kualitas guru tidak hanya diukur dari kompetensi pedagogik dan akademik, tetapi juga dari kesejahteraan psikologisnya. Guru yang mengalami burnout akibat tekanan persepsi negatif akan kesulitan memberikan layanan pendidikan yang optimal.
“Instrumen ini adalah langkah awal untuk menyelamatkan guru dari tekanan psikologis. Dengan instrumen ini, sekolah dan pembuat kebijakan bisa memetakan persepsi dan risiko burnout sejak dini, lalu merancang intervensi tepat sasaran,” ujar Prof. Dr. Arbin Janu Setiyowati, M.Pd, mewakili tim.
“Ini sejalan dengan semangat SDG 4 yang menginginkan pendidikan inklusif dan berkualitas, di mana guru sebagai garda terdepan harus berada dalam kondisi mental yang sehat,” imbuhnya.
Dengan adanya skala yang sudah teruji dan ber-HKI ini, diharapkan kementerian terkait, dinas pendidikan, hingga pihak sekolah dapat melakukan deteksi dini terhadap potensi konflik dan tekanan pada guru.
Langkah ini krusial untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat, baik bagi siswa maupun guru, demi terwujudnya ekosistem pendidikan Indonesia yang lebih bermartabat dan berkualitas.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis UM
Editor: Herlianto. A


























